Friday, September 23, 2011

Ketika Kanker Mengusik Karir

Menteri Kesehatan Endang Sedyaningsih terancam bakal diganti karena kinerjanya terganggu akibat kanker yang dideritanya.

Ia merupakan satu dari 10 menteri bermasalah yang disebut-sebut akan terkena perombakan kabinet bulan Oktober 2011.

Menurut Lingkaran Survei Indonesia, mereka memicu anjloknya tingkat kepercayaan publik terhadap pemerintahan SBY-Boediono. Selain Endang, Menteri BUMN Mustafa Abubakar juga dianggap kurang bagus kinerjanya karena sakit jantung.

Menteri lainnya adalah Menteri Hukum dan HAM Patrialis Akbar yang menuai kontroversi gara2 memberi remisi untuk koruptor.

Tapi yang lebih parah adalah skandal suap wisma atlet yang menyeret Menteri Pemuda Olahraga, Andi Mallarangeng, dan suap Kemenakertrans yang melibatkan Muhaimin Iskandar. Selain itu dugaan krisis moral melekat pada Menteri Perumahan Rakyat Suharso Monoarfa, Menteri Perhubungan Freddy Numberi,dan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Darwin
Zahedy Saleh.


Sedangkan yang dianggap memiliki kinerja terburuk adalah Menteri Pertanian Suswono yang gagal mengendalikan harga beras dan Menteri Agama Suryadharma Ali yang tak becus mengatasi soal aksi kekerasan atas nama agama.

Seberapa buruk sih kesehatan Bu Menkes sehingga kinerjanya merosot? Entahlah, yang jelas ia masih tampak sehat dan sibuk beraktivitas.

Ia terdeteksi terkena kanker paru2 melalui pemeriksaan pada bulan Oktober 2010, setahun setelah dilantik menjadi menkes. Berita itu sendiri tersebar ke masyarakat luas di awal 2011 dan konon kabarnya kankernya sudah mencapai tingkat lanjut.

“Sekarang ini orang memandang kanker seperti vonis (mati). Padahal, kanker itu sama seperti penyakit lainnya. Jadi, tergantung kita bagaimana menyikapi penyakit ini,” kata Endang dalam jumpa pers yang digelar terkait dengan merebaknya kabar buruk itu.

Meskipun demikian, doktor lulusan Harvard School of Public Health yang berobat hingga ke Guangzhou, China, ini masih bersyukur.

“Semua saya syukuri. Tentu saja bukan hanya mensyukuri saat nikmat saja, lalu selesai. Ketika dikasih penyakit, saya juga terima,” kataya.

Dalam kesempatan itu ia juga mengatakan bahwa kegiatannya tak terganggu.

Emang orang yang terkena kanker bisa tetap aktif bekerja?

Ya, tergantung…. Tergantung pada gantungannya. Seberapa parah penyakitnya dan seberapa besar semangat pasien serta dukungan keluarga dan lingkungannya.

Kalau penyakitnya sudah sembuh, tentu tak ada masalah.

Biarpun katanya belum ada obat kanker yang betul2 ampuh, nyatanya ada lho yang bisa sembuh. Contoh klasik adalah Rima Melati, mantan artis penderita kanker payudara yang sekarang menjadi pengusaha bristo bersama suaminya Frans Tumbuan. Contoh lain adalah ibuku yang sukses mengalahkan kanker rahim. Ia sekarang umurnya 83 tahun dan masih kelihatan sehat.

Sayangnya tidak semua pasien berhasil mengusir si kanker busuk. Nenek dari pihak ayah meninggal karena kanker payudara yang kemudian menyebar ke tulang. Adik perempuan ayah meninggal karena kanker usus. Adik lelaki ayah yang sekarang berusia 70-an tahun terkena kanker otak yang mulai menyerangnya sekitar 20 th yll. Secara fisik, ia tampak sehat tetapi sejak lama sudah pikun dan penglihatannya agak terganggu.

Bagaimana denganku sendiri? Jreng jreng jreng …. (mestinya pake musik nih, biar keren seperti sinetron).

Aku terdeteksi menderita kanker payudara beberapa hari setelah lebaran di akhir bulan
November 2004. Setelah menjalani mastektomi alias pengangkatan payudara kanan dan kemoterapi, pemeriksaan menunjukkan bahwa aku sudah “bersih” alias tak tampak adanya sel2 kanker di payudara.

Tapi bukan berarti aku betul2 sembuh. Pada bulan April 2007, diketahui bahwa kanker muncul kembali dan kali ini menyerang tulang. Genderang perang pun kembali ditabuh dan perlawanan sengit berlangsung untuk mengalahkan si kanker busuk.

Meskipun kanker masih banyak bercokol di tulangku, termasuk tulang iga, tulang punggung, tulang punggung, tulang pundak, tulang panggul dll, aku masih dapat beraktivitas seperti biasa. Masih bisa ngantor dan mengerjakan tugas dengan baik, Hanya saja kegiatan fisik memang agak terganggu karena dokter wanti-wanti agar aku tak mengangkat barang yang berat2 dan lari marathon….

Perubahan drastis terjadi pada pertengahan bulan April 2011. Kakiku tiba2 saja tak dapat digerakkan. Hari Kamis pagi masih terasa normal, Sabtu masih bisa berjalan terseok-seok, Minggu sudah lumpuh total!!! Operasi yang dilakukan di RS Dharmais pada hari Selasa tak dapat memulihkan kondisiku. Hiks hiks hiks..

Sebetulnya sebulan sebelumnya sudah ada tanda2 buruk. Dadaku pernah terasa sakit sekali ketika aku berjalan, tetapi sakit itu kemudian hilang. Punggungku juga sakit jika duduk lama tanpa sandaran atau sandaran kursinya keras. Hal itu dapat diatasi dengan bersandar pada sandaran kursi yang empuk.

Tanda-tanda lain adalah rasa sakit di dada ketika aku mengambil nafas pada saat berenang. Aku
sempat rajin berenang lho… seminggu 2-3x.

Duduk di sandaran kursi empuk dan berhenti berenang merupakan solusi instan yang semu. Seandainya waktu itu aku langsung ke dokter, mungkin kondisiku sekarang bisa lebih baik. Tapi ah, tak ada gunanya menyesalinya. Nasi sudah menjadi bubur. Mendingan sekarang buburnya dibumbui, dikasih garam, kecap, ayam, tungcai, bawang goreng,…hmmmmm lezaatttt…

Lho, kok malah jadi ngomongin bubur ayam.. bikin laper aja nih…Ya sudah, ayo kembali ke laptop… eh ke cerita uamanya.
Kendati lumpuh, badan bagian atas, dari dada sampai kepala, masih oke. Jadi sebetulnya aku masih bisa bekerja di rumah.
Ngomong2 soal kerjaan. Dulu…. begitu lulus dari Jurusan Sastra Inggris UGM, aku langsung meniti karir di kantor tempatku bekerja saat ini. Tahun 2003, setelah bekerja selama hampir 19 tahun di tempat yang sama, aku mulai jenuh. Maka aku mengundurkan diri sebagai karyawan tetap dan memilih menjadi freelancer saja. Enak kan, nggak terikat….

Eh, setahun kemudian aku kena kanker… Yaaah… tau begitu, aku nggak jadi keluar supaya ada yang menanggung biayanya… Tapi nggak apalah, Tuhan itu baik. Rejeki ada aja. Selain menulis, aku juga mulai masuk ke dunia penerjemahan yang ternyata asyik juga. Pernah juga aku menerjemahkan tiga novel roman Harlequin, tapi capek sekali menerjemahkan buku. Rasanya kok nggak kelar2 dan honornya ga seberapa.

Eh lagi, tahun 2006 aku ditawari untuk kembali bekerja di kantor lama. Ketika itu aku sudah berpikir bahwa aku perlu penghasilan tetap untuk membeli obat. Jadi dengan senang hati aku terima tawaran itu. Tentu saja statusnya beda. Sekarang aku hanyalah karyawan kontrakan tanpa hak untuk menerima penggantian biaya kesehatan. Memang begitulah aturan mainnya untuk mereka yang bukan karyawan tetap.

Pekerjaan utamaku menuntut aku untuk datang ke kantor setiap hari. Sejak lumpuh, aku tak bisa ngantor. Tapi pihak manajeman baik lho, aku masih digaji. (Tengkiyuuu, bos).

Kontrakku akan segera berakhir. Kapan itu bos sempat mampir menjenguk dan mengatakan bahwa kontrak akan diperpanjang dengan new working arrangement sesuai dengan kapasitasku. Hal itu ada akan dibahas kemudian tapi sampai sekarang belum ada kejelasan mengenai tugas yang bakal.

Sambil menunggu pekerjaan dari kantor, aku membantu teman menerjemahkan artikel atau laporan. Bekerja itu terapi. Dengan bekerja, otak terasah dan kegiatan yang positif dan produktif itu bisa membuatku melupakan rasa pegal.

Bu Menkes pernah mengatakan bahwa ia pasrah kalau terkena perombakan dalam kabinet karena itu merupakan hak presiden. Sama bu, aku juga pasrah kalau misalnya manajemen kantor nggak memperpanjang kontrakku…

Apa pun yang terjadi, kita hadapi saja dengan positif. Jika satu pintu tertutup, masih ada pintu lain yang terbuka. Kalau semuanya tertutup, masih bisa lewat jendela. Kalau jendelanya tertutup? Lewat genteng aja… hahahhaa… atau lewat cerobong asap seperti Santa Klaus.

Wednesday, September 14, 2011

MAU APA SEKARANG?



Mau apa sekarang, setelah berbulan-bulan tergeletak di tempat tidur karena lumpuh?



Mau nangis meraung-raung menyesali nasib? Mau marah dan menghujat Tuhan yang memberikan cobaan berat ini? Mau bunuh diri karena merasa menderita dan putus asa?



Atau sebaliknya, bersyukur karena masih berkesempatan makan ketupat di hari raya Lebaran kemarin dan bisa turut merayakan ultah sahabat di bulan September ini? Bersyukur karena masih bisa menikmati hangatnya sinar mentari (baca: pemanasan global dengan suhu yang semakin meningkat), kicauan burung di pagi hari (baca: gonggongan anjing tetangga di malam hari) dan gemercik aliran air sungai (baca: kucuran air kran di dapur ketika mpok mencuci piring)?



Pilih yang mana?



Kalau mau yang gampang, ya marah2 atau menangis saja. Sulit rasanya mengucap syukur sementara jelas2 lagi sakit. Eh, tapi biar badan sakit, untung lho pikiran masih sehat….



Menurut teori, begitu kita bangun tidur kita harus mengucap syukur pada Tuhan yang masih memberi kita kesempatan untuk menikmati hari yang baru. Memang teori biasanya lebih mudah daripada praktik. It is easier to say than to do.



Setiap malam aku selalu terbangun karena badan pegal akibat berada dalam posisi yang sama (baca: telentang) selama berjam-jam. Ini karena aku kesulitan menggerakkan badan ke kiri dan ke kanan tanpa bantuan orang lain. Begitu terjaga, aku tidak selalu dapat dengan mudah tidur kembali. Kalau orang lain bangun tidur badan segar, nah, yang sering terjadi padaku ini sebaliknya. Dalam keadaan seperti itu, lebih gampang mengeluh daripada bersyukur.



Tak jarang aku mengalami pergumulan batin. Tapi syukurlah, pikiran yang sehat membantu menentukan pilihan yang positif. Rasa sedih, marah dan putus asa justru akan membuat kita semakin terpuruk. Sebaliknya, rasa syukur membawa rasa damai, tenang dan pasrah dalam menjalani hidup ini.



Banyak orang yang mengatakan bahwa ketika kita senang, kita sering melupakan Tuhan dan baru pada saat kita susah, kita ingat Tuhan. Benar juga… Dalam kondisi seperti ini aku merasa lebih dekat dengan Tuhan. Agamaku Kristen. Meskipun jarang ke gereja, aku percaya pada Tuhan. Sekarang ini aku ikut mailing list “doa satu menit” dan setiap hari mendapat kiriman doa dan ayat2 Alkitab serta renungan harian melalui email. Kiriman jarang terlambat, malah bisa terlalu cepat. Misalnya, dalam satu hari bisa terkirim materi untuk dua atau tiga hari dan kadang2 doa yang sama dikirim oleh orang yang berbeda. Ah, namanya juga gratis, ya dinikmati saja…



Ini adalah doa hari Selasa, 13 September 2011 (yang telah disesuaikan sehingga bersifat universal).



Tuhan,

bantulah aku agar aku dapat memiliki sikap yang baik,
positif, penuh harap, gembira, dan bijaksana pada saat ini.
Tingkatkan semangatku dan segarkanlah aku dengan kegembiraanMu.
Semoga kegembiraanMu berkembang di dalam hatiku pada saat ini
secara berlimpah sehingga ia mengalir juga kepada orang lain
yang melihatku.

Dan pada saat aku berbicara,
semoga kegembiraan daripadaMu akan terus menular
kepada orang lain.

Aku memuji namaMu dan memuliakan Engkau
sebagai penopang kepalaku pada saat aku lemah.
Engkau adalah Allah yang kekal,
yang telah memberiku hidup yang sangat indah.

Di dalam namaMu aku bersyukur dan berdoa.

Amin

Monday, August 8, 2011

Saved by the bell

Aku adalah orang yang sangat mandiri. Segala sesuatu sedapat mungkin kulakukan sendiri. Jangan sampai merepotkan orang lain.

Tapi itu dulu... Ketika aku masih sehat dan kuat.


Keadaan berubah 180 derajad di bulan April 2011. Tumor ganas yang kuderita sejak 2004 semakin merajalela, menyerang sumsum tulang belakang sehingga syaraf terganggu. Operasi yang dilakukan tak mampu memulihkan kondisiku sehingga bagian bawah badanku, dari perut ke ujung jari kaki tak dapat digerakkan.


Sekarang aku menjadi sangat tidak mandiri. Hampir segala sesuatu tergantung pada orang lain.


Keadaan ini sudah berlangsung selama tiga bulan lebih. Bulan pertama berlalu dengan relatif lebih mudah karena saat itu aku masih di RS. Sebagai pasien yang diopname setelah menjalani operasi, rasanya sah-sah saja kalau tergeletak di ranjang dan tergantung pada dokter serta perawat, termasuk perawat pribadi yang menemaniku.


Di rumah, keadaanku tak lebih baik, dalam hal kemandirian. Aku masih harus berbaring terus di ranjang, atau duduk di kursi roda. Sebetulnya paling enak ya tidur2an di ranjang... tapi kalo kelamaan, aduh mak, pegalnya.... Dan yang paling menjengkelkan, biarpun pegal, aku nggak bisa mengubah posisi sendiri. Untuk mencapai posisi miring yang betul2 nyaman, perlu bantuan orang lain. Apalagi kalau badan melorot, perlu dua orang untuk memperbaiki posisiku dengan menaikkan badan sehingga kepala berada di ujung tempat tidur.


Badan biasanya melorot setelah miring ke kiri atau ke kanan. Kalau sudah melorot, sedih deh. Rasanya bener2 seperti terkapar tak berdaya. Badan nggak bisa ditegakkan dalam posisi setengah duduk, apalagi duduk... Kalau ditegakkan, maka posisi dagu akan menempel di leher.


Ranjangku ini adalah ranjang khusus pasien yang bisa dinaik-turunkan dengan memutar engkol yang tersedia. Ini manual. Ada juga ranjang elektrik yang dilengkapi dengan remote control, tapi harganya sampai 3x lipat ranjang manual. Mahal sekali.


Seandainya aku tidur di ranjang elektrik, kalau badan melorot, tetap saja perlu orang untuk membantu menaikkan. Pada saat dinaikkan, yang ditarik bukan badannya, tapi kain lapisan yang memang dipasang di atas seprei. Lebih praktis.


Tenaga manusia juga diperlukan untuk memindahkan aku dari ranjang ke kursi roda. Dalam hal ini, mereka mengangkat aku dengan menarik sepreinya.



”Sebetulnya ada alat khusus untuk memindahkan pasien,” kata bu dokter.


Alat ini namanya patient lift. Harganya selangit, setinggi harga ranjang elektrik. Di sini juga susah dicari dan tidak populer. Orang jarang memerlukan karena biasanya di rumah ada banyak orang sehingga selalu tersedia tenaga untuk mengangkat pasien jika diperlukan.


Lain halnya denganku. Dulu aku tinggal berempat berserta kedua orang tuaku dan seorang sodara di rumah mungil berlantai dua. Aku dan sodaraku tidur di lantai atas. Karena sakit, nggak mungkinlah tidur di atas… Untungnya sodaraku punya rumah yg letaknya tak jauh dari sana. Tadinya rumah yg juga kecil mungil itu dikontrakin, tapi kebetulan kemarin lagi kosong. Jadi ia mengajakku pindah ke sana.


Kita tinggal berdua di sana dengan ditemani seekor kucing dan oh ya, mbak yang merawatku. Ada juga mpok yang pagi2 datang untuk membersihkan rumah, mencuci dan masak. Kalau mpok sudah selesai bekerja, tinggallah aku bersama si mbak karena sodaraku ada di kantor sedangkan si kucing hobinya main di luar rumah.



Aku mencoba browsing di internet, mencari info tentang patient lift yang manual, syukur2 ada yang second sehingga harganya terjangkau. Tapi hasilnya nihil.


Tergantung pada alat atau pada orang lain memang nggak enak. Itulah sekarang yang kualami. Tapi...yach bagaimana... mau nggak mau mesti dijalani... Sudah rutin aku minta tolong si mbak...


Aduh pegel nihhhh, tolong miringin badan ke kiri, tolong mau telentang, naikin sedikit ranjangnya biar posisi kepala enakan, naikin badannya biar nggak melorot... (tapi kalo yg ini harus ber-2) ambilin minum, ambilin makan, potongin buah, ambilin laptop dll.....
Temanku punya ide brilian. Supaya aku nggak capek manggil2 si mbak, dibelikannya aku bel. Mirip bel di losmen kecil di luar negeri yang kekurangan resepsionis sehingga tamu perlu menekan bel untuk memanggil si pemilik. Jadi kalau perlu sesuatu, tinggal .. ting…. (nggak pake ..tong....). Cukup satu kali saja karena bunyinya cukup nyaring hingga terdengar di seluruh rumah… Keren ya?





Tuesday, August 2, 2011

Menjelang Kematian?


Beberapa waktu yll seorang teman bertanya: “Kalau baca SMS pusing nggak?”


“Oh, sama sekali enggak,” jawabku.


Pertanyaan serupa datang lagi kemarin dari teman lain.


”Kamu bisa baca (buku)?”


”Bisa dong....”


Rupanya mereka sangat prihatin dengan kondisiku dan mengkhawatirkan bahwa keadaanku sudah sedemikian parahnya sehingga kepala bisa puyeng hanya karena membaca SMS, apalagi buku.


Mereka pasti menganggap bahwa sebagai penderita kanker stadium 4 yang sudah lebih dari tiga bulan tergeletak di tempat tidur, pasti kondisiku sangat mengenaskan. Apalagi ditambah dengan bagian badan bawah tubuh dan kaki yang tak dapat digerakkan. Hiiiihh serem....


Memang betul aku kena kanker. Memang betul penyakit itu sudah memasuki stadium 4 karena sel2 kanker yang tadinya bercokol di payudara sudah menyebar ke berbagai bagian tulang, termasuk tulang belakang. Memang betul sumsum tulang belakang juga tak luput dari serangan panyakit ini sehingga syaraf terganggu sehingga kaki terkulai layu, lumpuh.


Tapi itu bukan berarti bahwa sepanjang hari aku hanya terkapar tanpa daya, memandang langit2 kamar dengan pandangan kosong sambil meratapi nasib.


Tuhan Maha Baik. Aku masih dapat membaca, menulis dan berhitung… Sebagai penulis, sekali-kali tulisanku masih muncul di media tempatku bekerja (dan tentu saja di blog). Sebagai penerjemah independen, aku masih dapat mengerjakan tugas dengan baik jika ada order pekerjaan.


Syukurlah aku masih dapat menjalani hidup yang berkualitas, walau penuh perjuangan. Perjuangan ini masih berlanjut terus dan sekarang ini berbentuk kemoterapi. Dulu aku sudah pernah menjalani kemoterapi sebanyak dua kali. Berbeda dengan kemo sebelumnya yang dilakukan dengan infus, kali ini aku menjalani kemo oral. Obat cukup diminum saja.


Nama obat kemo ini capecitabine dengan merek Xeloda. Di RS Dharmais harganya tak kurang dari Rp 43 ribu per kapsul sedangkan di Apotek Grogol Rp 38 rbu dan di salesman langgananku Rp 37 ribu. Obat diminum pagi dan malam, masing2 sebanyak tiga kapsul. Obat ini diminum selama dua minggu berturut2, lalu setelah ada jeda selama seminggu, obat kembali diminum dalam jangka waktu yang sama. Proses ini diulang sampai delapan kali atau 24 minggu alias enam bulan. Karena aku mulai minum obat tgl. 2 Juli 2011, maka kemo kali ini kira2 baru akan selesai Januari tahun depan. Lama ya?


Berbeda dengan kemo melalui infus, kemo oral lebih sedikit efek sampingnya dan tidak mengakibatkan kerontokan rambut. Pengaruhnya pada setiap orang berbeda. Ada yang mual dan kehilangan nafsu makan. Aku sendiri waktu pertama kali minum obat itu merasa sangat tidak nyaman selama dua hari. Bukan rambut, tapi badan yang serasa mau rontok... Untunglah itu tak berlangsung lama.


Beberapa hari kemudian, badan terasa jauh lebih baik. Tadinya, sebelum kemo, aku sering merasa nyeri di dada kiri. Tapi rasa nyeri itu telah berkurang, bahkan sekarang sama sekali sudah reda.


Dulu aku selalu terbangun setiap malam... eh, pagi, sekitar jam 1... dan tidak dapat tidur sampai subuh karena kepanasan meskipun ruangan ber-AC. Kapan itu pernah aku bertanya ke dokter soal rasa panas yang sering menggangguku dan memperoleh jawaban: ”Itu karena penyakitnya.” Sekarang aku masih suka terbangun, tapi relatif lebih mudah tidur kembali.


Oh ya, aku juga minum air rebusan daun sirsak. Dulu daun sirsak kuperoleh dari teman yang mendapatkannya dari saudara yang memiliki pohon sirsak. Tapi kini daun sirsak banyak dijual setelah dikeringkan dan dipotong2 kecil serta dimasukkan ke dalam plastik. Sangat praktis. Seorang teman pernah memberiku satu dos daun sirsak kering tsb.


Konon kabarnya daun sirsak sangat bagus, lebih hebat dari kemo. Efek sampingnya adalah tubuh merasa panas. Jadi, apakah aku seringkali kepanasan karena minum rebusan air daun sirsak? Belum tentu. Karena suatu ketika aku berhenti meminumnya, tetapi badan tetap saja merasa panas.


Kembali ke awal cerita.... Teman yang menanyakan apakah aku pusing kalau membaca SMS ternyata punya niat tertentu. Sebelumnya ia menanyakan nomor PIN Blackberry, padahal aku nggak punya BB.


”Teman-teman sepakat untuk membelikan BB untukmu supaya kita bisa ramai2 ngobrol....,” katanya.


Aduh, baik banget teman2 SMA-ku itu.


Sedangkan teman yang menanyakan apakah aku bisa membaca (buku), datang ke rumah sambil membawa buah2an dan sebuah buku.


Sebelum pulang, ia menyerahkan buku yg masih terbungkus dalam kantong plastik.


”Banyak yang terbantu dengan buku ini,” katanya. “Jangan lihat judulnya,” ia menambahkan,


Setelah ia berlalu, aku ambil buku itu dari kantong plastik. Judulnya 10 Jam Menjelang Kematian.


Buku itu mengisahkan tentang pasien kanker yang oleh dokter divonis tinggal hidup 10 jam, tetapi ternyata ia bisa bertahan hidup bertahun2 kemudian, sampai sekarang. Resepnya: keteguhan iman pada Tuhan.