Saturday, November 22, 2008

Suka duka naik Air Asia

Ada dua hal yang melekat di ingatan ketika terbang dengan Air Asia ke Batam dalam perjalanan berobat belum lama ini.
Yang pertama, penumpang tak perlu lagi berebut tempat duduk. Sempat kaget juga ketika saat check in petugas memberi nomor tempat duduk. Nah, kalau begini kan enak. Kenapa nggak dari dulu, ya...
Kedua, ketika pesawat sudah berada di angkasa, ada pengumuman bahwa penumpang dilarang membawa makanan dari luar. Kalau ingin makan, belilah makanan yang dijual di pesawat.
Tak jelas apa dasar hukumnya. Apakah memang ada undang-undang yang melarang penumpang kapal udara menyantap makanan yang di bawa dari rumah atau di beli di luar?
Bagaimana dengan bayi atau penumpang yang sedang diet?
Lalu, kalau ada penumpang ketahuan makan sesuatu yang dibawa dari luar apa hukumannya? Apakah akan diturunkan di jalan (emangnya bis kota..) ?
Sebagai budget airline, Air Asia tak menyediakan makanan atau minuman gratis bagi penumpang. Sedangkan menu yang disajikan sangat terbatas. Dulu dalam perjalanan dari Jakarta ke Batam hanya ada nasi kuning dan sandwich serta mi instan. Kemarin ada nasi lemak dan mungkin juga ada beberapa menu lain.
Meskipun seandainya Air Asia menawarkan seratus, seribu atau bahkan sejuta macam makanan, tetap saja peraturan yang malarang orang membawa makanan dari luar haruslah dicabut karena melanggar HAM.
Oh ya, selain dua hal tersebut di atas, ada lagi nih. Dulu Air Asia punya counter khusus untuk check in bagi mereka yang bepergian tanpa bagasi. Fasilitas itu sekarang sudah tak ada. (Update: ketika aku naik Air Asia tahun 2010, counter untuk express check in sudah ada lagi).
Baru-baru ini biaya bahan bakar alias fuel charge ditiadakan, tapi harga tiket tak banyak terpengaruh. Terlepas dari itu semua, memang Air Asia masih termasuk murah dan aku senang naik Air Asia karena selain harganya ringan, tiket juga dapat dibeli melalui internet. Gampang sekali, sama seperti Valuair yang berbasis di Singapura atau perusahaan penerbangan nasional lainnya, Mandala dan Lion Air.
Soal ketepatan waktu, berdasarkan pengalaman selama ini, kalau berangkat pagi-pagi dari Jakarta biasanya tepat. Tapi dari Batam ke Jakarta seringkali terlambat. Celakanya keterlambatan itu tak selalu diinformasikan dengan akurat.
Air Asia mempunyai komitmen untuk tepat waktu dan berjanji akan memberikan voucher Rp 500 ribu untuk keterlambatan lebih dari 2 jam. Kecuali kalau ada kondisi darurat atau pemberitahuan sebelumnya yang disampaikan 24 jam (atau lebih) dari waktu keberangkatan.
Pesawatku yang seharusnya berangkat dari Batam tgl 8 November jam 16:55 diundur menjadi jam 18:15. Pemberitahuan disampaikan melalui SMS tiga hari sebelumnya.
Pada hari itu, menjelang jam 5 aku sudah sampai di Bandara dengan diantar oleh Utiek, Hardi, Tika dan Atika (thanks yach). Pada saat check in, aku memastikan soal keberangkatan, dan petugas mengatakan bahwa tak ada informasi tentang penundaan lebih lanjut.
Tunggu punya tunggu… Sampai waktunya tiba, tak ada suara pengumuman apa-apa. Hanya ada keterangan di layar informasi bahwa penerbangan tertunda. Tak jelas, ditunda sampai kapan.
Ternyata…. jam 19 lewat kami baru naik ke pesawat. Yach… sudahlah yang penting selamat sampai tujuan.

4 comments:

Elyani said...

Sima kayaknya sering ke S'pore lewat Batam ya? Aku belum pernah tuh. Fiskalnya lebih murah ya? berapa? lalu dari Jakarta-Batam bolak balik pakai Air Asia berapa kurang lebih?

mbakrita said...

Tika udah kayak adiknya Mbak Utiek aja yah? Udah gadis beneran euy :)

T Sima Gunawan said...

hi Ely, fiskal lewat Batam Rp 500 ribu, tapi tahun depan gratis... soalnya aku dah punya NPWP :)
dari Jkt-Batam pp kemarin habis sekitar Rp 900 ribu, lalu untuk feri dan tax Batam-Sgp pp = sekitar 50 SGD.
kalau mau langsung Jkt-SIN (one way) yg paling murah Lionair, kemarin booking untuk awal thn depan, harganya Rp 829 ribu. kalau Valuair USD 90-an.
hi Rita, memang banyak yg bilang kl Tika dan Utik itu kayak kakak adik.. :)

titah said...

Jangan kuatir Sima, peraturan dibikin untuk dilanggar (kalau tidak ada pelanggaran tidak perlu ada peraturan kan!). So, selamat makan-makan bekal dari rumah. Aku suka melanggar aturan makan ini kalau lagi wisata sama anak/keponakan. Seru juga deg-degannya pas digeledah di pintu masuk. Habis, beli makanan di tempat wisata mahal banget sih! Hehe..!