Friday, March 14, 2008

Jangan Beli Obat di Rumah Sakit

Why? Kenapa nggak boleh beli obat di RS? Sebetulnya, bukannya nggak boleh… Ya boleh boleh saja… Tapi lihat-lihat RS-nya dan obat yang akan dibeli. Kalau cuma mau beli obat gosok, obat batuk, obat cacing atau obat-obat lain yang harganya nggak terlalu mahal, ya tidak apa-apa. Lain halnya kalau obat kanker yang harganya ratusan ribu rupiah atau bahkan jutaan.
Yang paling baik adalah membeli obat kanker di Yayasan Kanker Indonesia.
Waktu aku menjalani kemoterapi, aku selalu membeli obat di YKI, tepatnya di Jl. Sam Ratulangi, Menteng, Jakarta Pusat. (Telp. 319 27464 ). Dari Januari sampai Juni tahun 2005 aku kemo selama 6x di RS MMC (Metropolitan Medical Center) di Kuningan. Sekali kemo, aku bisa menghemat beberapa ratus ribu rupiah. Dasar RS nggak mau rugi. Mereka mengenakan “biaya verivikasi” bagi pasien yang membawa obat dari luar. Kalau tidak salah ketika itu “biaya verivikasi” sebesar Rp 150.000.
Setelah kemo, dokter menyuruhku minum Tamoplex setiap hari. Untuk obat kanker, tablet ini termasuk murah. Harganya ketika itu hanya sekitar Rp 4.000 per tablet. Tetapi kalau beli di YKI, harganya tak sampai Rp 3.000.
Karena dokterku juga praktek di RS Dharmais, maka aku pindah dari MMC ke Dharmais.
Waktu obat habis, aku bermaksud membeli di YKI. Seperti biasa, aku menyerahkan resep dan menunjukkan kartu RS.
“Tidak bisa,” kata petugas YKI. “Untuk pasien dari Dharmais harus ada surat pengantar khusus.”
Lho. Mengapa, mbak?”
“Tidak tahu. Itu permintaan dari RS Dharmais sendiri. Mereka yang membuat peraturan itu,” kata petugas itu sambil menunjukkan surat pemberitahuan yang tertempel di dinding dekat loket penerimaan resep.
Dalam surat yang ditanda-tangani oleh bos RS Dharmais itu memang tertulis bahwa pasien dari Dharmais yang ingin membeli obat dari YKI harus membawa surat rekomendasi dari RS Dharmais.
Beberapa bulan kemudian, waktu aku kontrol ke dokter di RS Dharmais, aku minta dokter agar memberikan surat rekomendasi
“Emang ada surat seperti itu?” tanya pak dokter ke suster.
“Ada dok,” jawab suster.
“Macam-macam saja,” komentarnya.
Bulan April tahun lalu. Karena kankerku kambuh, obat harus diganti. Nama obat yang baru ini Aromasin padahal pil sebesar biji kacang hijau ini tak mengandung aroma asin sama sekali.
“Harganya cukup mahal,” kata pak dokter. Dokter kali ini beda, bukan yang dulu, karena yang dulu sudah meninggal.
Waktu aku minta surat rekomendasi, ia terheran-heran. Susternya juga tak tahu-menahu.
“Beli aja sama Totok,” kata pak dokter. “Dia itu salesman langsung dari perusahaan obat, dia suka duduk2 di lobi. Tanya aja di sana. Kalau sama Totok, lebih murah.”
Aku bengong. Dan sambil terbengong-bengong, aku ke lobi, celingukan. Yang mana yang namanya Totok? Kalau ada salesman obat di sana, pasti ketahuan dari gayanya, pasti berbaju rapi, berdasi, dan penuh semangat, beda dengan pasien yang rata-rata mukanya kuyu dan sedih. Tak ada tuh orang dengan ciri2 seperti itu. Oh ya, aku ingat dokter juga berkata: “Beli obat jangan di apotik yang di bawah. Kalau di bawah, mahal. Beli aja di atas, lebih murah.”
Lalu aku ke atas (lantai 4?).
“Di sini kita hanya melayani untuk pasien yang dirawat. Kalau yang berobat jalan, di bawah,” kata petugasnya dengan judes.
Aku ingin mencari tahu harga obat dan disuruh menunggu. Akhirnya aku pergi karena tak tahan menunggu terlalu lama. Yach, memang tampaknya sibuk sekali mereka. Lagipula aku nggak yakin kalau di situ harga obat lebih murah dari di bawah.
Lalu aku berpikir keras. Dulu aku mendapat Surat Rekomendasi dari suster yang bertugas di lantai dasar sedangkan tadi aku konsultasi dengan dokter di lantai satu. Nah, kenapa aku nggak ke lantai dasar untuk mencari suster itu?
Maka aku segera ke lantai dasar. Suster yang aku maksud tidak ada. Yang ada adalah suster lain dan dia juga tidak tahu menahu soal Surat Rekomendasi itu.
Untung ada petugas yang baik hati dan dia menelpon temannya untuk menanyakan soal Surat Rekomendasi itu. Akhirnya dengan panduan temannya, ia berhasil menemukan surat tsb.
Wah, aku senang sekali, rasanya tidak sia-sia berjuang… Lalu aku membawa surat sakti itu ke lantai 1 untuk ditanda-tangani oleh pak dokter.
Keesokan harinya aku ke telepon YKI. Ternyata mereka nggak jual Aromasin. Yach… sia-sia deh perjuanganku….
Petugas YKI menganjurkan agar aku beli obat di Apotik Grogol. Harganya Rp 1.668.000. Sedangkan harga obat di RS Dharmais, menurut catatanku yang nggak gitu jelas: Rp 2.000.120. (Aneh ya, mungkin catatanku ini salah. Tolong cek deh ke sana. Tapi yang jelas, memang beda jauh).

(to be continued – di singapura obat bisa lebih murah!)

7 comments:

Elyani said...

Mbak Sima,

Kalau boleh tau, obat kemo untuk setiap kanker itu sama saja atau ber-beda2? Dulu mbak Sima per satu kali kunjungan untuk kemo menghabiskan biaya berapa? Dokter teman saya yg galak itu bilang kalau di RS tempat teman saya dirawat itu, kemo per visit 17jt. Harga segini tentu saja bikin orang yg dengar langsung kaget. Karena saya tidak pernah punya teman yg terkena kanker, susah bagi saya untuk mencari info kira2 berapa sih biaya kemo? Dimana bisa mendapatkan info tentang biaya kemo dsb?

Makasih ya mbak!

Anonymous said...

Sima,Yayasan Kanker Indonesia itu dapat uangnya dari siapa kok bisa menjual obat2an lebih murah?
Have a nice weekend.

dani said...

yah bedanya kok lumayan ya.. :(
ada apa gerangan

sima said...

Elly,
harga obat kemo lain2 tergantung penyakitnya, dulu aku stadium 2, jadi harganya masih termasuk "murah". aku nggak ingat persis, mungkin sekali kemo sekitar 2-3 juta.
semakin tinggi stadiumnya, semakin mahal harga obatnya.

Ano,
YKI bisa menjual obat murah karena dia nggak ambil untung.
Uangnya dari mana yach? kayaknya ada donor.

Dani,
Apotik Grogol terkenal murah karena mengejar omzet.
Aromasin, dibungkusnya tertulis HET Rp 2.084.074.

Paul said...

Penjualan obat memang dianggap sebagai sumber pendapatan utama rumah sakit(hingga 35%); juga terjadi dirumah sakit pemerintah dan rumah sakit swasta nir laba. DiPuskesmas dan Polindes sekalipun, penghasilan dari penjualan obat merupakan andalan untuk menutup biaya karena management yang tidak efisien. Bukan rahasia lagi bahwa obat gratis bantuan pemerintah atau donasi pun dijual (murah?) di banyak Rumah Sakit, Puskesmas dan Polindes. Penderita yang ada di RS, Puskesmas atau Klinik memang tidak punya posisi tawar dan dalam keadaan yang terjepit oleh keadaan. Memanfaatkan kelemahan orang sakit sebetulnya merupakan mal-praktek yang tidak ethis dan kejam. Ini masih ditambah dengan petugas yang mengutip uang dari pasien dengan berbagai dalih.

obat kanker said...

jauh banget bedanya...kalau yang kelas ekonomi menengah sangat membantu

Unknown said...

Maaf sebelumnya saya mau mencari penderita kanker yang mengkonsumsi obat
n*x*v*r. Kalo ada yg berminat hubungi saya 081367179934