Monday, July 6, 2009

Buy 3 get 1 free

Bukan hanya sepatu dan baju yang bisa didiskon. Obat juga, termasuk Zoladex yang harganya selangit itu.
Sayangnya, berbeda dengan obral sepatu dan baju di mal-mal yang gencar disampaikan lewat iklan besar di media masa, info tentang diskon obat tak pernah diumumkan secara terbuka. Kita harus rajin bertanya ke dokter.
Aku beruntung mendapat SMS dari salesman langgananku.

"Buy three get one free," begitu katanya beberapa hari yang lalu.
Tiap bulan aku disuntik Zoladex sebagai terapi hormon untuk memblokir estrogen yang diyakini merangsang pertumbuhan sel-sel kanker.
Info lebih lanjut tentang Zoladex ada di http://www.cancernet.co.uk/zoladex.htm
Jika berminat untuk mengikuti program buy three get one free, hubungi aku lewat email.

Gudeg dan Capres

Kena kanker bukan berarti harus mengurung diri dan merenungi nasib. Kita masih bisa melakukan banyak kegiatan yang menyenangkan. Termasuk jalan-jalan.
Belum lama ini aku ke Jogja dan Solo untuk bertemu beberapa teman lama.
“Ntar ketemuan di mBarek ya, sambil makan gudeg,” aku email temenku, Rio, memintanya menemani makan di salah satu warung gudeg yang terkenal enak.
“Gudeg actually is not my best choice tapi tak apalah nemenim teman yang pasti sudah ngempet lamaaaaa banget tuh hampir ngeces saking penginnya makan gudeg Jogja,” jawabnya sambil ngeledeg.
Dulu, waktu kuliah di Jogja, aku ga hobi2 amat makan gudeg, tapi ga tau ya, belakangan ini rasanya sering kepingin makan gudeg. Sayangnya susah nyari gudeg enak di Jakarta.
You don’t know what you get until you lose it. Begitu kata2 yang tertulis dalam pin yang aku beli pada jaman dahulu kala. Betul juga ya. Bukan hanya soal gudeg aja. Sekarang ini masih banyak lho orang yang kena penyakit AIDS = Aku Ingin Dekat Soeharto. Kalo Soeharto jadi capres, pasti banyak yang ingin memilihnya.
Soeharto dulu sukses menyuruh orang ikut KB. Ia juga sukses mendorong penduduk dari Sabang sampai Merauke untuk makan nasi. Orang yang dulu terbiasa makan sagu, jagung dan singkong, jadi doyan nasi dan menjadikannya makanan pokok mereka. Padi ditanam di mana2 untuk memenuhi swasembada pangan. Sukses besar, sampai akhirnya produksi padi menurun karena kualitas tanah berkurang akibat pemakaian pupuk kimia dan pestisida yang merusak lingkungan.
Barulah orang sadar kalau ternyata diversivikasi makanan pokok itu penting juga.
Soeharto kan lahirnya ga jauh dari kota Jogja, kenapa ya waktu itu dia nggak nyuruh orang2 makan gudeg? Karena itu aku bukan penggemar Soeharto.
Di Jogja, aku mampir ke asrama tempat aku tinggal selama 4 tahun. Ya ampun.. sekarang berbeda sekali keadaaanya. Dulu bersih dan rapi. Sekarang agak kurang terawat.
Ruang tamu dipenuhi meja dan kursi. Rupanya fungsinya sudah berubah, merangkap sebagai ruang makan dan ruang belajar. Di halaman yang terletak di depan kamar2 sekarang terdapat tempat mencuci piring dan dapur ala kadarnya.
Ruangan besar yang dulu berfungsi sebagai ruang makan dan ruang belajar kini disewakan untuk umum.Tampaknya asrama ini kekurangan dana. Di jamanku dulu, kabarnya ada bantuan dari luar, tapi sekarang nggak lagi. Karena itu asrama ini perlu mencari sumber dana sendiri agar tak terlalu membebani para penghuninya.
Kasus ini berbeda dengan universitas2 negeri yang serta merta menaikkan uang pendaftaran dan uang kuliah begitu pemerintah menghentikan subsidinya.
Capres yang ada harus dapat menghentikan komersialisasi pendidikan dan mendorong lembaga pendidikan untuk menghasilkan SDM yang tangguh, yang berprestasi, termasuk mampu membuat gudeg yang enak.
Dari Jogja, perjalanan berlanjut ke Solo. Aku memilih naik Pramex yang ternyata tak ada hubungannya dengan obat sakit kepala. Ini adalah Prambanan Ekspres, kereta api dengan waktu tempuh 1 jam untuk rute Jogja-Solo. Kalau naik bis atau travel (kenapa namanya travel?) bisa makan waktu 2 jam.
Tapi oh, baru sadar kalo ini ternyata KA ekonomi yang tempat duduknya terbatas. Aduh, kalo gitu, susah dong dapat tempat duduk, apalagi ini musim liburan. Lemes deh. Terbayang beratnya berdesak-desakan di kereta dengan ransel tersandang di punggung dan tentengan kantong plastik berisi 2 dos brownies dari Jakarta dan beberapa dos bakpia pathuk buatan Jogja untuk oleh2.
“Ntar kan ada orang yg ngasih tempat duduk...,” kata Anggi, temanku dengan nada menghibur.
Pasrah deh. Dengan menggenggam karcis seharga Rp 7 ribu, aku masuk ke dalam kereta dengan memasang muka memelas. Gerbong lumayan penuh meskipun tak sampai berdesak-desakan seperti sardin, tapi jelas tak ada tempat duduk yang tersisa. Beberapa orang menggelar koran bekas dan duduk dengan santai di lantai kereta.
Tiba-tiba seorang lelaki muda berdiri dari tempat duduknya dan menawarkannya kepadaku sambil tersenyum. Pasti ia tergerak oleh mimik muka melankolisku.
Tempat duduk yang seharusnya untuk dua orang itu telah diisi oleh dua perempuan belia yang duduk berdempetan, menyisakan sedikit ruang di ujung bangku.
Meski tak dapat duduk dengan sempurna dan pantat terasa kurang nyaman beradu dengan bangku yang keras, aku sangat berterima kasih kepada si Mas yang baik hati itu.
Sementara orang berebut kursi, ia rela menyerahkannya tanpa mengharapkan imbalan apa2. Ia memiliki rasa kemanusiaan yang tinggi.
Siapa pun yang memimpin negeri ini, ia harus memiliki karakter seperti itu. And he must be sweet.... like gudeg.

Versi bahasa Inggris dapat dibaca di sini

Friday, July 3, 2009

Berjuang untuk baik-baik saja

Lama sekali tak ada berita. Ada apa? Pasti begitu yang terbersit di benak teman-teman semua.
Yach.. memang sudah hampir 2 bulan blog ini mati suri. Keterlaluan...!! Kalo namanya orang kerja, pasti udah dipecat.. hu.. hu...
Ada beberapa hal. Salah satunya adalah alasan yang paling klasik, yaitu sibuk. Huh.. huh... Alasan lainnya adalah, tiba-tiba saja hilang mood untuk menulis.
Dalam dunia tulis menulis ada yang disebut writer’s blog, eh salah, maksudnya writer’s block. Dalam kondisi seperti ini penulis bingung mau nulis apa.
Tapi kondisiku berbeda. Yang ini namanya adalah writer’s glog. Glog boleh diartikan gelo, tapi gelo-nya Jawa Tengah ya, bukan gelo-nya Jawa Barat. Soalnya dalam bahasa Sunda gelo artinya gila, sedangkan dalam bahasa Jawa, gelo artinya .. hmm apa ya yang pas... kecewa?. Karena lama tidak menulis, maka penulis menjadi kecewa karena mungkin telah membuat orang kecewa.
Maaf ya.... kalau ada yang kecewa (hehehehee... ge-er... )
Kalau kesehatanku sendiri, baik-baik saja. Baik dalam arti tampaknya tidak memburuk. Masih dapat beraktivitas seperti biasa. Malahan kemarin ini sempat jalan-jalan ke Jogja dan Jateng dan bertemu teman-teman lama.
Kita ngobrol ngalor ngidul. Dan tersebarlah berita di antara teman-teman bahwa aku kena kanker.
Kata kanker memang masih membuat orang merinding. Seorang teman sengaja tak mau menyebut kata kanker, tapi CA.
Beberapa hari kemudian, aku mendapat telepon dari seorang teman yang juga sudah lamaaaa sekali tak berjumpa.
“Apa kabar? Katanya sakit ya?”
“Iya, tapi ga papa kok.”
“Kamu masih kerja?”
“Masih”
“Kamu baik2 aja?”
“Iya, baik2 aja. Trims ya.”
“Oh ya syukurlah.”
Setelah ia mengetahui bahwa aku baik-baik saja, maka pembicaraanpun disudahi.
Salah satu faktor penentu untuk bisa baik-baik saja adalah diri kita sendiri. Kita harus berjuang untuk berada dalam kondisi baik-baik saja. Hilangkan segala pikiran yang mengganggu. Jangan banyak pikiran. Usahakan sedapat mungkin santai saja dalam menghadapi hidup ini.
Pasti banyak yang protes. Gimana mau santai kalo kena kanker? Ya sih.. memang nggak santai-santai amat. Tetap waspada. Tapi maksudnya, jangan terlalu dipikirkan. Berserahlah.
Selain itu, untuk bisa baik-baik saja diperlukan perjuangan. Kita harus berjuang untuk disiplin.
Salah satunya adalah perjuangan untuk selalu minum jus dan banyak makan sayur-sayuran dan buah-buahan.
Hari ini aku absen tidak minum jus. Dan baru makan setengah buah apel. (Yang setengahnya masih ada tuh dalam tas, nanti aku akan makan dalam perjalanan pulang ke rumah- sekarang aku masih di kantor). Soalnya sebelum aku nge-jus, mendadak ada undangan dari teman yang baru datang dari luar kota untuk makan bakmi GM di Pondok Indah Mall.
Biarpun tak ngejus, aku usahakan mencari alternatifnya dengan minum segelas air jeruk murni. Lumayan kan...
Perjuangan lain adalah berusaha untuk rajin berolah-raga. Sudah hampir 2 bulan ini aku sering ikut senam pagi di halaman parkir Carrefour. Senam diadakan setiap pagi dari hari Senin sampai Kamis dan hari Sabtu. Peserta senam jumlahnya tak menentu, kadang-kadang beberapa belas, kadang dua-puluhan. Kalau hari Sabtu, jumlahnya melonjak pesat.
Senamnya bermacam-macam, mulai dari senam pernafasan hingga senam disko dan chi-kung. Bayarnya murah lho, hanya Rp 15.000 per bulan. Ikutan yuuk?
Manfaatnya terasa. Badan lebih enak.
Oh ya, kadang-kadang badanku terasa pegal linu. Entah kenapa. Yang terakhir ini, pegal-pegal menyerang kaki, jadi kalau berjalan agak sedikit terseok. Tapi tak parah. Masih dapat berjalan ke sana ke mari, naik turun tangga, hanya saja tak bisa berjalan cepat-cepat, lari-lari dan lompat-lompat...
Emangnya kodok....

Thursday, May 7, 2009

Cancer survivors show us how to party

They laughed, they sang, they clapped their hands and they danced. They are cancer survivors.
"Come on friends, don't be sad. Face cancer with courage. Crying is useless, we'd better have fun."
This cheerful song filled the hall at the Dharmais Cancer Hospital in West Jakarta. "Don't worry, be happy" was the theme of the cancer survivors gathering organized by the Cancer Information and Support Club (CISC), celebrating its sixth anniversary that day.
Many may frown in disbelief, and question how people can be happy if they have cancer. On hearing the word "cancer", often people shy away, with images of skinny, pale and depressed patients living in agony.
"I heard you have cancer," a new friend said to me after morning exercise the other day.
As I nodded, she said, "But you have red cheeks. You look healthy."
Like this woman, a lot of people do not know that many cancer survivors can be happy and productive as they are. They can lead quality lives for years and even decades after their diagnosis.
High spirits make you live longer. This is true not only for cancer survivors, but for everyone. On the other hand, anxiety and stress will bring you closer to your deathbed.
Unfortunately, it is easy for cancer survivors to be distressed, financially and emotionally. The drugs are quite expensive and there is no guarantee patients will be cured. Billions of dollars have been spent on cancer research, and much more is still needed. Many factors that trigger the spread of cancer cells are known, but what really causes the disease remains a mystery.
If you have a history of cancer in the family - as in my case - you are more likely to get it. An unhealthy lifestyle, smoking, drinking too much alcohol, not doing enough exercise, and stress are all aggravating factors.
After surgery, chemotherapy or radiation, patients are sometimes declared cancer free, because no cancer cells can be detected in their bodies. This is called NED (no existing disease). However, cancer cells may remain in the body and spread if the immune system is in a weak state.
There are many factors that can adversely affect cancer survivors. The higher one's stress levels, the bigger the possibility for cancer to recur because stress may impair the immune system.
Stress reduction is believed to play an important role in preventing cancer metastases or the condition in which cancer takes root.
One of the best medicines to cope with stress is support from family and friends. They need someone to talk to, someone who understands their condition and someone that they can trust.
Instead of locking themselves in a room, denying their disease, crying and feeling sorry about their condition, blaming God, themselves or others, cancer survivors should explore as many avenues as they can to help themselves improve their quality of life.
Cancer survivors should have fun.
"Let's cheer up. We should live our life in high spirits. This is really important for us," says Yuniko Deviana, a cancer survivor and one of CISC's founders.
After she was diagnosed with breast cancer in 2002, Yuniko had a mastectomy and chemotherapy. Now the author of the book I Have Cancer, It Doesn't Have Me lives happily with cancer.
According to WHO figures, cancer kills more than 20,000 people around the globe every day, and is expected to become the world's top killer in 2010, overtaking heart disease.
Breast cancer is the most common form of cancer in women. Every year, more than 1 million cases are diagnosed around the world.
The sooner cancer is detected, the better, because it is easier to fight in its early stages. Breast cancer can be detected early through regular self-examinations or mammography.
If it is detected at a late stage, treatment is more difficult and costly. In some cases, doctors will say patients will survive for only a few months - although in many cases these few months will become a few years.
This must be shocking, saddening news. But sooner or later, all of us will die, no matter how young or how old we are, and no matter what the cause is, be it dengue fever, heart attack or H1N1 flu.
It is important for us to be realistic and maintain a positive attitude. Find what brings joy to your life and bring joy to others, like the cancer survivors group at CISC do.
During the recent CISC gathering, about 300 participants, including the survivors' friends and families, were invited to stand up, sing and dance together. And they were showered with many gifts and door prizes.
CISC also inaugurated Rumah Singgah, a shelter opposite the Dharmais hospital. The shelter, which has room for eight patients, is a low-cost facility for people who need a place to stay during their treatments at the hospital. It is not free, but patients are only required to pay Rp 10,000 (less than US$1) per day.
These cancer survivors empower themselves by sharing information and their feelings - tears and laughter - and support each other. Their positive attitude and strong commitment to helping others has apparently worked well, not only for the people they help, but also for themselves.
No wonder they look healthy and happy.
(T. Sima Gunawan , The Jakarta Post , Jakarta Wed, 05/06/2009 9:35 AM Body & Soul, photo- courtesy of Siti Aniroh)