Thursday, February 28, 2008

The Long Journey (dari Nasi Rames, Monyet sampai Banjir)

Ini adalah kisah perjalanan berobat yang panjang dan tercecer. Yang tercecer adalah kisahnya yang panjang… panjang, melelahkan dan menegangkan, tapi menyenangkan juga loh… Kisah berobatnya juga panjang, tapi nggak tercecer dan nggak diceritakan di sini……
Hari Jumat tgl. 1 Februari 2008 adalah jadwalku kembali bertemu dengan bu dokter di NUH. Dan kembali Retno berbaik hati menemani. Lagi2 kita akan naik pesawat Air Asia, berangkat pukul 6:40 pagi dan dijadwalkan tiba di Batam jam 8:15. Harta tiket Jkt-Batam PP sekitar Rp 550.000.
.
Dari Batam kita akan naik feri ke Singapura. Lumayan, bisa menghemat ongkos fiskal. Kalau berangkat dari Bandara Soekarno-Hatta, fiskalnya Rp 1 juta, tapi kalau lewat Bandut (Bandar Laut) hanya Rp 500.000. (Seharusnya sih nggak usah pake fiskal2an ya? Dulu ada wacana penghapusan fiskal, tapi nggak tau kelanjutannya gimana).
Sambil menunggu saat boarding, kita mampir di Restaurant Soka. Retno pesan nasi soto dan secangkir teh manis (cangkirnya mini banget, tingginya paling hanya 5 cm). Aku pilih nasi rames yang terdiri dari nasi putih, sayur labu siam, sayur buncis dan sesendok mi goreng, dan teh tawar.
Waktu membayar, gedubrakk....! Rinciannya:
2 Nasi putih = 2x Rp 6 ribu
Sayur labu siam = Rp 7.500
Sayur buncis = Rp 7.500
Mi goreng = Rp 10 ribu
2 Teh = 2x Rp 7.500
Soto = Rp 26.000
Ternyata sayur satu porsi atau satu sendok, dihitung sama. Mie satu piring dan satu sendok, juga sama hitungannya. Sebagai perbandingan, harga nasi kuning komplit dengan lauk, incl. rendang, di Air Asia = Rp 18 ribu.
Rasanya bagaimana? Kata Retno, sotonya lumayan enak. Tapi nasi ramesnya nggak enak babar blas. Sayur dan mie-nya dingin.
Eh.. kok malah ngomongin makanan ya…
Ya wis, singkat cerita. Kita berangkat tepat waktu. Saat itu hujan gerimis, tapi nggak jadi halangan. Dan kita tiba di Batam dengan selamat.
Ternyata…. para pemirsa… nggak lama setelah itu Jakarta banjir dan Bandara Soekarno-Hatta ditutup selama 5 jam, dan 200 penerbangan ditunda/ dibatalkan.
.
Kita memang beruntung hari itu. Tapi sempet kena imbasnya juga ketika kembali dari Batam.
Oh ya, kita menginap semalam di Batam, di tempat Utiek dan Hardi yang menyambut kita dengan ramah. Jadi, hari Jumat itu setelah selesai berkonsultasi dengan dokter di NUH, kita ke pelabuhan Harbor Front untuk kembali menuju Batam. Lewa, kawan lama yg sekarang bermukim di Singapur, ikut mengantar sampai pelabuhan dan sempat traktir kita minum.
Saking asyiknya ngobrol, sampai lupa waktu. Begitu sadar, kita tergopoh-gopoh menuju tempat pemberangkatan. Wahh, ternyata ada antrean panjang di imigrasi. Deg2an, takut ketinggalan kapal. Untung… akhirnya selesai…. dan kitapun terbirit-birit naik kapal. Begitu masuk kapal, lega sekali rasanya. Tapi kita bingung…. kok kapalnya jelek banget. Nggak seperti yang kita naiki waktu berangkat dari Batam. Padahal kapalnya sama2 Batam Fast. Waktu berangkat, kita duduk di cabin yang nyaman, ber AC, ada TV. Kali ini tempatnya terbuka, hanya ada tirai plastik sebagai ganti jendela kaca. Lalu di sekitar kita banyak yang merokok.
Tapi, ya sudahlah… Yang penting kita nggak ketinggalan kapal.
Belakangan, kita baru sadar kalau kita salah masuk ke cabin perokok! Ya ampuunn… nalar kita waktu itu bener2 nggak jalan… gara2 kita udah stress duluan takut kapalnya udah berangkat.
Pokoknya kita selamat… Dan setelah menempuh perjalanan 1 jam 15 menit, akhirnya kita sampai di Batam.
.
Malam itu kita langsung diajak makan malam di hotel berbintang. Dari sana kita bisa melihat kota Batam di malam hari.. . Tempatnya asyik, tapi kok sepi yach? Hanya ada beberapa meja yang terisi. Padahal makanannya enak dan ada juga live music yang menghibur kita dengan lagu-lagu yang merdu.
Eh, Hardi ternyata jago nyanyi. Dia ikut menyumbang lagu dengan gayanya yang nggak kalah dengan Samson atau Niji… Hehhee..
Selain pintar nyanyi, Hardi juga pandai main gitar dan piano. Bakat musik ini menurun ke anaknya, Tika. ABG ini selain suka main piano juga jago ngedrum, sempat masuk final lomba ngedrum di Batam dan sebetnar lagi akan ikut seleksi tingkat nasional. Semoga sukses ya… Keesokan harinya jalan2 ke Pulau Galang, pulau ex-penampungam manusia perahu dari Vietnam. (Aku pernah ngelamar ngajar bahasa Inggris di Galang, tapi giliran diterima, malahan akunya yg nggak siap ninggalin kerjaan di Jakarta).
Tadinya terbayang, ke Pulau Galang mesti naik kapal. Ternyata nggak, ada jalan yang bagus dan mulus, dan jembatan ala Golden Gate di San Francisco. Maka kitapun berpose di sana, seperti dalam foto ini (dari kiri ke kanan: Hardi, Retno, Utiek, Tika)
Ternyata Galang itu indah sekali. Tapi sepi, padahal berpotensi besar untuk menjaring turis (termasuk orang Singapura). Sayang kita nggak bisa berlama2 di sana, nggak sempat ke pantai segala karena waktu terbatas. Tapi senang, mendapat pengalaman menarik, bertemu dengan banyak monyet, dan memberi mereka makan kacang dan pisang yang dilempar dari mobil.

Dalam perjalanan pulang, waktu melewati pos penjagaan, Hardi sempet2nya ngasih kacang yang tersisa ke petugasnya…Nggak dilempar sih… tapi diserahkan baik2…
Dari Galang sebetulnya Retno pingin makan sea food, tapi waktunya nggak keburu. Jadi kita hanya makan soto di RM Ayam Penyet.
.
Sampai di bandara, waktu check in kita bertanya apakah ada delay, dijawab belum ada kabar mengenai penundaan. Tapi ternyata semua penerbangan rata2 tertunda. Seharusnya kita berangkat sekitar jam 6 sore, tapi tertunda sampai jam 8:30 p.m.
Kita sampai di Jakarta pukul berapa yach.. lupa persisnya, tapi sekitar jam 10:15. Keadaan Jakarta waktu itu belum pulih akibat banjir. Jalan tol masih tertutup. Lalu lintas dialihkan lewat belakang. Taxi Blue Bird susah didapat, antriannya panjang… Akhirnya kita sepakat naik bis Damri yang ternyata sengaja disediakan untuk mengangkut penumpang yang terlantar (kalau nggak salah, biasanya jam segitu sudah nggak ada bis).

Bis Damri jurusan Blok M mulai beringsut pelan-pelan.. lalu berhenti.. lalu ke Terminal 2, lalu berhenti, lalu kembali lagi ke Terminal 1.. lalu ngetem lagi… Satu jam habis hanya untuk berputar-putar di sana. Karena ini keadaan darurat, penumpang tidak dikenakan biaya alias gratis. Di tengah perjalanan, tiba-tiba ada himbauan dari sopir agar penumpang memberi memberi sumbangan suka rela.
Sekitar tengah malam, bis benar2 meninggalkan bandara dan tiba di Blok M entah jam berapa, kayaknya sih jam 1 lewat. Bis berhenti di pinggir jalan antara Bulungan dan Blok M Plaza. Hujan. Nggak terlalu deras, tapi lumayan bikin basah. Kita nggak bawa payung. Nggak ada taksi. Nggak ada tempat berlindung.
.
Akhirnya kita berjalan ke KFC yg buka 24 jam, nggak jauh dari sana.
Enak juga kita numpang istirahat sebentar. Sempet makan sepotong ayam dan nasi hangat. Tempatnya ramai, banyak anak nongkrong. Di sudut, ada seorang ibu berpakaian lusuh dan anaknya yang masih kecil. Keduanya tertidur di kursi. Tak ada yang mengusik mereka.
Habis makan, kita keluar. Setelah menunggu sekian lama, ada bajaj lewat. Retno naik bajaj ke rumahnya yang cukup dekat jaraknya. Dalam waktu tak terlalu lama, ada taxi Blue Bird lewat. Jam 3 pagi aku sampai di rumah. Ah….senangnya.. Home sweet home

5 comments:

elprincipito said...

Solo se conoce aquello que se prueba.

dani said...

panjang juga ceritanya..lama di jalan.. :)
yg di dokter kok cuman sekilas :)
salam

T Sima Gunawan said...

hi Dani..
trims yach..
dari dokter, intinya hasil tes darah kurang bagus, jadi mesti bone scan dan CT scan.
kemarin (26 Feb) ketemu dokternya lagi. nanti ya.. aku tulis..

Yik said...

Mbak Sima, seneng baca critanya :)Duuh, perjalanan mencapai home sweet home kayaknya panjang & melelahkan banget ya - you poor thing. Ditunggu crita2 selanjutnya...

PS: Kemarennya aku ke Jkt tapi gak ketemuan siapa2. Next time ya :)

sima said...

hi Yik...
aku jg senang km mampir... :)

ps. kemarin ke jkt kok ga ketemu siapa2... apa ketemu siapi2... bener ya next time... :)