Friday, July 17, 2009

Jamu kunir putih, mau?

Teng teng teng teng teng ting tong ting tong…
Bel berbunyi pagi2. Pasti ini pak Satpam yang kemarin aku mintai tolong bayar PBB ke BRI.
Eh, bukan. Ternyata si mbak Jamu.
Mulai akhir bulan kemarin aku langganan jamu kunir putih sama si mbak yang tiap pagi bersepeda keliling kompleks. Tapi sudah hampir seminggu dia tak muncul.
“Baru kembali dari kampung. Anak saya butuh uang buat bayar sekolah. Kasihan mbahnya kalau saya nggak kasih,” kata si mbak yang menitipkan 2 orang anaknya ke mbah mereka.
Si mbak orang Sragen, Jateng, bersuamikan orang Purwokerto, Banyumas. Mereka tinggal di Ciputat sedangkan kedua anaknya ikut si mbah di Banyumas. Yang masih ditanggung biaya sekolahnya adalah si bungsu sedangkan si sulung sudah selesai SMA dan tidak melanjutkan sekolah.
“Saya kemarin baru memberi uang Rp 450.000 untuk biaya sekolah,” cerita si mbak yang bercaping bambu dengan sumringah. (Suaminya ngapain ya… ? hmm nanti deh aku tanya)
Dulu sekali memang aku pernah membeli jamu kunir asam sekali dua kali. Belakangan timbul ide untuk minum jamu kunir putih yang kabarnya bagus sekali untuk melawan kanker karena ada teman sesama pesenam, eh, maksudnya ada ibu-ibu anggota kelompok senam pagi yang berjualan berbagai barang organik, termasuk jamu.
Kapan itu ada yang beli 1 botol sari jamu seharga Rp 78 ribu. Katanya bagus untuk suaminya yang kena diabetes.
Tak lama setelah pulang dari senam, kebetulan mbak Jamu lewat. Ada beras kencur, air sirih, kunir asam dll. Tapi ia tak menjual kunir putih. Aku pilih kunir asam. Harganya Rp 2.000 se mug lumayan besar (ini mug gratisan bertulisan Anlene yg dulu kudapat waktu beli susu… lumayan...). Kalo pake gelas kecil sih paling cuma Rp 1.000. Lalu si mbak merayu, menawarkan cemilannya. Dia juga menjual kacang goreng yang dibungkus plastik kecil-kecil, peyek dan opak.
“Murah lho. Ini cuma Rp 2.000. Enak,” katanya dalam bahasa Jawa, menawarkan satu plastik berisi empat opak berdiameter sekitar 12.5 cm.
Akhirnya aku beli. Antara kepingin dan tidak tega.
Dengan berbahasa Jawa ala kadarnya, aku utarakan maksud untuk memesan jamu kunir putih, yang dengan segera disanggupinya. Jamu yang dimasukkan ke botol bekas sirup Marjan untuk dikonsumsi selama dua hari dihargai Rp 8.000.
“Saya ini kalau memberi harga melihat orangnya dulu. Itu ibu yang di sana saya kasih harga Rp 10.000 karena dia itu Cina,” katanya.
Gedubrak… x)>?!!##%@!!!!
Aku cuma tersenyum kecut.
“Aku juga Cina lho mbak,” kataku, tapi cuma dalam hati. Biar aja nanti dia tau sendiri.
Oh oh oh …Kasihan deh elu… Cina.

3 comments:

Pucca said...

wakakak.. emang gua udah filing kalo gua beli apa2 tu pasti harganya dibedain deh.. :P
biar kata cuma 2000 tapi kan kita kesel dibeda2in hikss..

sima said...

hehehe... ya sabar aja...

zuli zaito said...

Wkkkk akhirny aye.. Tersenyum jg, baca artikel ini,, heheheee