Saturday, January 3, 2009

Kematian Menjelang Natal

Natalku kali ini muram. Aku tidak ke gereja, tetapi ke kuburan. Keponakanku, Yoseph, meninggal di usia 17 tahun karena kecelakaan dalam perjalanan dari Solo ke rumah orang tuanya di Salatiga dan dimakamkan pada tanggal 25 Desember 2008.
Kepergiannya sungguh mengejutkan. Malam itu, kurang dari satu jam sebelumnya, ia masih sempat berkomunikasi melalui telepon genggam dengan ayahnya dan kakak satu-satunya yang baru saja tiba dari Jakarta. Mereka menunggu Yoseph di sebuah warung wedang ronde, tapi ia tak pernah muncul.
Aku berangkat ke Salatiga hari Senin, 22 Desember 2008, menumpang mobil kakak Yoseph beserta dua kerabat lain. Begitu tiba di Salatiga, aku turun di rumah orang tuaku, tempat aku menginap selama liburan ini. Ketika itu sekitar pukul 21:30.
Lewat tengah malam, HP-ku berdering. Tapi rasa kantuk membuatku mengabaikannya. Sejam kemudian bunyi dering terdengar lagi. Kali ini aku angkat. Kakak lelakiku sambil berurai air mata mengabarkan bahwa anak bungsunya mengalami kecelakaan dan telah tiada.
Hari-hari berikutnya penuh rasa pedih dan pilu serta isak tangis. Tamu datang silih berganti. Banyak juga yang mengirim karangan bunga– baik bunga asli yang memang diserahkan bagi keluarga yang dirundung duka maupun rangkaian bunga kertas yang hanya disewakan dan kemudian diambil kembali oleh toko bunga setelah jenazah diberangkatkan ke pemakaman.
Hari Kamis, keharuan menyelimuti kebaktian pelepasan jenazah menuju pamakaman di Gremeng, Muntilan. Semua masih muram. Tapi suasana sudah lebih terkendali. Orang tua Yoseph telah dapat menerima kenyataan bahwa anak mereka yang tercinta telah tiada. Sebagai orang beriman mereka meyakini bahwa ia memperoleh kehidupan yang lebih baik di sisi Tuhan, kehidupan yang jauh dari duka dan nestapa.
Mereka juga merasa tenang karena sebelum Yoseph menghembuskan nafas terakhir dalam perjalanan ke rumah sakit, ia sempat menyebut nama Tuhan.
Kematian adalah sesuatu yang tak terduga. Setiap orang bisa pergi setiap saat. Ada yang meninggal di usia sangat muda, ada juga yang masih bertahan hidup hingga usia 80, 90 atau bahkan 100 tahun.
Penyebab kematian juga bermacam-macam. Kecelakaan lalu lintas, banjir, gempa bumi, Tsunami, kurang gizi, stroke, serangan jantung, kanker, atau hal lain.
Siapa yang tahu berapa lama lagi kita akan hidup di dunia ini?
Tak ada yang tahu. Jadi sementara itu, kita jalani saja hidup ini sebaik-baiknya dengan berusaha menjauhi hal-hal yang negatif dan mendekatkan diri kepada YME.

7 comments:

Elyani said...

Sima, turut berduka cita ya! Aku bisa bayangkan Natal kali ini pasti sangatlah berat bagi keluarga besar Sima. Mudah2an mama, papa Yoseph dan kakaknya selalu diberi kekuatan iman dan ketabahan.

Pucca said...

wah..turut berduka cita ya. emang kita gak tahu umur kita berapa lama.. orang yang sehat saja bisa tiba2 meninggal :(
semoga keluarga yang ditinggalkan tabah..

Titah said...

Turut berduka cita, Sima. Satu bukti lagi bahwa kanker tidak sama dengan vonis mati. Sementara Sima yang bertahun-tahun kena kanker tetap segar-bugar, Yoseph yang sehat walafiat, lagi seneng2nya menikmati hidup, tiba-tiba begitu saja dipanggil Tuhan.

Btw, saya baru tahu lho ada karangan bunga sewaan. Teganya yang "ngasih" bunga sewaan...

T Sima Gunawan said...

trims yach teman2..
memang banyak hal tak terduga yang dapat terjadi setiap saat.

indonesiapride said...

Mbak, aku turut berduka cita ya ... ikut pilu membaca tulisan mbak Sima. Semoga keluarga diberi kekuatan dan keikhlasan dari Tuhan ... umur adalah misteri Nya ..

hug,
sari

Anonymous said...

Turut berduka... dan berdoa agar Yoseph mendapat tempat terbaik di sisiNya.

YD

Anonymous said...

turut berduka cita.semoga yg ditinggalkan diberikan kekuatan olehNya...