Tuesday, September 8, 2009

Yang bener, dok..

Begitu aku memasuki ruang praktiknya, bu dokter menyambutku sambil tersenyum. “Good news.”
Lho. Kok bisa good news? Bukankah hasil CT scan dari RS Pantai Indah Kapuk kemarin menunjukkan bahwa ada penebalan di dinding paru-paru? Dokter spesialis radiologi RS PIK jelas-jelas mengatakan bahwa aku perlu mewaspadai adanya metastasis awal alias penyebaran sel-sel kanker di organ tubuh yang vital itu.
“Nggak ada penyebaran kanker di sana,” kata Dr. Tan dari NUH Jumat lalu (4 September 2009).
Meskipun tidak ada penyebaran di paru-paru, bu dokter tetap menyarankan agar aku waspada karena hasil tumor marker-ku tinggi, jauh di atas normal. Jika nanti masih tetap tinggi, maka obat terpaksa harus diganti dan obat yang baru ini harganya jauh lebih mahal, begitu kata bu dokter.
Untuk menurunkan Soeharto, mahasiswa pada demo. Demo juga cukup ampuh buat menurunkan harga BBM. Supaya hasil tumor marker turun, gimana caranya ya? Padahal aku sudah berpikir +, sudah rajin minum obat, sudah rajin senam lho. Tentu saja aku juga berdoa, berserah pada Tuhan. Ada teman yang menganjurkan meditasi. Hmm.. boleh juga dicoba.
Kembali ke laptop.... Dokter RS PIK menduga kalau sel-sel kanker sudah menyerang paru-paru karena ada bercak-berca hitam di sana. Bagian yang ada bercak-bercak hitam itu ditandai dengan spidol warna merah.
“Bercak2 itu dari dulu juga sudah ada. Kalau dibandingkan dengan hasil CT scan sebelumnya, bercak-bercak ini malahan lebih terang, jadi lebih baik,” kata bu dokter NUH.
Ia lalu meletakkan foto hasil CT scan lama dan baru dan menunjukkan bercak-bercak yang dimaksud.
Mengapa dokter RS PIK tidak membandingkan hasil CT scan yang lama dengan yang baru? Padahal hasil CT scan yang lama aku sertakan ketika akan melakukan CT scan pada tgl. 27 Agustus 2009 kemarin.
CT scan sebelumnya aku lakukan di RS Pluit pada tanggal 3 Maret 2009. Menurut dokter ahli radiologi RS Pluit, hasilnya cukup baik dalam arti tidak ada tanda-tanda penyebaran kanker ke organ tubuh lain.
Aku sudah 3x melakukan CT scan di RS Pluit, tetapi karena karena ingin menghindari prosedur CT scan yang tidak nyaman, aku pindah ke RS PIK yang katanya memiliki peralatan yang sangat canggih. Memang bagian radiologi RS PIK jauh lebih luas dibandingkan dengan RS Pluit yang sempit, dan proses di RS PIK juga jauh lebih efisien.
Secanggih apapun peralatannya, tanpa dukungan tenaga yang baik, apa gunanya?
Grrrrrr................ #@!!!#%%%%
Ketika temanku mengetahui soal hasil tertulis CT scan dari RS PIK yang ngaco, ia langsung berkomentar: “Kamu bisa tuntut RS PIK.”
“Ya betul, minta ganti rugi, kan lumayan bisa untuk biaya berobat,” kata temanku yang lain.
Memang gara2 itu aku jadi rugi materi dan non-materi. Yang lebih besar, tentu kerugian non-materi.
Karena merasa bahwa kanker sudah menyerang paru-paru, aku jadi menyalahkan diri sendiri. Soalnya, aku sedang merenovasi kamarku yang amat panas dan membuat roof garden (keren ya) agar suasana adem. Karena renovasi yang berjalan dari awal bulan Agustus itu, banyak debu bertebaran. Jadi aku pun menghirup udara kotor dicampur bau cat yang mengandung racun.
Nah, aku sempat berpikir, jangan2 karena itu maka paru-paruku kena kanker. Ah, kalau tau begitu, tentu aku bisa mengungsi untuk sementara waktu... tidur di tempat yang udaranya bersih dan segara... misalnya berkemah di pinggir hutan., dekat anak sungai yang airnya jernih... (hahaha.... enak ya... )



PS. Judul tulisan ini diilhami oleh kasus Prita vs RS Omni Internasional.

4 comments:

Yuniko said...

Mudah2an RS merespons positif yha. Kalau pasien/klien puas kan RS juga ikut puas karena kebanjiran pasien.

Pucca said...

walah.. iya sim, bisa tuntut tuh ke rs pik.. udah kita rugi uang, rugi waktu, rugi tenaga, rugi pikiran lagi..
tapi asal jangan ditahan kaya prita aja :(
tapi artinya berita baik donk ya, selamat :)

My Jurney said...

Kalau kaya begini, sampai kapan kita sebagai orang Indonesia percaya sama dokter dan RS di Indo. rasanya mending sekalian terbang ke SG daripada 2x periksa yah, hasilnya jelas.

t sima gunawan said...

@ mbak Yuniko,
Moga2 dokter RS PIK lebih teliti dan hati2 ya. Masa sih kalah dengan RS Pluit dan NUH? Pasien kan capek.
@ Pucca,
hahaha.. betul, berita baik. untung kan? :)
kalo sampai ditahan seperti Prita, wah, ntar aku jadi ngetop dong.. masuk koran, TV.. ga mau ah, repot dikejar2 paparazi... hahahaha..
@jurney,
betul, menyedihkan sekali kondisinya kalo terus2an begini... seharusnya dokter2 di sini lebih cermat. mereka nggak bodoh, hanya kurang teliti dan kurang peduli.