Wednesday, February 27, 2008

Digigit Ular di Hotel


Pernah digigit ular? Aku pernah lho. Kejadiannya pas Valentine’s Day, tgl 14 Februari 2008 di sebuah hotel berbintang kecil di Jakarta Selatan. Ular beneran! Asli!
Kejadiannya begini. Pagi itu tiba-tiba telepon berbunyi.
“Saya dengar Anda berobat ke Singapur,” kata teman di ujung telepon.
Ia adalah teman lama yang sudah lama nggak ketemu. Ia bercerita kalau ada "orang tua" yang tinggal di luar kota, tetapi sekarang sedang di Jakarta. Orang tua ini bisa mengobati dan kabarnya sering “dipakai” oleh pejabat tinggi negara, termasuk mantan presiden dengan inisial M (tebak sendiri siapa dia).
“Saya sudah bikinin janji dengan dia, nanti malam,” kata teman yang istrinya juga terkena kanker.
“Percayalah, saya tak akan mencelakakan Anda,” katanya, sambil menjelaskan sedikit bahwa Pak Tua itu menggunakan ular dalam prakteknya.
Tentu saja aku percaya, nggak mungkin teman itu berniat mencelakakan aku.
Maka malam itu aku meninggalkan pekerjaan yang sebetulnya belum tuntas untuk menemui Pak Tua di hotel tempat dia menginap. Agak deg-degan juga.
Pak Tua mengaku berusia 88 tahun, tapi memang masih segar bugar. Ia dibantu asistennya yang masih muda. Mula2 ia menaruh batang korek api yang dipatahkan ke telapak tanganku. Batang itu bergoyang2, pertanda kalau sesuatu yg gawat di tubuhku, demikian katanya. Lalu ia menyuruh aku minum air putih yang sudah didoain. (Pak Tua ini orang Katolik).
Lalu ia mendemonstrasikan keahliannya. Diletakkan tangannya di dada temanku dan menyuruhnya batuk. Lalu ia membuka tangannya dan tampak ada lendir encer di telapak tangan, yang berarti tidak ada yang serius.
Kemudian giliranku. Telapak tangan diletakkan dada kanan (dekat tempat bekas operasi) dan aku disuruh batuk. Hanya ada cairan lendir tipis. Lalu ketika tangan diletakkan di dada sebelah kiri, dan aku batuk, terdapat noda merah kehitaman di telapak tangannya. Ritual itu diulang dengan meletakkan tangannya di punggung, dan bagian lain yang dicurigai mengandung penyakit. Hasilnya menunjukkan kalau keadaanku cukup baik, menurut Pak Tua.
Setelah itu, ia menawarkan untuk mengobati dengan ular berbisa. Teorinya, bisa ular dapat melawan virus penyakit. Sebelumnya aku akan diberi penawar bisa untuk mencegah hal-hal yang tak diinginkan.
Buat aku sih ya.. nothing to lose. Kalau memang bisa, yach syukur… kenapa nggak dicoba? Paling enggak, itu pengalaman luar biasa .!
Asistennya membaca doa dan memasukkan “penangkal bisa” melalui telapak tanganku dan menyuruhku menggenggamnya selama 5 menit. Maka aku pun mengepalkan telapak tangan sementara asistennya mengeluarkan karung putih berisi 2 ekor ular.
Satu ular diambil dan diinjak ekornya, membuatnya beringas dan menggigit tangan kiriku. Nggak sakit tuh, lebih sakit rasanya kalau digigit kucing.
Ular jenis “koros” itu segera dimasukkan kembali ke karung dan atas dorongan Pak Tua, aku menyentuhnya. Tak terjadi apa2, ular diam saja. Mungkin ularnya sudah mengantuk meskipun waktu itu baru sekitar pukul 21.00.
Setelah pengobatan dengan ular selesai, Pak Tua menunjukkan kepiawaiannya memainkan kartu, seperti Deddy Corbuzier. Dia bilang kartuku Jack kotak merah alias wajik (diamond). Lalu aku disuruh mengocok kartu itu berkali-kali, waktu kartu dihitung dan dibuka, ternyata betul hasilnya Jack merah wajik. Artinya “kerja keras”. Yang lebih baik adalah Queen, King dan terutama As.
“Kerja keras tapi hasilnya pas-pasan ya, pak?” aku bertanya. Ia tidak menanggapi.
“Gimana pak supaya dinaikkan menjadi Queen atau King atau As?” ia juga tidak menjawab.
Padahal aku serius, lho, aku akan senang sekali kalo kartuku naik, supaya aku bisa ongkang2 kaki sambil ngeblog setiap saat.
Belakangan, aku cek Internet, ular koros itu adalah ular yang berbisa lemah, sahabat petani, digunakan untuk membasmi tikus di sawah.
Manfaatnya untuk mengobati kanker atau penyakit lain masih perlu dikaji. Tapi yang jelas sudah terbukti adalah bahwa aku punya teman yang peduli. Ia dan teman-teman lain, termasuk Anda, pemirsa.... (emangnya TV...!)
Thank you my friends..… for your supports…

7 comments:

mbak rita said...

Trus yang abis digigit ular itu gak sakit mbak? Serem euy...:D

T Sima Gunawan said...

hehee.. nggak sakit kok, cuma masih ada bekasnya dikit sampai sekarang, kayak bekas dicakar gitu. pernah rasanya gatal, seperti luka yg mau sembuh.

titah said...

gede juga nyalinya sima, brani nantang gigitan ular? hmmm... moga2 beneran bisa sembuh deh. ayo mari yo...

T Sima Gunawan said...

hi Titah,

terus terang aja, aku lebih takut sama labah2 yg besar... hiiihhh.. langsung merinding..

Anonymous said...

Saya jadi relatif sering mengunjungi blogmu,Sima. Perasaan jadi tercampur(walau saya sehat2 saja); ada sedihnya, senyum2nya...dan jadi terpaksa berdoa (yg ini mah sebenarnya saking jarangnya sampai tak tahu bagaimana melakukan hehe) untuk semua orang yg menjalani percobaan. Salam hangat,Sima.

T Sima Gunawan said...

hi Ano, thanks!
aku jadi terharu.. hiks hiks..
mudah2an ya keadaan menuju ke arah yang lebih baik...

salam hangat,
sima

batakmuslim said...

untung lo gak mati digigit ularnya.Kami udah baca artikel lo yang provokatif di Jakarta post june 8,mengenai Islam dan FPI.Jangan sok tau lo.Islam itu gak sedangkal otak lo .Baru sekolah si negeri penjajah dan pembunuh aja udah sombong lo.Jilat tuh pantat si Bush.Udah dikasih penyakit juga bukannya bertobat lo.Dasar perempuan sinting.