Friday, February 29, 2008

Semalam di RS Internasional Bintaro


Kenapa biaya berobat mahal? Karena selain membayar dokter, pasien juga harus menjalani pemeriksaan ini dan itu, mulai dari tes darah sampai urine (kencing), feces (tahi),.dan kalau mungkin, jangan2 pasien disuruh tes kentut juga..! Benaran lho, banyak sekali pemeriksaan tetek-bengek (tetek kok bisa bengek ya?) yang kadang-kadang menimbulkan tanda tanya, perlukah semua itu?
.
Baru-baru ini Ani, saudara yang bertugas di daerah, datang ke ibu kota untuk urusan kerjaan. Tapi sampai di Jakarta, kondisi badan menurun. Dari hasil tes darah, dokter di klinik 24 jam menyimpulkan bahwa ia terkena tipus dan menyuruh Ani beristirahat. Mengetahui kalau pasien itu hobinya kerja keras, nggak bisa diam (seperti jentik2 yang selalu bergerak ke sana ke mari… ) maka dokter menganjurkan agar ia menginap di RS saja.
.
Sebetulnya Ani, yang seumur-umur belum pernah masuk RS, enggan menginap di sana. Apalagi karena ia merasa badannya masih kuat, nggak panas, nggak nyeri, nggak diare, hanya sedikit pusing. Tapi dipikir2, memang kalau tidak tinggal di RS, ia pasti tidak bisa istirahat karena banyak gangguan dari kiri kanan. Akhirnya, karena tak ingin kondisinya memburuk, dengan berat ia mau masuk RS.
.
Tgl. 20 Februari 2008, pukul 22:00 lewat, aku mengantarnya ke RS Internasional Bintaro. Kamar kelas 2 dan 3 penuh, hanya ada 1 tempat di kelas 1 dengan tarif Rp 600 ribu semalam. Yach, apa boleh buat. (Untunglah ditanggung kantor … )
.
Begitu tiba di RS, kita menuju ke UGD. Setelah menunjukkan surat pengantar ke dokter jaga, ditanya apa penyakitnya, apakah panas (jawabnya tidak), apakah buang2 air (jawabnya kalo ga salah nih, buang air 2x tapi nggak diare) dan beberapa pertanyaan ringan lainnya. Lalu Ani langsung disuruh tiduran. Suster datang dan tanpa mengatakan “ba” atau “bu”, ia segera melakukan pemeriksaan rutin seperti mengukur temperatur dan mengukur tekanan darah. Tanpa permisi, ia menusukkan jarum ke tangan kiri, untuk diambil darahnya.
.
Jelas2 Ani tampak kesakitan. Tapi suster berwajah dingin itu nggak peduli. Persis robot yang bekerja bagai mesin. Suster yang namanya entah Kato, Katro atau Sato atau Soto… itu lalu memasang selang infus. (Kenapa sih mesti diinfus … ?? )
Tak lama kemudian dokter jaga bernama Teguh datang, memeriksa dengan stetoskop. Basa-basi sebentar. Mukanya sama masamnya dengan suster itu.
Suster lain yang berwajah ramah muncul menyodorkan kertas, isinya pernyataan tidak keberatan kalau dilakukan tes yang diperlukan. Ada perkiraan biaya sebesar Rp 350.000.
“Ini untuk tes darah,” kata suster.
Akupun menanda-tangani surat itu. Oh ya, sebelumnya aku juga sudah menyelesaikan urusan admin, membayar deposit Rp 3 juta.
.
Petugas dengan kursi roda dengan sigap lalu mengantar Ani ke kamar. Ehh… lha kok bukan ke kamar, malah ke ruang X-ray. Petugas menyuruhnya membuka bajunya dan mengenakan baju dari RS karena akan di foto sinus dan dadanya.
Gila !
Pertama, Ani memakai kaos dan diinfus, gimana caranya kalau mau ganti baju ?
Kedua. Tak ada pemberitahuan apapun sebelumnya tentang foto /X-ray.
Kata petugas, itu adalah perintah dokter internis yang akan merawat Ani. Tapi Ani menolak karena akhir tahun lalu sudah pernah rontgen dan hasilnya bagus. Dan ia bersikeras akan bertemu dokternya terlebih dahulu.
.
Malam itu dokter internis yang bernama Wardoyo datang. Ia meragukan hasil tes Widal dari lab sebelumnya. Jadi harus diperiksa lagi semuanya dengan cara yang lebih canggih, periksa urine, feces, kultur darah (nggak dijelaskan apa itu tes kultur darah yang harganya Rp 200 ribu *.).
.
Kata Ani , dokter itu juga menyuruh ronsen sinus karena ia batuk2, menyuruhnya ke dr. THT dan menyuruhnya tes UBT (Urea Breath Test) dan endoskopi karena perutnya kembung.
‘‘Aku ini ke RS karena tipus dan ingin istirahat. Kok malah disuruh tes ini itu ?’’ kata Ani dengan kesal ketika aku menjenguknya hari Kamis malam.
‘’Dari kecil memang perut kadang suka kembung, itu nggak masalah,’’ katanya dongkol, apalagi setelah tau dari suster bahwa tes UBT ini harganya lebih dari Rp 1 juta. (Untung susternya baik, ramah dan mau memberitahu kalau tes itu muahaal)
Tapi memang akhir2 ini Ani sering batuk dan akhirnya ia bersedia foto sinus dan ke dokter THT pada keesokan harinya. Dokternya baik. Ani memang ada sinus dan amandel, lalu diobati dengan semprotan (bukan Baygon loh). Sebelumnya ada tindakan nggak tau apa namanya, tapi lubang hidung ditutup dengan kapas selama beberapa menit. "Tinggal dibungkus kafan aja nih, jadi pocong," Ani becanda ketika bercerita tentang tindakan yang ongkosnya Rp 500 ribu itu.
.
Ketika dr Wardoyo datang kembali untuk memeriksa keadaannya, ia menanyakan apakah sudah tes UBT, dan kelihatan kesal setelah tau jawabannya.
‘’Waktu aku tanya soal hasil hasil tes darah, urine dan feces, dia cuma senyum2,’ kata Ani.
Kelihatan sekali kalau Ani marah dan kesal. Selain itu ia merasa tidak bisa istirahat dengan nyaman.
“Pagi2 dibangunin suster. Lalu sehari 4x ada mas-mas (bukan mbak-mbak) cleaning servis yang membersihkan kamar,” katanya bersungut2.
Aku bertanya, bagaimana keadaannya. Ani merasa masih kuat dan memilih untuk beristirahat di rumah saja.
Aku menemui suster jaga, menanyakan hasil pemeriksaan lab Ani, tetapi ia menolak..
“ Itu bukan wewenang saya… harus dokternya yang memberi tahu,” kata suster Linda, yang baik dan ramah, tapi bersikukuh tidak mau mengatakan apa2 karena ketakutan.
.
(Pelimpahan wewenang dari dokter ke suster seperti kasus di atas sebetulnya bisa dilakukan. Hal itu akan mengurangi beban dokter dan bermanfaat bagi pasien)
.
Waktu aku mengatakan kalau Ani mau pulang, ia berkata bahwa semua pasien yang pulang harus seijin dokter. Kalau tidak, maka pasien harus menanda-tangani surat pulang paksa. Ia segera menelpon dokter, yang masih ada pasien, dan meminta kami bersabar menunggunya.
Karena kami tak mau menunggu, ia memanggil dr. Yasmin, dokter jaga malam itu.
Suster Linda sudah menyiapkan surat pulang paksa dan dr. Yasmin baru akan menjelaskan hasil lab, ketika tiba-tiba datang suster yang lain dan segera merebut hasil lab karena menurut suster itu, dr. Wardoyo meminta ia mengambilnya.
.
Tak lama kemudian, suster itu datang kembali.
Menurut suster Linda, dr.Wardoyo akan segera datang untuk menemui Ani.
‘’Kalau dokter datang, apakah kita akan dikenakan biaya lagi ?’
‘Ya.’
‘Kalau begitu, nggak usah. Kita pulang sekarang juga.’
Lalu Suster Linda menelpon dr. Wardoyo.
‘Dok, pasien tidak bersedia bertemu, tidak mau di-charged lagi,’ katanya.
Kemudian Suster Linda menyerahkan berkas pemeriksaan hasil lab, dan kita turun untuk menyelesaikan masalah administrasi.
Ani hanya tinggal semalam, tepatnya 24 jam saja, tetapi karena keluar dari RS sekitar pukul 11 p.m., maka dihitung 2 malam. Total biaya = Rp 3.6 juta.
Hasil lab masih merupakan misteri sampai beberapa hari kemudian ketika aku membawanya ke dokter yang menginfusku.
“Hasilnya cukup baik, tak ada yang mengkhawatirkan, hanya perlu istirahat,” katanya.

* Tes kultur darah adalah pemeriksaan lab untuk konfirmasi kecurigaan tipus, Tes ini dilakukan sewaktu ada demam tinggi yang merupakan pertanda bahwa kuman sedang menyebar dalam darah (sehingga lebih mudah dikultur). Kultur tidak bia dilakukan pada hari2 permulaan demam karena cenderung masih negatif. Kita harus menunggu hingga demam sudah tinggi dan konstan. Sayangnya hasil kultur untuk kepastian diagnosanya baru diperoleh setelah 4-6 hari. Namun pengobatan sudah bisa dilakukan atas dasar penilaian klinis, sambil menunggu hasil kultur. Test Widal tidak bisa dipercayai karena terlalu banyak test yang false positif maupun false negative. (dari http://www.iwandarmansjah.web.id/)

8 comments:

Paul said...

Sima, how about establishing a "Doctor or Hospital Watch" group which collects information about quality of services, prices, malpractice and regularly publish for community information?

dani said...

itu memang dokter/RS rujukan perusahaan ya, ato memang ada dokter perusahaan tersendiri..?

ato perusahaan tinggal nerima klaim aja ya..?

gak sempet nyari 2nd, 3rd,.. opinion..?

titah said...

uuhhh... kalo udah masuk rumah sakit emang bener2 makan hati liat "tetek-tetek yang bengek" itu, apalagi kalau nggak ditanggung perusahaan. duh, moga-moga sehat-sehat aja deh...

T Sima Gunawan said...

Dear Paul,
That's a good idea, it should help improve the health care... :)

Dear Dani,
Itu dokter dan RS ga ada hubungannya dg perusahaan.
Ga nyari2 2rd,3rd opinion.. krn sudah sering periksa ke dokter di klinik itu dan selama ini sudah merasa cocok.

Dear Titah,
Betul.. makanya sedapat mungkin kita jaga kesehatan... semoga kamu juga selalu sehat ya...

-sima

mbak rita said...

Kesehatan juga sebuah bisnis yang sangat menguntungkan. Gak ada bedanya sama TV swasta dengan sinetron2 jelek itu, semua ideologinya kan sama, rupiah...huh gemes bgt gw..hehehe

Elyani said...

Mbak Sima,

Jadi ingat pengalaman tahun lalu di RS Mitra Kelapa Gading. Saya batuk2 gak sembuh2, padahal sudah 2 kali ke dokter THT karena takut ada apa2. Akhirnya atas saran teman pergi ke internist di RS Mitra Gading, sesampainya disana dokter langsung memerintahkan untuk rontgen. Padahal saya bilang saya selalu hidup sehat, tidak minum alkohol dan tidak merokok. Rontgen-nya komplit dada, dan rahang kiri kanan, yg intinya belum2 sudah keluar 250ribu. Dari situ dokter tersebut meresepkan anti biotik dan obat2an. Karena sudah malam dan malas ke apotik lain, ya sudah saya beli saja obat yg diresepkan di apotik RS Gading.

Ketika disodorkan harga obat yg harus saya bayar, kaca mata saya hampir copot karena anti biotiknya saja 350ribu Rupiah. Aduh gila mahal bener pikir saya, tapi karena dengan 2 dokter sebelumnya memang tidak diresepkan antibiotik dan saya berpikir mungkin dengan resep ini si batuk bandel bakal menyingkir. Total rontgen, biaya dokter, dan obat2an saya menghabiskan sekitar 850ribu Rupiah.

Sialan-nya obat2an itu tidak membuat batuk saya sembuh, malah saya sempat muntah2 dan gak karu2an karena antibiotiknya terlalu keras. Saya ingat sebelum keluar dari ruangan, dokter mengatakan kalau belum sembuh juga saya diminta balik lagi.

Cuih...gak sudi saya nginjak RS tersebut. Belakangan saya baru tau, teman yg kurang enak badan juga diharuskan rontgen. Saya gak tau apakah mereka cari uang dari rontgen dan pemeriksaan susu asma (tetek bengek) dengan memanfaatkan ketidaktahuan pasien??? Yg jelas, saking sebalnya hasil rontgen saya gunting sampai ber-keping, terus saya injak2, juga kartu pendaftaran RS Mitra ikut jadi korban pengguntingan. Akhirnya saya memilih memperbanyak sayuran, minum juice 3-4 gelas, dan menghirup uap panas yg ditaburi irisan bawang merah. Agak lama, tapi sembuh juga.

sima said...

hi Ely,

kalau batuk2.. uhuk uhuk...ya memang biasanya dokter menyuruh rontgen.
untunglah sekarang sudah sembuh berkat diet sehat dan ramuan tradisional.... :)

Anonymous said...

Yes exactly, in some moments I can bruit about that I jibe consent to with you, but you may be considering other options.
to the article there is stationary a without question as you did in the downgrade publication of this beg www.google.com/ie?as_q=diclofenac 50 mg tds po ?
I noticed the phrase you procure not used. Or you profit by the dreary methods of development of the resource. I possess a week and do necheg