Sunday, February 14, 2010

Nafsu BESAR tenaga kecil

Tes.. tes.. tes… keringat bercucuran. Gila. Capek banget rasanya. Lho, ngapain aja emangnya?
Justru itu…!!!! Kalo cape karena kerja rodi, ya itu wajar. Tapi yang kulakukan bukan pekerjaan berat.… Cuman mindahin pot tanaman. Ukuran pot memang macam-macam, ada yang segede gentong atau sebesar drum. Tapi rumahku kan kecil mungil, jadi potnya juga kecil-kecil.
Aku suka tanaman. Tapi terbatas pada melihat dan menikmati… Kalau untuk menanam dan memelihara… kurang suka. Berhubung nggak punya tukang kebun, sekali-kali mau nggak mau, ya terpaksa berkebun… Sebetulnya kalau lagi mood, senang juga sih beres-beres, nyabutin rumput dan tanaman liar di sela-sela rumput kucaiku yang indah… Kucai ini bentuknya lucu sekali dan perawatannya mudah, nggak perlu dipotong. Rumput ini kutanam di depan kamarku yang teletak di lantai atas sedangkan kebun bawah, aku tanamin rumput gajah mini, yang juga nggak perlu dipangkas karena bentuknya yang mini… nggak bisa menjadi tinggi.
Pot yang aku pindahin itu berisi tanaman obat bernama “sambung nyawa”. Konon kata teman yang memberiku tanaman itu, kasiatnya hebat sesuai dengan namanya. Dulu aku rajin, setiap mau berangkat ke kantor, aku petik satu helai dan dikunyah. Rasanya mint. Tapi ternyata kata temanku, makannya mesti segenggam… Padahal tanamannya kecil, daunnya cuma sedikit. Kalau diambil segenggam setiap hari, habis dong… Jadi aku berhenti malalap daun itu.
Nah, kemarin-kemarin ini aku lihat tanaman itu sudah semakin besar dan daunnya banyak sekali. Saking rimbunnya, sampai- sampai pot itu tampaknya sudah tak sanggup menahannya. Jadi tadi aku pindahin potnya sekalian memangkas sebagian tanamannya untuk aku pindahin ke dua buah pot yang lain. Sekalian beresin dikit-dikit kebun yang luasnya tak sampai 10 meter persegi itu dan kelihatan dari jendela samping kamarku.
Sebetulnya yang aku lakukan itu kan nggak banyak. Itu pekerjaan ringan. Tapi aduh mak, capeknya minta ampun…. Kayak abis mindahin 1.000 pot saja…
Memang secara fisik kondisiku sekarang ini sudah lemah. Sejak sakit, kekuatanku berkurang. Emang sih… dulu juga nggak sekuat Superman, tapi bisalah kalo cuma angkat Aqua galon, TV 14 inci atau CPU komputer. Sekarang ini, ngangkat kantong belanjaan berisi buah-buahan, susu dll aja rasanya setengah mati. Harus dipisah dalam beberapa kantong supaya ngangkatnya ga susah. (Makanya aku lagi mau coba belanja online, biar lebih praktis).
Kekuatan fisik terasa banget ngedrop sejak sekitar bulan Agustus. Waktu itu aku bebenah rumah setelah selesainya pembuatan taman dan kamar baru di lantai atas. Karena keasyikan benenah, jadinya capai luar biasa dan sejak itu kondisi fisikku menurun drastis.
Bukti nyata terkuak di bulan puasa. Seperti biasa, tiap pagi aku ikut senam pernapasan di lapangan Carrefour tidak jauh dari rumah. Peserta senam kebanyakan berusia paruh baya, jadi gerakannya tidak terlalu heboh. Apalagi waktu bulan puasa, gerakannya lebih ringan dari biasanya. Selesai senam aku pulang bersama seorang ibu berusia 70-an tahun.
“Cape, bu?” aku bertanya.
“Nggak,” jawabnya santai.
Hah? Padahal, aku merasa cape sekali… Oh, alangkah menyedihkannya. Hiks hiks…
Sekarang ini rasanya malah lebih lemah. Melemahnya kondisi ini terasa sejak aku kembali dari Singapura tgl 8 Januari 2010. Di sana aku banyak jalan kaki. Di airport saja harus berjalan lumayan jauh, meskipun ada moving walkways (apa ya bahasa Indonesianya? apakah jalan berjalan?). Selain itu untuk naik turun kereta di subway juga diperlukan banyak tenaga. Pada dasarnya memang aku senang jalan dan ketika itu kondisiku masih memungkinkan.
Sejak pulang dari negeri singa itu, rasanya badan semakin loyo. Dan kalau berjalan, rasa sakit di pangkal paha dan di lutut kanan muncul lagi meskipun aku masih rajin terapi chi. Aku bahkan sudah berhenti senam sekitar sebulan yang lalu karena nggak sanggup ikut kegiatan yang lamanya satu jam itu. Sekarang ini aku hanya melakukan senam ringan sendiri di rumah semampuku karena biar bagaimanapun juga olah raga itu hukumnya wajib, lho.
Biarpun lemah secara fisik, tapi untungnya mental masih kuat. Mesti bersyukur karena Tuhan masih memberi jiwa yang sehat. Dengkul kanan memang suka sakit kalau dipakai berjalan, dan kalau malam suka terasa nyut-nyutan, tapi untung lho otakku adanya di kepala, jadi nggak terpengaruh…. Hehehhe…. Pikiran masih jernih dan akal sehat masih jalan. Karena itu setiap hari masih bisa bekerja seperti biasa.
Dan yang penting, masih bisa nyetir. Biarpun jalan kakinya terseok-seok, tapi dengan mobil, aku bisa lari kencang … ngebut… Eh, nggak kok… nggak ngebut.. Pokoknya bisa ke mana-mana. Kalo memang betul-betul perlu, bisa ke mal juga, asal di sana nggak kebanyakan muter.
Selain itu tentu saja masih banyak kegiatan lain yang bisa dilakukan. Bisa nonton TV, bisa baca koran, bisa ngobrol…dan bisa ngeblog…

5 comments:

Pucca said...

iya, lucu rumput kucai-nya, emang jarang2 ya sim? a.tau nanti bakal rapet? aku dulu pernah nanem rumput gajah mini tapi mati hiks.

sima said...

hi Vi, kata yg jual sih nantinya bisa rapet2. ini sudah beberapa bulan,tp kok masih jarang2 ya?

yik said...

Ih kebunnya lucu, semuanya serba kecil mungil :) Mb Sima kalo kesulitan jalan2 & angkat2, lbh baek berkebun saja. Enak 'kali kalo dilakukan sambil ngunyah taneman yg yg sudah gondrong itu... :)

sima said...

yik, kemarin selama 2 hari ber-turut2 aku dah makan daunnya beberapa lembar. eh terus kelupaan... dasar pikun ya. untung diingetin. besok mulai lagi ah... :)

Gino Tugino said...

coba browsing bekam... bismiLLAH...