Wednesday, June 11, 2008

Nadi Halus, Infus tak Mulus

Halus tidak selalu bagus. Contohnya mahluk halus. Atau urat nadi di tangan kriku ini. Saking halusnya, maka tenaga medis terkadang kesulitan waktu akan mengambil darah, terlebih lagi waktu akan memasukkan obat melalui pembuluh darah.
Tak jarang mereka harus menyuntik sampai dua atau bahkan tiga kali sebelum akhirnya jarum menembus dengan sempurna.
Dalam setahun terakhir ini aku sudah ditusuk banyaaaak kali. Mungkin ada 50 kali, termasuk suntikan yang gagal. Suntikan itu untuk:
-infus Zometa (penguat tulang) sebulan sekali
-suntikan hormon dengan Zoladex tiga bulan sekali
-pengambilan darah untuk lab test minimal 3 bulan sekali
-suntikan untuk memasukkan obat sebelum CT scan, PET scan dan bone scan
Dr. Win yang biasa menginfusku bercerita kalau pasiennya yang berurat nadi teramat halus terpaksa dilubangi pada bagian atas dadanya untuk memudahkan pemberian infus melalui pembuluh darah.
“Setelah infus selasai, lubangnya ditutup kembali,” katanya.
Wah, kedengarannya kok serem sekali.
Kalau terpaksa, bisa juga sih diinfus melalui kaki. Tapi yang paling ideal adalah melalui tangan, mungkin karena lebih dekat dengan jantung yang berfungsi sebagai tukang pompa darah ya?
Urat nadi atau pembuluh darah di tangan kananku sebetulnya lebih besar, tetapi karena aku pernah menjalani mastektomi pada bagian kanan, maka jaringan pembuluh darah di sebelah kanan tidak terlalu bagus.
Kalau otot kan bisa tuh dibesarkan dengan latihan angkat beban seperti yang dilakukan Ade Ray. Nah, siapa tahu urat nadi yang halus bisa dilatih sehingga menjadi lebih besar dan menonjol?
Waktu ke Batam 2 bulan yll aku beli hand grip seharga Rp 75.000 di ACE hardware yang pas baru dibuka. Hand grip ini aku taruh di mobil dan kalau lagi macet, aku suka melatih otot tangan dengan alat ini. Sehari seratus kali atau lebih (itu kalau rajin).
Kemarin (Senin, 9 Juni 2008) aku ke tempat praktek dr. Win di daerah Senen, Jakarta Pusat, untuk suntik hormon dan infus.
Aku tunjukkan tanganku, tapi menurut dr. Win, tak ada perubahan dengan urat nadiku.
“Ini sih bawaan. Kalau mau latihan juga mesti bertahun-tahun,” katanya.
Wah… nggak bisa ya dok.
Suster yang akan memasang jarum infus bukan suster yang biasa menanganiku. Tetapi ia sudah berpengalaman selama 8 tahun di RS. Dengan pengawasan dr. Win, ia menyiapkan jarum infus. (lihat gambar)
Sebelum ditusuk, seperti biasa tanganku digerak-gerakkan dahulu, dan ditepuk-tepuk, pergelangan tangan juga diikat. Dengan harapan agar urat nadi yang menjadi sasaran, yaitu urat nadi di bagian atas telapak tangan, dekat jari manis, menjadi kelihatan menonjol.
Suntikan pertama, gagal.
“Wah, nggak bisa, nggak jalan,” kata dr. Win. Yang nggak jalan adalah cairan infusnya, bukan jarumnya.
Lalu sasaran dialihkan ke urat nadi dekat jempol.
“Maaf ya,” kata suster dengan sopan sebelum menusukkan jarum.
“Sakit?” tanya dokter ketika jarum sudah masuk.
Yach, begitulah, sakit sedikit. Tapi tak apa. Yang penting jarum bisa menembus urat nadi dengan sempurna. Aku sendiri selama ditusuk selalu membuang pandangan ke tempat lain, ngeri melihat prosesnya.
“Stop. Stop,” terdengar suara bu dokter. “Tidak bisa, ini bengkak.”
Aku melihat urat nadiku yang ditusuk, memang bengkak sedikit. Jarum segera dicabut. Bekas tusukan ditekan kuat-kuat agar darah tak mengalir, dan diplester.
Suster lalu memeriksa lenganku, di bagian tekukan siku. Dipijit-pijit dan ditepuk-tepuk. Tapi tak kelihatan urat nadi yang menonjol.
“Tidak bisa, lain kali saja. Nanti saya hubungi Suster Tum,” kata dr. Win.
Suster Tum memang biasa menanganiku, tapi suster ini sibuk bekerja di RS yang cukup jauh jaraknya dari tempat dokter berpraktek dan seringkali ia datang dengan tergopoh-gopoh.
Oh ya, untuk suntikan hormon Zoladex tidak ada masalah karena obat tidak dimasukkan melalui pembuluh darah.
Untunglah… Nggak kebayang deh kalau harus memasukkannya melalui pembuluh darah, wong jarumnya aja segede batang korek api… !

3 comments:

Elyani said...

Mbak Sima,

Jangan2 kita memang masih ada famili sama mahluk halus. Aku juga kalau diambil darah yg nyuntik harus ahli kalau gak mau lebam biru dan agak bengkak sesudahnya. Di-infus saja bekas bengkaknya sampai seminggu baru hilang. Tapi apa yg aku alami gak ada apa2nya dengan proses yg mbak Sima hadapi. Waktu baca tulisan ini aku bisa membayangkan betapa tidak nyaman-nya berhadapan dengan si jarum suntik, mana sering pula! Kalau angkat dumble yg sekiloan kira2 bisa membantu pergelangan tangan jadi berotot gak mbak? pernah coba? Tetap semangat ya mbak Sima, aku mau ke Bandung Sabtu ini, mau nengokin temanku yg kanker itu. Mau titip apa? Sukanya apa nih mbak, kasih tau dong? :)

sima said...

thanks ya Ely..
jadi ke Bandung? wah enaknya bisa sekalian jalan2 dong...
aku titip mata ya...
sukanya sih banyaakkk... pokoknya yg enak2 dan asyik2 aku suka.. :)

Anonymous said...

Saya juga kemarin habis disuntik untuk medical checkup, tapi sekarang jadi berbekas biru" gitu, sperti orang abis dipukul / bengkak? kira" knp yah?apakah salah suntik? atau ada apa" dengan saya?apakah bekasnya bisa hilang? Thx :(