Thursday, September 17, 2009

Penantian yang Melelahkan

Lelaki itu pertama kali menyapaku ketika kita bertemu di depan apotik Yayasan Kanker Indonesia, Jl. Sam Ratulangi, Jakarta Pusat.
Namanya, sebut saja, si Amin.
Ketika si Amin mengetahui kalau aku membeli Zoladex setiap bulan, ia berkata: “Beli sama saya aja, mbak. Harganya sama. Bisa diantar, jadi nggak usah repot-repot ke mari.”
Asyik… Bisa menghemat waktu dan BBM.
Ia lalu memberiku kartu nama. Di situ tertulis nama lengkap serta jabatannya, yaitu Oncology Medical Representative, serta kantor tempatnya bekerja, PT AstraZeneca Indonesia.
Kejadiannya sudah berlangsung cukup lama, sekitar setengah tahun yll. Sejak itu, setiap bulan menjelang hari “H” alias hari penyuntikan Zoladex, ia rajin mengirimkan SMS untuk menawarkan obat. Bagus juga sih, sebagai pengingat alias reminder.
Sejak beberapa bulan yang lalu, ia meminta agar uang ditransfer saja. Aku tidak keberatan karena lebih praktis kalau uang ditransfer lewat I-banking daripada harus mengambil uang tunai di ATM.
Aku pernah menanyakan apakah ada program “buy three get one free” seperti yang pernah ditawarkan di National University Hospital, Singapura. Jawaban yang positif baru aku terima pada bulan Juli.
“Siang Mb Sima. Skdr informasi Zoladex yg 3.6 Jg Lg Ada Program 3 Bonus 1 Box. Trm Ksh,” demikian SMS yang kuterima tgl. 4 Juli 2009.
Dengan rasa syukur, aku mengikuti program itu. Lumayan…. soalnya harga obat ini cukup mahal (Rp 1.246.700).
Ketika si Amin pada tanggal 8 September pagi mengirimkan SMS untuk menawarkan obat, ia menambahkan bahwa bulan depan aku akan mendapatkan bonus Zoladex gratis.
“min, kapan bs antar zoladex ke kantorku di slipi?” aku menjawab melalui SMS jam 09:18
“nnt sore bisa mb, tp tlng ditransfer dl ya mb uangnya… biar pg ini Amin lsg pesenin zoladexnya, trm ksh,” jawabnya -- 09:21.
“ok, trims. Sebentar lg aku transfer.” – 09:23
“min, aku sdh transfer. Jam brp nanti sore diantar ke kantor? Trims” – 10:18
“jam 6 ya mb, trm ksh.” --10:24.
“ok, trims ya, min.” – 10:24
Tunggu punya tunggu, hingga sore, obat belum juga diantar.
“Min, apakah ada masalah dg obat?” – 18:21
“Kagak ada masalah mb, obatnya udah sama Amin, cmn mslh di pengiriman, smp nh malam amin msh di brefing awal bulan sama bos, maaf ya mb baru ksh khabar.” -- 19:19
“Oh. Jadi gimana? Besok pagi bisa diantar ke kantor jam berapa?” – 19:21
“Ok dh mb, bsk pagi jam 11 udah sampai kantor mb, trm ksh atas pengertiannya.” 19:28.
“Ok. Trims ya. Sampai besok.” – 19:29
Keesokan harinya, ternyata tak ada kiriman obat dari si Amin.
“Min, katanya obat mau diantar jam 11, sekarang sdh jam 16. Gimana? Jam berapa mau diantar?” – 15:56.
Tak ada jawaban. Mesti dikirim ulang nih SMS-nya.
“Min, katanya obat mau diantar jam 11, sekarang sdh jam 16. Gimana? Jam berapa mau diantar?” – 16:09.
“Ya mb lagi didistributor ngurus bonus zoladex buat mb, rencananya kl udah beres sklian dikirim 2 box zoladex. “ 16:27
“Ok. Aku tunggu ya. Langsung dot 2 box? Trims banyak.” – 16:28
“Ya mb, nh distributornya lg amin kejar terus dgn menunjukkan bukti2 pengambilan dari bulan juli atas nama mb sima, tgl tunggu acc kacabnya.” – 16:39
“Ok. Aku tunggu kabar selanjutnya ya. Jangan lupa ksh kabar.” – 16:39
Beberapa waktu kemudian aku SMS si Amin lagi.
“Kira2 kepastiannya kapan? Apa bs hari ini?” – 17:04
“Mudah2an mb, tp zoladex yg satunya amin antar shbs buka bersama dikantor mba sore ini, nnt amin titip diresepsionis.” – 17:08
“Ok. Hari ini aku di kantor sampai malam, aku tunggu aja. Trims “ – 17:09
Untuk memastikan, aku kemabli mengirim SMS buat si Amin.
“Min, sdh buka puasa? Obat jadi diantar malam ini? Tolong kasih kepastian.” – 18:39
Hening….
“Min, sudah hampir jam 9 malam, belum ada kabar? Aku msh menunggu kepastian, obatnya aku perlu besok pagi.” – 20:45
Tak ada jawaban. Gimana sih si Amin ini. Kesel banget rasanya. Huh dasar lelaki!! (Eh, sori ya .. ga ada hubungannya dengan gender... hehehhee) Begitu sampai rumah, malam itu aku bongkar laci untuk mencari kartu nama si Amin. Untung ketemu. Pagi-pagi aku akan hubungi HP-nya. Jika tak diangkat, aku akan telepon kantornya.
Karena si Amin tak mengangkat teleponku, maka aku hubungi kantornya.
“Pak Amin tidak di tempat, hubungi HP-nya saja,” kata resepsionis PT Astra Zeneca.
“Saya sudah berusaha menghubungi HP-nya. Tapi ia tak dapat dihubungi.”
Resepsionis mencatat nomor HP-ku dan berjanji akan menghubungiku nanti.
Tak lama kemudian, aku mendapat telepon dari PT Astra Zeneca.
“Pak Amin sudah resign bulan lalu,” kata resepsionis. Ia lalu menghubungkan aku dengan rekan si Amin.
Ketika kusampaikan persoalannya, ia berjanji akan menanyakan pada si Amin.
Selang beberapa menit kemudian, aku menerima SMS dari si Amin.
“Maaf mb msh brefing nnt jam 11 amin sdh sampai di kantor, maaf ya mb baru bls,“ demikian bunyi SMS yang kuterima pada jam 08:55
“Ok. Jam 11 di kantor ya. Trims” – 08:57
Apakah si Amin akan menepati janjinya, datang ke kantor pada pukul 11 untuk mengantar obat? Aku ragu.
Si Amin memberi kesan bahwa ia sangat sibuk dengan briefing dengan boss di kantor dan bahkan tak sempat mengantar obat karena ada acara buka puasa bersama. Tetapi resepsionis mengatakan bahwa ia sudah tak lagi bekerja di sana.
Masalah obat ini membuatku lelah. Ya sudah aku pasrah saja. Kalau memang obat tak diantar, terpaksa siang ini aku harus ke YKI.
Sebetulnya aku tak ingin terlalu memikirkan soal obat karena pagi itu banyak hal lain yang harus aku kerjakan
Ketika aku sedang sibuk mengerjakan sesuatu, ada SMS masuk ke HP-ku.
“Mb zoladexnya sdh amin titip ke resepsionis ya, untuk bonus sdh slsi hanya dikirimnya pada waktu penyuntikan bulan depan lsg dari distributornya, trm ksh.” – 10:50
“Trims ya Min. Untuk bln dpn saya harus hubungi distributor dimana? Apa bisa dpt nama orang yg bs dihubungi dan telponnya?” – 10:52
“Nnt lsg dianter mb, bgt dpt konfirmasi dari amin, alamat mb sdh didistributornya”. – 12:14
“Ok. Trims ya Min.” – 12:15
Untung.... Akhirnya datang juga kiriman obat dari si Amin. Mengenai bonus, aku tak berani mengharapkannya.
Cerita belum selesai. Masih ada lagi SMS dari si Amin.
“Siang mb, mau Tanya aja td tlpn kekantor aku ya? Trm ksh” – 14:51
“Iya Min, tadi aku telp ke kantor krn perlu kepastian untuk bikin janji dg dokter.” – 15:24.
Tak ada tanggapan dari si Amin.
Mungkinkah itu adalah SMS-nya yang terakhir? Apakah dapat kita simpulkan demikian atau perlu kita tunggu kepastiannya bulan depan menjelang hari H?

7 comments:

tweenes said...

mbak,salam kenal yah...cerita mbak ngingetin aku sama papa mertuaku...beliau kena kanker thn 2005..aku lupa kanker apa...trs thn lalu kankernya balik lagi...bln juni ini udah bersih..tapi Tuhan berkata lain, bulan agustus, ternyata udah ada skitar 3cm kanker di livernya...beberapa hr setelah itu, ternyata dikasih tau kalau kankernya udah nyebar ke tulang dan paru"..kebetulan mama mertuaku kerjanya di cancer research centre di jepang, jadinya yah beliau lebih tau seluk beluknya...

Pucca said...

iya sim, ribet amat itu si amin, karna dia udah resign kali ya.. abis ini gak pesen ama amin lagi deh.. gua bacanya juga ikut2an emosi, gua juga paling sebel kalo bertele2 gitu..

sima said...

@tweenes: salam kembali ya. semoga kondisi papa mertua membaik. syukur ada "ahli" di dekatnya, yang pasti mengerti betul segala sesuatu terkait dengan keadaannya.
@pucca: iya vi, ribet banget urusannya. untung ya akhirnya obat diantar.... lega

once_alifetime said...

Satu hal, kalau ada apa-apa, misalnya sampai beneran gak dianter, bisa dikomplen ke Astra Zenecanya, ntar si Amin bisa masuk 'blacklist' seluruh farmasi di Indonesia. Soalnya setahu gua reputasi medrep juga harus sangat terjaga:)

sima said...

oh gitu ya Ly, moga2 aja si Amin bisa kasih layanan yg lbh baik ke klien dia yg lain ...dan ke gw jg... :)

amd said...

piye mbak kelanjutannya, apa masih brani si amin ngirim sms lagi? Duh, ternyata emang banyak raja tega yah..:((

sima said...

sebulan kemudian sebelum jadwal suntik, aku sms dia,nanyain ada bonus ga. katanya ada, tapi baru bisa dikirim 2 hari kemudian. setelah 2 hari aku sms, dia bilang bisa diantar sore. sore hari ga ada kabar. begitulah, mundur terus sampai hari H dan tetep ga dianterin. jadi aku beli obat di YKI. ternyata kata mbak di YKI, si Amin itu sudah dipecat dari kantornya karena bermasalah.