Thursday, November 19, 2009

Kejamnya Dunia

Eh, sebetulnya dunia nggak kejam. Yang kejam itu orang-orangnya. Dan orang kejam ada di mana-mana. Di Jakarta, di Bandung, di Texas….
Texas? Ya. Dan ceritanya memang bikin kita semua kesel. Mungkin juga bukan cuma kesel, tapi keseeeeeeeellllll banget, bikin kita pingin nyekek orang itu.
Orang jahat itu pura-pura kena kanker payudara dan berhasil mengumpulkan dana sebesar US$10.000 yang lantas dipakai untuk…. memperbesar payudaranya.
Perempuan bernama Trista Joy Lathern, 24, itu membotaki rambutnya supaya kelihatan seperti pasien yang tengah menjalani kemoterapi.
Seperti apa sih tampangnya? Ini nih.. kayak gini…
Tindakan busuknya terungkap setelah dokter yang melakukan operasi plastik curiga karena ia tak pernah menyebut-nyebut soal kemoterapi atau kanker payudara.
Tukang tipu memang banyak di sekeliling kita. Aku sendiri pernah dibohongi oleh salesman yang dengan manis menjanjikan bonus obat melalui program “buy three get one free”. Setelah membeli obat 3x, bonus tak pernah diberikan. Belakangan baru ketahuan kalau salesman itu memang bermasalah dan bahkan dipecat dari kantornya.
Pernah juga ditipu suster ketika akan menjalani kemoterapi di RS Dharmais. Suster itu mengatakan bahwa obat yang aku beli dari Yayasan Kanker Indonesia kurang dan aku harus mengeluarkan uang ekstra untuk pembelian obat fiktif.
Tapi itu bukan apa-apa dibandingkan pengalaman Alvita, seorang penyintas kanker berusia 25 tahun yang berhasil menjadi dokter dan kini tengah mengikuti program spesialis kedokteran nuklir di Bandung. Vita yang sedang menyelesaikan buku tentang perjuangannya melawan kanker pernah ditipu habis-habisan oleh seorang perempuan. Ia mengaku terkena kanker, datang dari luar kota dan akan menjalani pengobatan tetapi tak punya uang. Vita menampungnya di tempat kosnya dan memberinya uang untuk berobat. Ternyata ia malahan membawa kabur semua barang berharga Vita.
Meskipun demikian, Vita tidak berubah. Ia tetap siap membantu orang-orang yang memerlukan pertolongan.
Memang banyak orang jahat di sekeliling kita. Tapi banyak juga lho yang baik… Bahkan jumlah orang baik lebih banyak daripada orang jahat. Aku bersyukur memiliki banyak teman yang baik. Thank you… Matur nuwun…. Terima kasih. teman-teman atas dukungannya.

Thursday, November 12, 2009

Ooooobat

Mau kaya? Juallah obat.
Sebetulnya aku juga ga tau sih berapa untungnya orang jualan obat. Tapi kalo menilik banyaknya apotik yang beterbaran di sekeliling rumahku, ya aku mengambil kesimpulan sendiri bahwa itu adalah bisnis yang menguntungkan.
Dalam jarak beberapa puluh meter saja terdapat 3 apotik, dua di antaranya saling berseberangan. Yang satunya lagi hanya beda beberapa rumah di belakang.
Kalau mau berjalan sedikit lebih jauh menyusuri jalan utama di kompleks perumahan ini, maka di kiri dan kanan jalan yang panjangnya beberapa kilometer itu kita juga akan melihat sejumlah apotik.
Kayaknya hanya usaha restoran dan laundry saja yang mengungguli keberadaan apotik ini.
Kalau malas ke luar rumah, obat juga dapat dipesan melalui telepon dan dikirim sampai tujuan. Apotik yang buka 24 jam juga ada.
Harga obat tidak selalu sama. Dan anehnya, banyak juga yang lebih tinggi dari HET (Harga Eceran Tertinggi) yang ditentukan pemerintah. Tapi apotik bukan pasar yang barang dagangannya bisa ditawar-tawar dan biasanya konsumen, biarpun terkadang sambil ngomel, tetap membayar sesuai dengan jumlah yang ditentukan. . .
Meskipun di sekitar rumah banyak apotik betebaran, tetapi tak satupun yang menjual obat kanker. Memang obat ini konsumennya terbatas sehingga hanya apotik tertentu yang menjualnya.
Kalau ingin membeli obat kanker dengan harga miring, sebaiknya ke Yayasan Kanker Indonesia di Jl. Sam Ratulangi, Menteng, Jakarta Pusat. Sebelumnya, telepon dahulu (021- 3192 7464) untuk mengecek ketersediaannya.
Seperti yang sudah pernah aku ceritakan sebelumnya, setiap bulan aku manjalani suntikan Zoladex. Aku pernah diiming-imingi oleh si “Amin”, seorang salesman dari produsen obat tsb yang pertama kali menyapaku ketika aku membeli obat di YKI. Ia menjanjikan bahwa setelah membeli 3 dus yang masing-masing berisi 1 botol cairan 3.8 ml, maka aku akan mendapatkan gratis 1 dus. Ternyata janji itu palsu.
“Oh, dia itu bermasalah, mbak. Sudah dipecat dari kantornya,” kata seorang mbak di YKI ketika aku mengadukan soal si Amin itu.
Awal bulan ini aku menghubungi produsen obat tsb. dan mendapatkan referensi nama salesman lain, eh, salesgirl, eh medical representative (ini istilah kerennya). Singkat cerita, si mbak itu lalu menghubungi aku. Harga obat yang ditawarkan adalah Rp 1.385.000, sedangkan harga YKI adalah Rp 1.246.700. Masih aja mahal yach… Sigh.
Waktu aku menanyakan apakah ada program bonus, ia mengiyakan.
“Beli dua gratis satu,” katanya.
Hah?
Aku hampir tak percaya. Bener ga nih. Kok rasanya “too good to be true”.
Setelah berkonsultasi dengan bu dokter, akhirnya aku sepakat untuk membeli 2 dus sekaligus agar mendapakan 1 bonus gratis.
Aku bertanya apakah obat akan diantar ke kantor atau ke rumah, dan si mbak memilih mengantar ke rumah.
Pada pagi hari yang ditentukan… “ting tong…” bel berbunyi. Kirain si mbak yang datang. Ternyata mas-mas yang naik motor dengan banyak bawaan. Ia menyerahkan obat dan bon. Aku lihat bonnya dikeluarkan oleh apotik yang letaknya tidak jauh dari rumahku, tapi di luar kompleks.
Sampai sekarang, aku masih belum paham, bagaimana sih liku-liku penjualan obat itu. Bagaimana bisa beli 2 gratis 1? Dengan perhitungan 1 bonus gratis, maka harga obat itu menjadi jauh lebih rendah. Nah, berapa sebetulnya untung dari penjualan obat? Entahlah (sirik mode: ON)

Wednesday, November 4, 2009

Setetes embun di gurun Sahara

“Sudah dua minggu nggak update ayomari, kenapa?” seorang kawan bertanya melalui YM.
“Siang Sima, apa kabar? Lama ga senam. Senam lagi yuk, dicariin sama teman2,” begitu bunyi SMS yang aku terima minggu lalu.
Perhatian, sekecil apa pun, sungguh merupakan hal yang menyejukkan. Bagaikan setetes embun di gurun Sahara. He..he..he.. sok puitis …. padahal, nyambung nggak, ya?
Yang jelas, siapa sih orang yang nggak suka diperhatiin? Semua orang pasti senang kalo ada yg kasih perhatian, apa pun bentuknya. Coba senyum sama tukang bakso yang lewat depan rumah. Pasti si abang senang, meskipun kita nggak beli... dan gigi kita tonggos alias tuwan sinyo (untune kedawan, gusine menyonyo). Atau tanyakan ke satpam yang baru menjadi bapak, gimana kabar anaknya. Tentu dia senang sekali.
Nah, apalagi kalau yang dikasih perhatian itu orang yang lagi mengalami kesusahan, entah abis diomelin si bos karena kerjaan salah mlulu, lagi dikejar2 debt collector karena lama nunggak tagihan kartu kredit, lagi sakit gigi, sakit panu atau sakit lainnya, termasuk kanker.
Perhatian tak segera menyelesaikan masalah. Kemarahan si bos tak akan otomatis berkurang, utang tak langsung terbayar dan penyakit tetap bercokol. Tapi paling tidak perhatian itu bisa menumbuhkan semangat.
Semangat merupakan hal yang sangat diperlukan bagi semua orang, terlebih lagi, penyintas kanker yang harus berjuang untuk terus dapat menikmati segarnya tiupan angin dan hangatnya sinar matahari pagi, untuk terus dapat beraktivitas dan produktif, untuk terus dapat tersenyum dan tertawa gembira.
Tanpa semangat, hidup akan suram dan hampa.
Semangat jugalah yang aku perlukan ketika kondisi kesehatan menurun. Tak jelas apa sebabnya, beberapa hari belakangan ini badan terasa rapuh dan lemas. Kadang-kadang rasanya kok seperti sudah 80 tahun mskipun belum ompong.
Sejak awal bulan Oktober aku berhenti senam karena kaki sakit, padahal olah raga itu perlu. Bahkan wajib hukumnya jika kita ingin sehat. Seharusnya aku bisa berolah raga sendiri sebisanya di rumah, tetapi malas….
Hari Senin (Nov.2, 2009) sebetulnya aku berniat ikut senam. Bukan senam aerobik yang banyak jingkrak-jingkraknya itu melainkan senam ringan saja. Tapi kenapa ya, bangun tidur badan rasanya tak ada tenaga. Ya sudah, aku di rumah saja.
Eh, siangnya aku mendapat ajakan senam melalui SMS. Hanya beberapa kata, tapi efeknya cukup besar. Ok. Aku bertekad untuk berusaha kembali rajin berolah raga.
Hari Selasa, aku penuhi janjiku. Kebetulan badanku juga tidak selemas hari sebelumnya.
Jam 6 pagi aku sudah siap di lapangan parkir Carrefour dekat rumah, tempat senam diadakan. Tunggu punya tunggu… kegiatannya tak juga dimulai gara-gara listrik padam …. Akhirnya senam dilakukan tanpa musik… Kurang seru ya…. apalagi karena peserta aktif yang suaranya paling keras sedang absen karena jatuh pingsan dari panggung ketika meramaikan suatu acara.
Meski tanpa musik, tak masalah. Yang penting bisa olah raga. Tentu saja aku juga tahu diri, kalau ada gerakan yang terasa sulit, aku tidak mengikutinya.
Badanku terasa lebih enteng. Tapi anehnya, di siang hari badan pegal setengah mati. Dalam posisi duduk, bagian pinggang dan pinggul terasa sangat tidak nyaman. Karena itu, di kantor aku bolak balik ke toilet sekedar untuk menggerakkan badan agar tak terlalu pegal.
Aku mengeluh pada suhu chi, yang menanggapi dengan mengirimkan energi untuk menghilangkan rasa pegal itu. Sejenak, rasa pegal agak berkurang. Tak jelas apakah ini karena sugesti atau betul2 berkurang sakitnya. Yang jelas, tak lama kemudian rasa pegal kembali menyerang.
Sampai di rumah, aku terpaksa minum painkiller sebelum tidur.
Tadi pagi badan masih sedikit kurang enak. Tapi aku bisa ikut senam. Setelah sarapan, aku putuskan untuk minum obat lagi sebagai pencegahan rasa sakit.
Sekarang sudah malam dan badanku terasa cukup enak. Tidak sakit, tidak pegal. Eh, agak pegal di pinggang, tapi hanya sedikiiiit.
Mudah-mudahan besok pagi dan seterusnya aku bisa terbebas dari rasa sakit dan yang tak kalah pentingnya adalah bebas dari pil penghilang rasa sakit.
Semoga saja harapan itu segera menjadi kenyaataan dengan dukungan doa, kegiatan olahraga yang rutin, terapi chi yang tengah aku jalani dan obat yang tepat sesuai saran dokter. Dan … tentunya juga semangat yang tak boleh pudar serta pikiran yang positif dan jauh dari stres.

Tuesday, October 20, 2009

Hebat

Benar-benar hebat. Luar biasa. Bukan sulap bukan sihir. Bagian tubuhku yang telah mati rasa selama bertahun-tahun akibat mastektomi tiba-tiba hidup rasa.
Banyak penyintas kanker payudara yang mengalami mati rasa di daerah dekat ketiak setelah menjalani mastektomi alias operasi pengangkatan payudara.
Operasi itu aku jalani pada bulan Desember 2004 dan masih mengalami mati rasa hingga minggu lalu. Tak terlalu mengganggu sih, jadi aku tak begitu peduli.
Tapi ada kejadian luar biasa pada suatu sore di hari Jumat, tanggal 16 Oktober 2009, ketika aku menjalani terapi chi alias tenaga dalam karena kakiku tambah sakit kalau berjalan.
Aku nggak bilang pada Pak Suhu mengenai bagian tubuh yang mati rasa itu. Tapi ia bisa menebaknya.
Dari jarak satu meter, ia menggerak-gerakkan ke dua tangannya. Hanya sekitar satu menit.
“Gimana rasanya sekarang?” ia bertanya.
Aku pegang bagian dekat ketiak sebelah kanan. Dan alangkah takjubnya diriku ini. Sudah tidak mati rasa lagi. Wowww. Sumpah. Ini sungguh luar biasa.
Bagaimana dengan kakiku?
Soal sakit ini memang aneh. Tak menentu. Kayak harga BBM yang dulu sempat naik turun…Naik turun kayak ingus yang disayang-sayang… Iiiih sori… jorok ya…
Dulu sih sakitnya ga terlalu terasa. Sejak akhir bulan lalu, baru deh nyut… nyut.. nyut… Kaki kananku sakit kalau jalan. Bahkan kalau mau duduk atau kalau bangkit dari duduk.
Penyebabnya adalah kanker yang sudah mengerogoti tulang bagian bawah tubuh dan osetoarthritis “ringan” di lutut, yang disimpulkan melalui hasil rontgen pada hari Kamis, 8 Oktober 2009.
Dokter memberiku obat anti nyeri Moxam dalam dosis kecil, hanya ½ tablet, untuk diminum 2x sehari. Tapi nggak mempan. Pada hari berikutnya, tambah pain killer lain, yaitu Zaldiar ½-1 tablet.
Hari Minggu kondisi kakiku enak sekali. Hanya sakit sedikit.
Tapi hari Senin, rasa sakit kembali menyengat. Selasa… Rabu… juga tambah sakit sampai-sampai tidur tak nyenyak karena kalau kaki kanan digerakkan tidak dengan hati-hati, terasa ngilu di tulang. Padahal kalau tidur aku suka bolak balik ke kiri dan ke kanan…. .
Lalu aku ingat cerita temanku yang terkena myom dan kanker leher rahim dan menjalani terapi chi. Ia baru berobat satu kali, dan katanya cocok.
Tak ada salahnya mencoba, kan?
Mula-mula aku telepon suhu chi itu. Tak diangkat. Lalu aku SMS. Setelah sekian jam, baru ada balasan. Ia menyuruhku datang hari Jumat, 16 Oktober 2009, sore bersamaan dengan waktu yang dijadwalkan untuk temanku itu.
Sore itu ternyata macet gila-gilaan di jalur lambat Sudirman. Aku yang memang “sense of direction”-nya buruk, sempat nyasar pula. Sekitar sejam kemudian, barulah aku sampai di Jl. Suryo yang merupakan terusan Jl. Senopati, terasa mobil sedikit bergoyang selama beberapa detik, padahal kelihatannya nggak ada angin kencang. Di kiri kananku juga tak tampak truk besar yang melaju. Kalaupun ada, juga nggak bisa ngebut, kan lagi macet... Mungkin goyangan itu akibat perasaanku yang kurang enak karena terlambat berobat... Eh, tiba2 ada kabar di radio mengenai gempa di Ujung Kulon.
Terlambanya memang nggak kira-kira. Lebih dari satu jam.
Tempat praktik yang kutuju sangat sederhana. Sang suhu juga jauh dari bayangan kita akan orang yang pendiam dan serius.
Ia senang ngobrol dan sering tertawa besar. Perawakannya besar dan rambutnya agak gondrong. Bajunya biasa saja, kemeja dan celana panjang, bukan jubah seperti suhu yang kita lihat di film-film kung fu atau silat.
Ia lalu memeriksa lututku dan sambil menekan bagian yang sakit, ia menyalurkan tenaga dalam sementara aku berdoa.
Hal yang sama dilakukan pada bagian pangkal paha.
“Nah, sekarang sudah bisa main bola,” katanya berseloroh.
Aku berdiri dan duduk kembali tanpa rasa sakit. Lalu berjalan keliling ruangan. Rasa nyeri sudah jauh berkurang. Kaki kanan sekarang sudah dapat digerakkan ke samping dengan mudah. Juga dapat digerakkan ke atas, meskipun masih agak sulit.
“Wah, Sima sudah bisa lompat-lompat,” komentar temanku kemudian.
Hiperbol. Soalnya kalau melompat kan harus menggunakan dua kaki. Aku belum bisa. Berdiri tegak di atas kaki kanan saja juga masih sakit. Padahal dulu waktu latihan yoga (yang sekarang sudah tidak aku jalani lagi), aku sudah bisa melakukannya dengan kedua tangan di atas kepala selama beberapa saat.
Tapi memang kondisi kakiku jauh lebih baik. Hanya saja begitu keluar dari ruangan, mulai terasa agak sakit di pangkal paha meskipun kadarnya telah berkurang dibandingkan dengan sebelumnya.
Menurut Suhu, sakit di lutut itu juga disebabkan oleh kanker dan ia akan berusaha untuk “membakar” sel-sel kanker dengan chi. Tetapi ia juga mengakui bahwa itu bukan hal yang mudah karena penyebarannya sudah cukup banyak. Pengobatan ini juga akan memakan waktu agak lama dan ia sendiri tak menjanjikan kesembuhan.
“Kita lihat saja nanti,” katanya.
Aku lalu teringat seseorang yang belum lama ini menelponku tentang adiknya yang terkena kanker tulang sehingga dokter menganjurkannya untuk diamputasi. Ketika aku menceriterakan hal itu pada Suhu dengan harapan agar ia bersedia mengobatinya, ia menolak dengan halus karena pasiennya sudah terlalu banyak.
Sebelum pulang, aku menanyakan mengenai biaya pengobatan dan konsultasi, termasuk ngobrol, yang totalnya memakan waktu lebih dari satu setengah jam. .
“Terserah saja,” katanya sambil menunjuk ke keranjang bambu di sudut ruangan.