Tuesday, July 21, 2009

Semi-retired

Seorang teman berhasil mengelola myomnya dan berbaik hati berbagi pengalaman untuk kita semua dalam lima cerita. Ini adalah kisah yang kedua.

Karakterku yang terbiasa selalu cepat, kurang sabaran dan kebiasaan bertahun-tahun untuk melakukan berbagai hal sekaligus membuat tubuhku mengalami tekanan tinggi. Dokter yang juga accupunturist yang merawatku mengatakan aku memiliki tingkat adrenalin yang secara konsisten sangat tinggi sehingga aku berada dalam posisi waspada bahkan di saat tidur. Beberapa tahun terakhir aku tak lagi memiliki kualitas tidur seperti dulu karena suhu badanku terasa lebih hangat dan kualitas tidur yang jelek ini membuatku makin tidak sabaran di keesokan harinya.

Menjelang usiaku menginjak 40, almarhum ayahku menyarankan agar aku pensiun. Kakakku yang juga telah pensiun dini sebelum 40, juga menyarankan agar aku semi pensiun dan mulai berkonsentrasi untuk meningkatkan kualitas hidup. Tidak berarti berhenti kerja total. Tetapi, tidak lagi bekerja untuk mengejar uang ataupun reputasi. Mereka mengatakan, “Kamu sudah cukup mengumpulkan uang. Dengan cara hidupmu serta kebutuhanmu yang amat sangat sederhana, uang yang kamu kumpulkan tak akan mampu kamu habiskan hingga saat kamu mati nanti.”

Aku pikirpun begitu.

Kebutuhanku boleh dibilang sangat minim dibanding orang kebanyakan. Aku hidup sendiri sehingga tak memiliki tanggungan finansial keluarga. Aku memiliki hobi yang sederhana seperti olahraga dan berkebun. Satu-satunya hobi yang mahal adalah traveling ke luar negeri yang rutin kulakukan sejak usia awal 20-an dan kini telah kuhentikan.

Untuk pensiun, yang paling sulit adalah memulainya! Mulutku mengatakan aku akan pensiun, tetapi pikiran tetap tidak pensiun. Saat pulang kantor, pikiranku tetap hectic. Aku masih menelepon dan meng-email para stafku untuk ini itu. Saat berbaring sambil tiduran, aku masih memikirkan urusan kantor. Sambil mandi pun masih mikirin kantor!

Sebulan dua bulan berlalu hingga mencapai setahun, janji untuk pensiun tidak segera terlaksana. Padahal myom-ku mulai membesar. Pelan tapi pasti. Akupun terlupa. Aku rasa, aku juga tak tahu harus memulai dari mana.

Perutku pun mulai terlihat seperti hamil 4 bulan. Aku merubah pakaianku dengan mengenakan pakaian hamil yang sekarang sedang nge-trend. Aku sebal sekali melihat tubuhku yang dulu langsing singset, lantas mengenakan baju seperti daster. Akupun berjalan dan duduk secara berbeda. Tak lagi tegak! Untuk menutupi perutku yang gendut.

September tahun lalu, aku mengalami pendarahan hebat. Wake up call untukku! Aku lantas kelabakan cari info ini itu dan bersiap ke Singapura untuk operasi. Tetapi singkat kata, kubatalkan, dan aku memulai sebuah perjalanan yang mungkin tak banyak dipilih orang yang mengalami penyakit yang sama. Aku memutuskan untuk benar-benar semi pensiun dengan seluruh risikonya.

Sejak mengurangi kegiatan kantor, myomku lebih mampu kukelola dengan baik. Melalui program-program yang kupilih dan kujalankan dengan makin disiplin, kini aku jarang mengalami kram perut lagi. Bulan Juni ini, setelah selama hampir 6 bulan aku melaksanakan berbagai program untuk mengelola myom-ku, aku akhirnya mampu bertahan melewati pendarahan rutin bulanan tanpa pain killer sebutir pun. September lalu, dalam rentang waktu 5 hari, aku harus menelan 30 butir painkiller, 30 butir obat pengental darah dan 10 butir obat penambah darah. Bulan ini aku hanya mengkonsumsi 1 butir obat pengental darah dan 2 butir obat penambah darah. No pain killer at all.

Again, I’m on the right path. Cihuy!

Sederhanakan Cara Hidup: Pilih Kegiatan Yang Berkualitas

Seorang teman yang berhasil mengelola myomnya dan berbaik hati membagi pengalamannya untuk kita semua dalam lima cerita. Ini adalah cerita yang ketiga.

Waktu adalah kemewahan. Namun, myomku tak kenal kompromi. Tak peduli aku punya waktu atau tidak, jika aku tidak merawat tubuh dan pikiran, aku harus mengalami kesakitan. Satpamku ini jauh lebih strict dibandingkan para suster di sekolah SMA-ku dulu. Tak ada dispensasi dan tak bisa kutipu.

Jadi aku berusaha mengalokasi waktu semaksimal mungkin merawat tubuh dan pikiranku. Cara yang efektif menurutku adalah menyederhanakan cara hidup dengan membatasi kegiatan yang tak terlalu kubutuhkan. Kupilih kegiatan-kegiatan yang berkualitas, yang akan membantu tubuh dan pikiranku menjadi lebih baik.

Keseharianku kubuat lebih ada keteraturan. Pagi hari, bangun tidur sekitar pukul 5.30, aku berusaha cepat bangkit dari tempat tidur. Kuusahakan tidak bersantai ria di tempat tidur sambil membiarkan pikiran berkelana kesana kemari. Aku lantas mematikan lampu-lampu dan memanggil ke enam ikanku. Saatnya mereka makan! Mulut mungil mereka muncul diatas permukaan air, membuka tutup, minta makan. Aku duduk sebentar menonton mereka makan lahap. Kumulai pagi dengan rasa tenang. Pagi yang baik!

Lantas aku meditasi 45 menit. Meditasi adalah inti dari seluruh programku. Kuusahakan meditasi tiap hari, tapi masih belum mampu sedisiplin itu. Kadang aku masih membolos, tapi makin lama makin rutin juga. Nah, jika pagi hari terasa malas, ‘kubayar’ di malam harinya. Jika aku mampu melewati meditasi selama 45 menit pagi itu, maka pikiranku umumnya menjadi lebih stabil di hari tersebut.

Seusai merapikan kamar, aku menyiapkan buah untuk sarapan pagi. Ini masih belum tertib juga. Tetapi, akan kuusahakan makan pagi dengan menyiapkan sendiri makananku. Konon, makanan yang disiapkan dengan hati senang, mendapatkan energi yang baik untuk tubuh kita.

Aku makan dengan mengunyah perlahan hingga amat lembut. Makan adalah satu kegiatan yang kusukai. Aku dikenal tak suka makan dengan terburu-buru, minimal 30 menit. Makan dengan hati senang. Mandi pun membutuhkan waktu minimal 30 menit. Kunikmati air yang mengucur. Membayangkan semua ‘kotoran’ terguyur hanyut dibawa air. Menggosok seluruh badan pun aku tak suka serampangan. Mandi dengan hati riang, bagiku itu penting. Pagi yang dimulai dengan keteraturan tanpa terburu-buru sangat membantu mencegah kram myom-ku.

Setelah beres, aku ke kantor. Makan siang pun aku tak mau telat. Agar mood-ku terjaga dengan baik.

Kini, aku berusaha tepat waktu untuk pulang, jam lima jika akan ke gym dan sebelum jam tujuh jika tidak ke gym. Aku ke gym tiga atau empat kali seminggu untuk mengikuti kelas yoga selama dua jam. Di gym, setelah yoga, aku mandi, dan lantas minum jus buah. Malam hari sekitar pukul 8.30 aku sampai di rumah, aku sudah mengantuk berat. Tidur pun menjadi pulas dan lebih berkualitas. Selain yoga, selama tiga tahun terakhir ini, seminggu sekali aku belajar tai-chi, martial art dari Cina. Ini investasi masa tua nanti. Di saat tua nanti, aku masih ingin olahraga, kurasa tai-chi adalah pilihan yang tepat.

Selain olahraga, aku juga memanjakan diriku sendiri dengan body massage di rumah. Seminggu sekali saat akhir pekan. Ini adalah kegiatan yang penting, kusukai dan kulakukan sejak kecil di kampung halaman. Tubuh yang digenjot olahraga, perlu dirawat juga dengan dipijat agar otot-otot tubuh menjadi rileks.

Kebetulan hobi-hobiku cukup sederhana dan tidak membutuhkan efforts yang besar. Aku suka berkebun, olahraga, merawat rumah, membaca dan sesekali bertemu dengan teman-teman. Kegiatan yang tidak hectic begini, membuat ‘satpamku’ alias myom-ku tidak berada dalam situasi siaga. Artinya, aku berada on the right track again!

Kini, aku juga tak lagi melakukan traveling ke ujung-ujung dunia dan melakukan kegiatan adventurous seperti mendaki Himalaya. Traveling akan mengganggu jadwal yoga serta meditasiku. Mungkin nanti, aku akan traveling lagi, tapi kini traveling tak menjadi prioritasku. Dan entah kenapa, aku pun sedang tak berminat. Jadi, kini kegiatan yang kutambahkan dalam keseharianku hanyalah meditasi dan yoga.

Eh, belajar memasak sedang kupertimbangkan!

No comments: