Tuesday, November 13, 2007

Chitty Chitty Bang Bang




Jalan-jalan itu memang paling enak.
Baru menginjakkan kaki di Bandara saja, ada sensasi tersendiri yang menggetarkan syaraf kenikmatan.
Paling tidak, itulah yang dirasakan oleh Retno yang memang paling suka jalan-jalan. Apalagi kalau sudah tiba di tempat tujuan. Banyak sekali hal menyenangkan yang membuat kita lupa sejenak akan pekerjaan di kantor dan terutama Jakarta yang kemacetannya makin menggila belakangan ini.
Kami berdua berkunjung ke Singapura tanggal 2 November, tepat pada saat dimulainya opera Chitty Chitty Bang Bang.
“Nonton yuk.…,” kata Retno yang sebelumnya sangat terkesan dengan The Panthom of the Opera yang disaksikan juga di Singapura.
Terbayang pertunjukan drama musical anak-anak yang seru dan heboh. Waktu aku klik website, muncul keterangan sbb:
From the creators of the legendary ‘Bond 007’ movies comes the largest, most exciting and visually stunning musical ever to visit Singapore! After four magical years enchanting adults and children alike at The London Palladium, two years on Broadway and a record-breaking UK tour, Chitty Chitty Bang Bang is taking flight to the Esplanade Theatre. With a cast of over 70, including 10 dogs, sensational sets and stunning special effects this action-packed musical adventure is the story of the magical flying car Chitty Chitty Bang Bang. “Ada anjingnya lho,” kata Retno..
Iya sih. Pasti seru. Tapi, tumben, Lewa, kawan kita yang tinggal di Singapura, tidak berminat sama sekali. Mungkin dia merasa kalau sekarang sudah dewasa, tidak mau disebut anak-anak lagi dan malu kalau ketahuan ibunya nonton Chitty Chitty Bang Bang.
Retno berusaha membeli tiket secara online sebelum berangkat ke Singapura, tetapi tidak berhasil. Aku sendiri juga mencoba, tetapi website pemesanan tiket tidak dapat muncul di layar internet.
Sayang sekali. Rencana untuk nonton pertunjukan itu gagal total. Urusan berobat di NUH baru selesai sekitar pukul 17:00 dan setelah antri sekian lama, kami baru mendapatkan taksi dan tiba di Royal Peacok hotel sejam kemudian.
Sebetulnya masih ada waktu karena pertunjukan mulai pukul 20:00. Tapi kita tak ingin berspekulasi datang tanpa tiket karena kita tidak tahu apakah masih tersedia tiket yang paling murah. Semurah-murahnya harga tiket, masih mahal juga, yaitu S$40. Kalau yang VIP harganya S$140, sedikit lebih mahal dari ongkos naik pesawat Valuair ke Jakarta.
Akhirnya setelah beristirahat sebentar di hotel, kami berjalan-jalan di Chinatown. Beberapa lorong penuh dengan kios souvenir dan di bagian lain berderet-deret tempat makan. Bagi yang ingin membeli oleh-oleh, di sinilah tempatnya.
Ada berbagai barang cindera mata yang mengingatkan orang akan Singapura. Yang paling murah adalah gantungan kunci seharga S$1 - $2. Hiasan kulkas berbentuk magnet atau aksesoris seperti anting-anting atau kalung banyak juga yang dijual dengan harga $2. Selain itu ada kaos, selendang, tas, dompet, gelang, cincin dan mata kalung dari batu giok dan barang-barang yang tampak antik (entah benar-benar antik atau aspal).
Ternyata di situ ada pasar malam. Sesuai dengan namanya, tempat ini lebih ramai pada malam hari daripada siang hari ketika kami lewati pada hari berikutnya. Turis berkulit putih dan berambut pirang banyak bersliweran di sana dan tampak sangat menikmati suasana yang ramai namun nyaman. Bahkan ada yang beriring-iringan naik becak terbuka melewati lorong-lorong sempit dan menikmati pesona pecinan dengan penuh keceriaan.
Malam yang meriah dan sangat menyenangkan. Asyik. Mudah-mudahan ini dapat sedikit mengobati rasa kecewa Retno yang tak sempat menonton Chitty Chitty Bang Bang.

1 comment:

rita amd said...

jangan sedih mbak Ret, ntar kita nonton konser mamamia stardut yah.. trus nyanyi bareng a rafik lagunya cikicikibumbum alalalabumbum...hehehe