Monday, July 6, 2009

Gudeg dan Capres

Kena kanker bukan berarti harus mengurung diri dan merenungi nasib. Kita masih bisa melakukan banyak kegiatan yang menyenangkan. Termasuk jalan-jalan.
Belum lama ini aku ke Jogja dan Solo untuk bertemu beberapa teman lama.
“Ntar ketemuan di mBarek ya, sambil makan gudeg,” aku email temenku, Rio, memintanya menemani makan di salah satu warung gudeg yang terkenal enak.
“Gudeg actually is not my best choice tapi tak apalah nemenim teman yang pasti sudah ngempet lamaaaaa banget tuh hampir ngeces saking penginnya makan gudeg Jogja,” jawabnya sambil ngeledeg.
Dulu, waktu kuliah di Jogja, aku ga hobi2 amat makan gudeg, tapi ga tau ya, belakangan ini rasanya sering kepingin makan gudeg. Sayangnya susah nyari gudeg enak di Jakarta.
You don’t know what you get until you lose it. Begitu kata2 yang tertulis dalam pin yang aku beli pada jaman dahulu kala. Betul juga ya. Bukan hanya soal gudeg aja. Sekarang ini masih banyak lho orang yang kena penyakit AIDS = Aku Ingin Dekat Soeharto. Kalo Soeharto jadi capres, pasti banyak yang ingin memilihnya.
Soeharto dulu sukses menyuruh orang ikut KB. Ia juga sukses mendorong penduduk dari Sabang sampai Merauke untuk makan nasi. Orang yang dulu terbiasa makan sagu, jagung dan singkong, jadi doyan nasi dan menjadikannya makanan pokok mereka. Padi ditanam di mana2 untuk memenuhi swasembada pangan. Sukses besar, sampai akhirnya produksi padi menurun karena kualitas tanah berkurang akibat pemakaian pupuk kimia dan pestisida yang merusak lingkungan.
Barulah orang sadar kalau ternyata diversivikasi makanan pokok itu penting juga.
Soeharto kan lahirnya ga jauh dari kota Jogja, kenapa ya waktu itu dia nggak nyuruh orang2 makan gudeg? Karena itu aku bukan penggemar Soeharto.
Di Jogja, aku mampir ke asrama tempat aku tinggal selama 4 tahun. Ya ampun.. sekarang berbeda sekali keadaaanya. Dulu bersih dan rapi. Sekarang agak kurang terawat.
Ruang tamu dipenuhi meja dan kursi. Rupanya fungsinya sudah berubah, merangkap sebagai ruang makan dan ruang belajar. Di halaman yang terletak di depan kamar2 sekarang terdapat tempat mencuci piring dan dapur ala kadarnya.
Ruangan besar yang dulu berfungsi sebagai ruang makan dan ruang belajar kini disewakan untuk umum.Tampaknya asrama ini kekurangan dana. Di jamanku dulu, kabarnya ada bantuan dari luar, tapi sekarang nggak lagi. Karena itu asrama ini perlu mencari sumber dana sendiri agar tak terlalu membebani para penghuninya.
Kasus ini berbeda dengan universitas2 negeri yang serta merta menaikkan uang pendaftaran dan uang kuliah begitu pemerintah menghentikan subsidinya.
Capres yang ada harus dapat menghentikan komersialisasi pendidikan dan mendorong lembaga pendidikan untuk menghasilkan SDM yang tangguh, yang berprestasi, termasuk mampu membuat gudeg yang enak.
Dari Jogja, perjalanan berlanjut ke Solo. Aku memilih naik Pramex yang ternyata tak ada hubungannya dengan obat sakit kepala. Ini adalah Prambanan Ekspres, kereta api dengan waktu tempuh 1 jam untuk rute Jogja-Solo. Kalau naik bis atau travel (kenapa namanya travel?) bisa makan waktu 2 jam.
Tapi oh, baru sadar kalo ini ternyata KA ekonomi yang tempat duduknya terbatas. Aduh, kalo gitu, susah dong dapat tempat duduk, apalagi ini musim liburan. Lemes deh. Terbayang beratnya berdesak-desakan di kereta dengan ransel tersandang di punggung dan tentengan kantong plastik berisi 2 dos brownies dari Jakarta dan beberapa dos bakpia pathuk buatan Jogja untuk oleh2.
“Ntar kan ada orang yg ngasih tempat duduk...,” kata Anggi, temanku dengan nada menghibur.
Pasrah deh. Dengan menggenggam karcis seharga Rp 7 ribu, aku masuk ke dalam kereta dengan memasang muka memelas. Gerbong lumayan penuh meskipun tak sampai berdesak-desakan seperti sardin, tapi jelas tak ada tempat duduk yang tersisa. Beberapa orang menggelar koran bekas dan duduk dengan santai di lantai kereta.
Tiba-tiba seorang lelaki muda berdiri dari tempat duduknya dan menawarkannya kepadaku sambil tersenyum. Pasti ia tergerak oleh mimik muka melankolisku.
Tempat duduk yang seharusnya untuk dua orang itu telah diisi oleh dua perempuan belia yang duduk berdempetan, menyisakan sedikit ruang di ujung bangku.
Meski tak dapat duduk dengan sempurna dan pantat terasa kurang nyaman beradu dengan bangku yang keras, aku sangat berterima kasih kepada si Mas yang baik hati itu.
Sementara orang berebut kursi, ia rela menyerahkannya tanpa mengharapkan imbalan apa2. Ia memiliki rasa kemanusiaan yang tinggi.
Siapa pun yang memimpin negeri ini, ia harus memiliki karakter seperti itu. And he must be sweet.... like gudeg.

Versi bahasa Inggris dapat dibaca di sini

2 comments:

Triyono said...

Hmm oleh-olehnya nikmat dibaca mbak, serasa mengintil dibelakang mbak Sima. Sini sini tasnya saya bawain (gak mau kalah sama masnya yang kasih tempat duduk)

sima said...

mas Tri baik banget deh, kalo nyalonin jadi capres no.4, saya pilih.. :)