Monday, December 8, 2008

Egois Bikin Emosi

Hari Minggu kemarin hujan lebat mengguyur ketika aku tiba di Carrefour untuk membeli buah-buahan dan berbagai keperluan.

“Hujan-hujan begini enaknya makan yang anget-anget,” kata teman yang menemaniku belanja.

Maka kami pun mampir dahulu di deretan gerai makanan untuk menyantap baso Afung yang terkenal enak itu. Tempat makan ini letaknya menempel di emperan bangunan utama, menghadap ke areal parkir.

Tak lama setelah kami duduk, hujan mereda. Tiba-tiba semua dikagetkan oleh bunyi petir yang menggelegar.... eh salah, ternyata ada yang sedang marah besar. Seorang bapak yang tergesa-gesa hendak pulang gusar bukan buatan karena mobilnya terhalang oleh Daihatsu Xenia warna silver yang parkir seenak udelnya sendiri. Usaha untuk mendorongnya sia-sia belaka.

Petugas pun datang untuk mencatat nomor mobil tsb dan mengumumkan agar pengemudi segera memindahkannya .

Tunggu punya tunggu, sang pemilik tak juga datang.

“Mobil bagus tapi yang otaknya nggak bagus!” ujar si bapak dengan nada sengit. Wajahnya merah padam dibakar amarah.

Ketika sebuah mobil yang diparkir agak jauh di depannya keluar, munculah suatu gagasan. Ditendangnya tiang-tiang besi penyangga rantai yang berada di samping mobilnya. Tiang-tiang yang sengaja dipasang untuk memberi ruang bagi pengunjung agar leluasa berjalan kaki menuju pintu masuk Carrefour itu terguling dan rantainya tercerai-berai. Lalu ia memundurkan mobil dan sengaja menabrakkannya sedikit ke Xenia yang parkir sembarangan, kemudian dengan sigap dibantingnya stir ke kiri dan meliak-liuk dengan susah payah sebelum akhirnya berhasil meninggalkan areal parkir.

Siapa sih orang yang parkir seenaknya itu? Lagipula, terlalu sekali dia, kenapa tidak segera keluar untuk memindahkan mobilnya?

Kami menyantap baso pelan-pelan dan ketika sudah hampir habis, barulah datang si pemilik mobil. Seorang ibu berjilbab modis dengan anak perempuan ABG yang menenteng kantong plastik belanjaan.

“Tadi hujan lebat sih,” katanya kepada petugas yang menegurnya.

Dengan santai ia masuk mobil, tak sadar kalau bagian bawah mobil di dekat pintu sedikit penyok. Juga tak sadar kalau perbuatannya itu tidak etis dan sangat egois.

Tak ada kata maaf, tak ada rasa sesal. Tak ada rasa malu.

2 comments:

Elyani said...

Tidak disiplin, tidak bertanggung jawab terhadap kepentingan publik rasanya bukan hal yang baru dinegara ini. Misalnya, orang sering kali malas jalan menuju halte dan menghentikan kendaraan umum dimana saja, tidak peduli apakah arus kendaraan dikiri kanan nanti akan menjadi macet atau tidak. Angkutan umum ngetem sembarangan adalah contoh lain yang menjadi pemandangan sehari-hari. Untung saja busway cukup tinggi ya pijakan-nya...kalau tidak sih bisa2 penumpangnya pada memilih lompat sebelum nyampai halte. Bagaimana merubah perilaku seperti pengemudi yg parkir sembarangan tadi??? gak bisa diapa-apakan karena tidak ada sangsi atau penalti yang membuat seseorang jera terhadap kesalahan-nya.

T Sima Gunawan said...

Ely, memang susah ya keadaannya seperti ini. kita semua kurang disiplin. makanya negara ga maju2..