Showing posts with label Pengobatan Alternatif. Show all posts
Showing posts with label Pengobatan Alternatif. Show all posts

Sunday, November 27, 2011

Badai belum berlalu





Pernah dengar soal kunyit putih? Pernah dong, ya? Sudah lama juga aku mendengar bahwa kunyit putih bisa menangkal kanker. Dulu, tahun 2004, waktu baru didiagnosa terkena kanker, aku juga pernah mencobanya, tapi nggak serius.



Belakangan ini aku banyak menerima pesan, baik melalui surel maupun BBM, mengenai resep anti kanker yang mengandung kunyit putih.


Begini bunyinya:



OBAT HERBAL UNTUK PENDERITA KANKER



Ada obat herbal kanker dari 3 orang penderita yg sdh berhasil sembuh (2 orang Kanker payudara yg sdh menyebar, kanker tulang sdh stadium 4 dan tdk bisa bangun sekarang sdh jalan). Jika ada anggota keluarga atau kenalan yg kena kanker dan sdh buntu jalan penyembuhan, tdk punya dana, sebaiknya pakai resep ini. Ibu Carla yg sdh mulai disembuhkan yg menyebarkan resep ini & dia berkata, sering saya lihat orang CA meninggal bukan karena kankernya tapi karena effek samping kemo yg sangat keras membuat kondisi pasien menjadi tambah lemah setiap kali sehabis kemo. Sering yg sdh sembuh tulangnya menjadi osteoporosis atau rapuh (termasuk gigi) karena kerasnya radiasi/penyinaran juga obat2an kemo.
Bahan2 :
1. 150 gr Kunyit Putih
2. 150 gr Kunyit Biasa
3. 250 gr Biang Kunyit
4. 25 gr Jahe Merah
5. 100gr Jahe
6. 125gr Temu Ireng
7. 125gr Temu Putih
8. 2-3bh Pinang Muda (hijau)
9. 15-21lbr daun sirih (jumlah tergantung besar kecil daun sirih)
10. 30 gr Asem Jawa
11 Gula Batu (sesuai selera)
Cara membuatnya:
1) Bersihkan, sikat, cuci, lalu dikeprek bahan2 segarnya
2) Rebus dgn 3.5L air dalam panci khusus utk masak jamu/obat cina/enamel
3) Sampai tinggal 2L air
4) Diminum pagi - siang - malam seperti jamu/air biasa, 2L jatah minum utk 2 hari
simpan d kulkas
5) Kalau pancinya kecil boleh direbus dgn 2 L air sampai 1 L utk 2 x rebus
Selamat Mencoba, tolong disebar bagi para penderita semoga banyak orang bisa disembuhkan...


Kebetulan aku bernasib sama seperti yang digambarkan di atas. Kanker payudara stadium 4 dengan penyebaran ke tulang dan sudah nggak bisa jalan. Karena kemiripan itu, aku jadi tertarik untuk mencobanya.


Kalo kunyit biasa, jahe dan asem Jawa sih gampang, di tukang sayur ada. Gula batu juga bisa dibeli di supermarket. Tapi kemana aku harus mencari bahan2 yang lain?


Kemana…. Kemana… kemana…. Kayak lagu Ayu Ting Ting yang cakep itu .. hehehehee…



“Di sekitar sini nggak ada yang jual. Lu mesti ke Senen atau Jatinegara,” kata teman yang tinggal tak jauh dari rumahku di kawasan Bintaro.


Waduh, repotnya. Eh, tapi ternyata ada saja jalan… Temanku yang lain berbaik hati mencarikan bahan2 itu dan mengantarnya ke rumah.



Siiiip. Hari Rabu minggu lalu si mbak membuat jamu sesuai petunjuk. Lalu aku coba minum segelas.



Hoeeekk.. hoeeekk… Aduuh mak, pahitnya luar biasa… Aku mau muntah. Dengan susah payah aku coba habiskan segelas, tapi nggak berhasil. Masih sisa sedikit. Aku sudah nggak tahan, mataku sampai basah oleh air mata karena menahan sejuta rasa.


Segelas saja nggak sanggup, apalagi 1 liter seperti yang tertulis dalam resep!



Malam hari aku coba minum lagi, tapi malah tambah parah. Baru terkena mulut, sudah mau muntah. Yaaahhh, aku menyerah…



Apalagi aku sedang mengalami kesulitan dalam mengunyah/menelan. Jadi kalau minum harus sedikit2. Kalo kopi sih enak diminum dikit2 sambil dinikmati. Lha kalo jamu, weleh2… mana tahan.



Ngomong2 soal kesulitan dalam mengunyah/menelan, problem ini muncul belum lama. Tepatnya pada 22 November 2011. Sejak hari itu aku harus berhati2 kalau makan/minum. Harus pelan2 dan dikit2. Lidahku tidak dapat bergerak bebas, terutama ke arah kiri. Jadi aku mengunyah dengan gigi/rahang kanan saja.



Ketika aku tanyakan ke bu dokter onkologi, jawabannya mengejutkan. Otot/syaraf melemah karena diduga ada “penjalaran ke kepala” dan aku dianjurkan konsultasi ke ahli syaraf. Hiiiiiii suereeeeem.



Meskipun khawatir, tapi aku mencoba bersikap tenang….



Kebetulan ketika itu aku juga tengah menjalani terapi pijat refleksi. Memang sih, kemungkinannya kecil bahwa pijat refleksi dapat membuatku berjalan kembali. Tapi ya tak ada salahnya dicoba setelah temanku bercerita bahwa saudaranya yang kena stroke dan lumpuh bisa berjalan kembali setelah menjalani terapi itu.


Si mas tukang pijat tidak menjanjikan kesembuhan, tapi akan berusaha.



“Terapi harus dilakukan setiap hari karena kondisi sudah parah. Kalau dalam 2 atau 3 minggu tak ada perubahan, maka terapi akan dihentikan,” katanya.


Tentang syaraf di rahang yang melemah, ia mengatakan bahwa itu dapat dicoba dipulihkan melalui pijat refleksi.



Yang pernah menjalani terapi pijat ini pasti merasakan kesakitan ketika telapak kaki dipijat. Tetapi aku tidak merasa apa2, karena kakiku memang mati rasa. Terapi sudah berjalan sekitar 10 hari ketika hari Sabtu kemarin si mas pemijat berhalangan datang. Seharusnya ia datang jam 4, tapi beberapa menit setelah jam 4 ia mengirim SMS yang mengatakan bahwa ia tak dapat datang karena ada resepsi.


“Resepsi kok mendadak, seharusnya kan dia memberitahu pagi2 supaya nggak ditunggu2,” komentar si mbak yang merawatku.



Bener juga, kok si mas pijit ini nggak serius ya? Aku juga ingat komentar bu dokter yang mengatakan bahwa pijat refleksi tidak bisa memulihkan syaraf yang lemah akibat penekanan tumor. Akhirnya, aku mengambil keputusan yang kejam…, kusudahi saja terapi pijat ini…


Hmm.. ternyata aku ini orangnya nggak tekun ya. Minum jamu baru sekali sudah berhenti. Terapi pijat refleksi belum 2 minggu sudah berhenti… Habis, bagaimana…



Aku ingat, dua atau tiga tahun yang lalu syaraf kakiku melemah sehingga aku pincang selama sekitar setahun. Kondisi itu pulih setelah dokter syaraf memberiku suntikan neurobion dan vitamin2.



Lalu aku telepon pak dokter itu. Siapa tahu, dia bisa membantu dengan cara yang sama.



“Nggak bisa, ini kasusnya lain,” katanya.


Waduh. Gimana nih. Aku jadi tambah pusing. Belakangan ini kepalaku memang suka pusing. Aku menduga, ini karena posisi saat tidur yang kurang nyaman. Tapi bisa juga kepala pusing karena penjalaran tumor.



Kenapa ya, kok aku ini nggak sembuh2, malah tambah memburuk. Untunglah, Tuhan selalu memberiku kekuatan dan penghiburan. Haleluya …!! Selain itu dukungan teman2 dan sodara2 juga banyak membantu mengobarkan semangat ’45. Ayo.. maju terus pantang mundur… jangan kalah sama atlet SEAGames…



Minggu depan aku akan menjalani pemeriksaan. Tadinya aku merencanakan untuk bonescan saja. Tapi dengan adanya perkembangan terakhir ini, dokter menganjurkan PET scan atau paling tidak MRI kepala.



Hasilnya akan digunakan sebagai rujukan untuk melawan si kanker busuk yang nggak tau diri ini. Sudah diusir2…eeeh.. masiiih saja nggak mau pergi..


Doakan ya, supaya hasilnya bagus…

Sunday, July 24, 2011

By the way ... Please, just leave me alone!

The Jakarta Post Sun, 07/24/2011


It was a few minutes past noon when, through the window, I saw a woman approach the gate. Oh no, I didn’t want to meet “that woman”.

I immediately switched off the TV and closed my eyes, pretending to be asleep. And then I felt her touching my hand gently and saying softly, “Mbak, are you asleep? I brought your favorite food for lunch.”

I was surprised and relieved. She was my friend, not “that woman”.

“That woman” is an energetic young person I met several times two or three years ago during morning exercises in our neighborhood. She apparently learned I had returned home after being treated for cancer and recently visited me with a box of sanitary pads in her hand.

“Many people who suffered from cancer and other diseases are cured because of these sanitary napkins. They have negative ions that can cure many diseases,” she said.

A marketer for the product, she enthusiastically told me about the pads’ magical properties.

“They are very good. If you don’t believe me, call this doctor. Let me call him for you,” she said, pressing his number on her mobile phone and handing it to me.

“So, you have breast cancer. Stick a panty liner on your breast and you need to soak four ion chips in water, which you then drink,” the doctor said.

I was reluctant to try this weird treatment, but I did not have the heart to say no when she said, with tears in her eyes, “Please try this, I want you to recover. My sister died from cancer several years before I knew about this product. You should try this, please.”

So I later drank a glass of water with ion chips soaked in it.

When I told her my body often felt stiff because I had to lie in bed for hours, she was quick with a reply.

“Oh in that case, you should try our other product: a belt that will help you with the stiffness,” she said. “It is only US$90, but if you buy it under my name, it will cost you Rp 760,000 because I am a member, and later if you want to buy it you will only need to pay around Rp 600,000.”

“I will think about it,” I said.

“Health is number one. You should buy this belt, which is good for your health.”

I said nothing and she finally left but promised to drop by and call on me.

A few days ago she came to my house and when she found out I did not buy her words, she took back the sanitary napkins she had given me earlier.

In fact, she was not the first person to offer me a “magic” product to help me recover.

Earlier, a woman brought along several of my friends for a visit. She brought a bottle of aloe concentrate and two bottles of protein drinks, samples of her herbal products.

“They are very good in helping damaged cells recover. Many people who took them, including cancer patients, got well and became fit and healthy,” she said.

Since then, she has bombarded me every day with text messages, asking how I was doing.

As I finished the aloe concentrate, I sent her a text message saying that I would like to buy some. She immediately called and started to persuade me and a relative, who is also my caregiver, to join her in the business by becoming members.

She said that with a membership fee of Rp 800,000, we could receive large discounts on the drink. She spoke for hours before I finally got a chance to turn down her offer.

I suddenly felt sick and lost interest in her products.

— T. Sima Gunawan


Monday, February 28, 2011

Selamat tinggal, nyeri

  
Ucapan selamat tinggal biasanya diucapkan dengan mimik sedih, bahkan ada yg sampai nangis bombai… Tapi kali ini dengan sangat gembira kuucapkan selamat tinggal pada rasa nyeri yang sudah berbulan2 menyerang dada kiriku.

Namanya orang sakit, ya wislah...., kuterima kenyataan pahit ini... bahwa aku sudah kena kanker. Stadium 4 pula. Tapi bukan berarti diam2 saja lho. Perjuangan masih berjalan terus untuk mengalahkan si kanker busuk. Yang paling menjengkelkan adalah sakit ini juga diikuti dengan rasa nyeri di bagian tertentu yang sakitnya minta ampun.

Rasa sakit atau pain dalam bahasa Inggris merupakan hal yang sangat menjengkelkan (bukan bahasa Perancis, lho, di Paris pain itu enak dimakan.. artinya roti) . Kalau tidak diatasi, rasa sakit itu, atau nyeri, bisa bener2 membuat pasien menderita. Aku masih ingat kesedihan di raut wajah teman sekantorku yang tak sanggup melihat istrinya kesakitan karena kanker.

Baru2 ini kubaca tulisan seorang pasien di Amrik yg menulis sbb:

Pain is BAD. BAD. BAD. Pain interrupts sleep. Pain decreases mobility. Pain decreases endurance and energy. Pain strains resources by producing such symptoms as fatigue, depression, and constipation. Pain can also impair the immune response -- and your ability to get better. Unrelieved pain may cause permanent damage to the nervous system. Pain is bad. Really bad.

Pokoknya PARAH. PARAH. PARAH...deh.....

Karena itu senang hati ini ketika hari Rabu minggu yll. (23 Feb. 2011) aku bangun dan merasakan ada yg lain. Kok nggak sakit ya? Tapi aku nggak mau terlalu senang. Takut kalau itu hanya mimpi. Ternyata, beneran, nggak sakit. Padahal biasanya disentuh saja bisa sakit, sehingga untuk sementara waktu terpaksa bra digantikan dengan kaos singlet.

Hari itu pagi hari aku masih minum tramadol dan paracetamol, tapi karena seharian nggak sakit, malamnya aku puasa obat. Padahal biasanya aku minum 2 tramadol, 2 paracetamol (atau 1 paracetamol dan 1 dexamethasone) plus 1 amipriptyline, dan terakhir ditambah dengan nepatic gabapentin. Sebetulnya pernah juga aku minum MST yg mengandung morfin dan ketesse, tetapi kayaknya kurang cocok.

Hari Kamis, seharian aku tidak minum obat penghilang rasa nyeri. Memang dada kiri tidak terasa sakit lagi. Hanya saja, mungkin karena semua obat dihentikan dengan drastis, maka tidurku terganggu. Malam Kamis dan malam Jumat (entah kliwon apa nggak ya?) aku terbangun sampai 4 kali, gelisah rasanya. Tulang punggung juga terasa sakit. Dan bangun tidur rasanya lemes sekali. Karena itu sekarang sebelum tidur aku minum 1 tablet paracetamol. Gangguan sedikit berkurang, tapi masih ada.

Rasa sakit atau nyeri itu tidak pergi begitu saja. Berbagai usaha sudah dicoba. Yang pertama adalah radiasi. Waktu itu bu dokter mengatakan bahwa rasa nyeri itu bisa saja merupakan“kiriman” dari sel2 kanker yg becokol di tulang iga kanan atau tulang belakang. Setelah 30x radiasi berakhir di awal Januari, bukannya sakit berkurang, tapi malah bertambah. Efek radiasi memang konon kabarnya tidak selalu bisa terasa langsung. Butuh waktu 2 bulan untuk memulihkan tulang yg kena kanker.

Selain radiasi, selama sekitar sebulan terakhir aku rajin minum madu propolis. Kemudian, sejak 12 Feb yll aku minum rebusan air daun sirsak setiap pagi dan sore/malam. Seminggu kemudian aku mencoba berlatih reiki sambil senam nafas/perut, meskipun belum sanggup rutin setiap hari.

Madu propolis ini mahal harganya. Tapi aku mendapatkannya gratis dari teman/saudara yg baik hati.

Daun sirsak juga gratis. Di rumahku banyak pohonnya Tapi masih kecil2. Yg paling tinggi paling2 baru ½ meter. Padahal sekali rebus, diperlukan 10 lembar daun sirsak yg tidak terlalu muda. Untunglah ada teman yg berbaik hati memberiku daun sirsak.

Gabungan pengobatan modern dan tradisional memang bermanfaat, apalagi ditambah dukungan dari kiri dan kanan, atas dan bawah.... maksudnya dari keluarga, saudara, teman dan tentu bu dan pak dokter yg baik...




Saturday, June 5, 2010

Resep awet muda Olivia Newton John

Ingat Olivia Newton-John? Ia adalah penyanyi yang bersama John Travolta membintangi Grease di akhir tahun 1978. Ia juga seorang penyintas kanker. Artis yang sekarang berusia 61 tahun ini bercerita tentang kanker payudara, depresi, resep awet muda dan hobinya makan roti panggang dalam wawancara yang dimuat minggu lalu di Daily Mail, koran terbitan Inggris.
Bisa lari naik tangga?
Bisa dong, gampang, kalau nggak bawa tas berat. Aku selalu mencoba naik tangga soalnya ini olah raga yang bagus.
Kapan sakit yang paling parah?
Bulan Juni 1992, aku merasa ada benjolan di payudaraku. Pemeriksaan mamogram, biopsi dengan ultrasound dan jarum hasilnya negatif. Tapi instingku mengatakan ada yang nggak beres, jadi aku menjalani operasi untuk membuang benjolan itu. Lalu aku mendapat kabar bahwa itu kanker.
Beberapa hari kemudian aku menjalani mastektomi dan rekonstruksi payudara, diikuti dengan kemoterapi selama setahun. Seluruh pengalaman itu merupakan trauma – setelah itu aku butuh konseling. 
Pernah coba pengobatan alternatif?
Aku menjalani homeopathy, tusuk jarum, yoga dan meditasi selama kemoterapi untuk membantu agar aku dapat kuat kembali setelahnya.
Aku juga menyanyi bersama teman2ku yang beragama Buddha dan berdoa bersama teman2 yang Kristen. Semuanya aku lakukan.
Pernah depresi?
Pernah dulu, setelah Patrick menghilang (mantan pasangannya itu hilang tahun 2005 ketika pergi memancing di pesisir California) aku depresi berat. Aku tidak malu mengakui bahwa aku minum pil anti depresi. Untunglah sekarang ini dengan adanya suami yang sangat baik, John, yang menikah denganku bulan Juni 2008, aku sudah merasa tak begitu sedih lagi.
Bisa tidur nyenyak?
Aku gampang sekali terbangun. Aku tidur kira2 enam jam tiap malam.
Ada sejarah penyakit dalam keluarga?
Kanker hati. Ayahku, Brin, yang sudah berusia 80, meninggal pada akhir pekan yang sama ketika aku didiagnosa terkena kanker. Rasanya aku tak punya kesempatan untuk berkabung karena aku harus fokus pada usahaku untuk bertahan hidup.
Punya kebiasaan buruk?
Aku suka sekali makan roti tawar panggang (white toast) dan coklat. Meskipun kita semua tahu bahwa sedikit coklat hitam baik untuk kita.
Pernah diet?
Ya, kalau ingin menurunkan berat badan, aku kurangi karbohidrat dan meningkatkan olah raga sedikit. Tapi jelas aku tak telalu ambil pusing soal itu. 
Apakah ada yang diminum untuk menjaga kondisi tubuh?
Aku minum pencerna enzym setiap habis makan, dan Illumination, tonik berisi sari tumbuh2an dari Amerika Selatan yang membantu meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan membantu memberi rasa tenang.
Tak dapat hidup tanpa...
Jalan kaki. Apakah di treadmill, atau bersama anjing kita di pantai, atau jalan2 setelah makan malam bersama John. Jalan kaki adalah obat awet muda yang paling gampang—dan yang paling asyik, jalan kaki itu gratis.
Mau hidup selamanya?
Hanya kalau orang yang aku kenal dan aku sayangi hidup bersamaku selamanya, kalau tidak, rasanya sepi.

Wednesday, June 2, 2010

Cicak anti kanker

Di klinik 24 jam dekat rumah terdapat beberapa dokter yang praktik secara bergantian. Semuanya dokter perempuan. Tapi aku nggak yakin kalau itu menunjukkan bahwa mayoritas dokter di negara ini perempuan.

Eh, sebetulnya tulisan ini nggak ada hubungannya dengan soal jender. Waktu aku berkunjung ke klinik itu pada hari Sabtu terakhir bulan Mei 2010 yang berpraktik adalah dr. Karolin (entah ejaannya bener ga ya? mungkin juga Carolyn, tapi biar gampang aku tulis Karolin saja. Kalo salah, maap ya bu dokter…). .

Waktu bu dokter tau kalau aku kena kanker, ia lalu bercerita tentang Wulan, adik iparnya yang usianya masih di bawah 30 tahun.

“Ia kena kanker payudara. Kondisinya parah, kulit di seputar payudara sampai2 seperti kulit jeruk. Tapi sekarang ia sudah sembuh,” katanya.

“Saya periksa dia dan memang betul ia sudah sembuh, dadanya sudah bagus."

Apa obatnya?

“Setiap hari makan cicak, selama 6 bulan, sampai badannya bau amis,” kata bu dokter sambil menambahkan bahwa setelah sembuh, ia berhenti minum obat dan badannya tak lagi berbau amis.

Dalam menjalani pengobatannya itu setiap pagi dan sore Wulan makan cicak. Sekali makan 2 ekor. Kepala dan ekornya dibuang lalu badannya dibersihkan dan dimasukkan ke kapsul dalam keadaan mentah agar mudah memakannya. Atau dimakan dengan pisang. Tidak digoreng atau direndang.

“Ini betul. Kalau saya tidak menyaksikan sendiri, saya tak akan menceritakan seperti ini,” kata bu dokter dengan serius.

Menurut bu dokter, adik iparnya itu tergolong tidak mampu dan ia hanya mengandalkan cicak untuk mengobati penyakitnya dan sekali2 minum antibiotik..

Cicak memang dikenal sebagai obat. Waktu masih kecil pernah kudengar bahwa cicak goreng bisa dipakai sebagai obat gatal2 atau penyakit kulit, dan kutu yang dimakan bersama pisang emas bisa menjadi obat penyakit kuning. Mengenai betul tidaknya khasiat itu, entahlah, aku tidak tau.

Yang jelas sekarang ini juga banyak sekali pengobatan tradisional yang kabarnya dapat mengobati kanker. Mulai dari mahkota dewa, buah merah, mengkudu, daun dan buah sirsak, sampai sarang semut dan sarang penyamun.

Indonesia memang sungguh kaya dengan keanekaragaman hayati, termasuk buaanyak sekali spesies flora maupun fauna yang cuma ada di sini. Mereka merupakan sumber pengobatan tradisional dan sebagian tanaman obat sudah dikenal luas sebagai jamu dan dikemas dalam bentuk bubuk, kapsul maupun cairan.

Sayang sekali, Indonesia termasuk miskin dalam hal riset dan pengembangannya. Kekayaan flora dan fauna masih belum dikelola dan dimanfaatkan dengan baik. Kalau betul cicak dapat menjadi obat kanker yang ampuh, tentu banyak orang yang tertolong.

Temanku yang pecinta binatang berkomentar: “Kalau untuk bisa sembuh harus makan 2 cicak di pagi hari dan 2 cicak di malam hari selama 6 bulan, berapa ekor cicak yang harus mati untuk menyelamatkan satu nyawa manusia?”

Perlu paling sedikit 720 ekor cicak.

Hiiiii kok jadi serem sekali rasanya ya...

Tuesday, October 20, 2009

Hebat

Benar-benar hebat. Luar biasa. Bukan sulap bukan sihir. Bagian tubuhku yang telah mati rasa selama bertahun-tahun akibat mastektomi tiba-tiba hidup rasa.
Banyak penyintas kanker payudara yang mengalami mati rasa di daerah dekat ketiak setelah menjalani mastektomi alias operasi pengangkatan payudara.
Operasi itu aku jalani pada bulan Desember 2004 dan masih mengalami mati rasa hingga minggu lalu. Tak terlalu mengganggu sih, jadi aku tak begitu peduli.
Tapi ada kejadian luar biasa pada suatu sore di hari Jumat, tanggal 16 Oktober 2009, ketika aku menjalani terapi chi alias tenaga dalam karena kakiku tambah sakit kalau berjalan.
Aku nggak bilang pada Pak Suhu mengenai bagian tubuh yang mati rasa itu. Tapi ia bisa menebaknya.
Dari jarak satu meter, ia menggerak-gerakkan ke dua tangannya. Hanya sekitar satu menit.
“Gimana rasanya sekarang?” ia bertanya.
Aku pegang bagian dekat ketiak sebelah kanan. Dan alangkah takjubnya diriku ini. Sudah tidak mati rasa lagi. Wowww. Sumpah. Ini sungguh luar biasa.
Bagaimana dengan kakiku?
Soal sakit ini memang aneh. Tak menentu. Kayak harga BBM yang dulu sempat naik turun…Naik turun kayak ingus yang disayang-sayang… Iiiih sori… jorok ya…
Dulu sih sakitnya ga terlalu terasa. Sejak akhir bulan lalu, baru deh nyut… nyut.. nyut… Kaki kananku sakit kalau jalan. Bahkan kalau mau duduk atau kalau bangkit dari duduk.
Penyebabnya adalah kanker yang sudah mengerogoti tulang bagian bawah tubuh dan osetoarthritis “ringan” di lutut, yang disimpulkan melalui hasil rontgen pada hari Kamis, 8 Oktober 2009.
Dokter memberiku obat anti nyeri Moxam dalam dosis kecil, hanya ½ tablet, untuk diminum 2x sehari. Tapi nggak mempan. Pada hari berikutnya, tambah pain killer lain, yaitu Zaldiar ½-1 tablet.
Hari Minggu kondisi kakiku enak sekali. Hanya sakit sedikit.
Tapi hari Senin, rasa sakit kembali menyengat. Selasa… Rabu… juga tambah sakit sampai-sampai tidur tak nyenyak karena kalau kaki kanan digerakkan tidak dengan hati-hati, terasa ngilu di tulang. Padahal kalau tidur aku suka bolak balik ke kiri dan ke kanan…. .
Lalu aku ingat cerita temanku yang terkena myom dan kanker leher rahim dan menjalani terapi chi. Ia baru berobat satu kali, dan katanya cocok.
Tak ada salahnya mencoba, kan?
Mula-mula aku telepon suhu chi itu. Tak diangkat. Lalu aku SMS. Setelah sekian jam, baru ada balasan. Ia menyuruhku datang hari Jumat, 16 Oktober 2009, sore bersamaan dengan waktu yang dijadwalkan untuk temanku itu.
Sore itu ternyata macet gila-gilaan di jalur lambat Sudirman. Aku yang memang “sense of direction”-nya buruk, sempat nyasar pula. Sekitar sejam kemudian, barulah aku sampai di Jl. Suryo yang merupakan terusan Jl. Senopati, terasa mobil sedikit bergoyang selama beberapa detik, padahal kelihatannya nggak ada angin kencang. Di kiri kananku juga tak tampak truk besar yang melaju. Kalaupun ada, juga nggak bisa ngebut, kan lagi macet... Mungkin goyangan itu akibat perasaanku yang kurang enak karena terlambat berobat... Eh, tiba2 ada kabar di radio mengenai gempa di Ujung Kulon.
Terlambanya memang nggak kira-kira. Lebih dari satu jam.
Tempat praktik yang kutuju sangat sederhana. Sang suhu juga jauh dari bayangan kita akan orang yang pendiam dan serius.
Ia senang ngobrol dan sering tertawa besar. Perawakannya besar dan rambutnya agak gondrong. Bajunya biasa saja, kemeja dan celana panjang, bukan jubah seperti suhu yang kita lihat di film-film kung fu atau silat.
Ia lalu memeriksa lututku dan sambil menekan bagian yang sakit, ia menyalurkan tenaga dalam sementara aku berdoa.
Hal yang sama dilakukan pada bagian pangkal paha.
“Nah, sekarang sudah bisa main bola,” katanya berseloroh.
Aku berdiri dan duduk kembali tanpa rasa sakit. Lalu berjalan keliling ruangan. Rasa nyeri sudah jauh berkurang. Kaki kanan sekarang sudah dapat digerakkan ke samping dengan mudah. Juga dapat digerakkan ke atas, meskipun masih agak sulit.
“Wah, Sima sudah bisa lompat-lompat,” komentar temanku kemudian.
Hiperbol. Soalnya kalau melompat kan harus menggunakan dua kaki. Aku belum bisa. Berdiri tegak di atas kaki kanan saja juga masih sakit. Padahal dulu waktu latihan yoga (yang sekarang sudah tidak aku jalani lagi), aku sudah bisa melakukannya dengan kedua tangan di atas kepala selama beberapa saat.
Tapi memang kondisi kakiku jauh lebih baik. Hanya saja begitu keluar dari ruangan, mulai terasa agak sakit di pangkal paha meskipun kadarnya telah berkurang dibandingkan dengan sebelumnya.
Menurut Suhu, sakit di lutut itu juga disebabkan oleh kanker dan ia akan berusaha untuk “membakar” sel-sel kanker dengan chi. Tetapi ia juga mengakui bahwa itu bukan hal yang mudah karena penyebarannya sudah cukup banyak. Pengobatan ini juga akan memakan waktu agak lama dan ia sendiri tak menjanjikan kesembuhan.
“Kita lihat saja nanti,” katanya.
Aku lalu teringat seseorang yang belum lama ini menelponku tentang adiknya yang terkena kanker tulang sehingga dokter menganjurkannya untuk diamputasi. Ketika aku menceriterakan hal itu pada Suhu dengan harapan agar ia bersedia mengobatinya, ia menolak dengan halus karena pasiennya sudah terlalu banyak.
Sebelum pulang, aku menanyakan mengenai biaya pengobatan dan konsultasi, termasuk ngobrol, yang totalnya memakan waktu lebih dari satu setengah jam. .
“Terserah saja,” katanya sambil menunjuk ke keranjang bambu di sudut ruangan.

Penkiler jenerik


Cara termudah untuk mengatasi rasa sakit adalah dengan minum obat anti nyeri alias painkiller. Tapi hati-hati! Jangan sering-sering meminumnya. Banyak efek sampingan yang dapat menimpa kita, antara lain sakit maag jika obat diminum saat perut kosong, atau gangguan jantung kita mengkonsumsi dalam dosis tinggi. Selain itu kita juga bisa kebal terhadap obat itu.
Ada yang mengatakan bahwa painkiller dapat diganti dengan aromateraphy, minum wedang jahe dicampur cengkeh dan ramuan tradisional lainnya. Tapi aku belum pernah mencobanya, kecuali minum wedang jahe yang memang membuat badan hangat.
Sebetulnya aku tidak suka minum obat. Tapi apa boleh buat. Kalau tak tahan sakit, aku terpaksa menelannya juga.
Pernah aku minum Ponstan, yang katanya bukan merupakan obat keras. Dokter juga pernah memberiku ramuan campuran antara panadol dan entah apa namanya, yang juga termasuk ringan.
Ketika rasa sakit semakin menyengat, hari Kamis, 15 Oktober 2009, aku sempat minum Moxam dalam dosis kecil, hanya ½ tablet, 2x sehari. Tapi nggak mempan. Sehari setelah itu, ditambah dengan painkiller lain, yaitu Zaldiar ½-1 tablet.
Hari Minggu enakan, tapi hari-hari berikutnya sakit lagi. Sampai akhirnya aku menjalani terapi chi (tenaga dalam). Rasa sakit berkurang, tapi masih ada. Jadi aku belum berani meninggalkan painkiller.
Setelah Moxam dan Zaldiar habis, aku minum obat anti nyeri yang masih tersisa beberapa biji, yaitu Ponstan dan campuran Panadol.
Si empok yang merupakan ratu dapur dan penguasa mesin cuci serta meja setrika merangkap pencuci mobil dan pembersih rumah rupanya prihatin dengan kondisiku.
Ia juga sering mengalami rasa sakit pada kaki, terutama ketika bangun tidur. Ketika sakit tak tertahankan, ia ke dokter dan diberi obat murah meriah yang manjur.
“Tetangga-tetangga pada minta contoh obatnya. Mereka kalo sakit juga minum obat itu,” kata empok.
“Mau coba? Kali-kali cocok,” katanya.
Keesokan harinya ia membawa bungkus obat itu. Ada dua macam. Dexamethasone 0.5 mg dan Piroxicam 10 mg
Aku lalu mengirimkan SMS ke dokter, yang ternyata tidak menunjukkan keberatan terhadap obat itu.
Harga Panstan tidak mahal. Seingatku, dulu aku pernah membelinya di toko obat di Pasar Palmerah seharga belasan ribu rupiah, tetapi di apotik bisa lebih dari Rp 20.000 untuk satu strip berisi 10 tablet. Sedangkan Moxam dan Zaldiar jauh lebih mahal.
Meskipun dalam kemasannya tertulis HET (Harga Eceran Tertinggi) sebesar Rp 80-an ribu, tetapi di apotik harganya Rp 90-an ribu per strip berisi 10 tablet.
“Kalo obat saya sih hanya Rp 2.500,” kata mpok.
Masa sih? Murah amat. Aku minta mpok membelinya dengan memberikan uang Rp 20.000. Kembaliannya Rp 17.500. Jadi Rp 2.500 itu untuk kedua macam obat itu, masing-masing 10 tablet.
Murah karena itu adalah obat generik.
“Biarpun obat generik, kalau memang cocok, ya bisa aja,” demikian komentar bu dokter.
Pagi ini untuk pertama kalinya aku minum obat generik itu. Syukur alhamdullilah. Puji Tuhan. Haleluya. Kakiku tidak terasa begitu sakit. Obat itu aku minum sekitar jam 6:30 pagi dan sekarang sudah hampir jam 8 malam.
Mungkin juga itu karena terapi chi yang aku jalani. Dan yang pasti juga karena kuasa Tuhan. Oh ya, sudah hampir setahun tidak berlatih reiki, dua malam ini aku mulai latihan lagi lho...

Tuesday, July 21, 2009

Myom-ku, Satpam Setiaku

Seorang teman yang berhasil mengelola myomnya berbaik hati berbagi pengalaman untuk kita semua dalam lima cerita. Ini adalah kisahnya yang pertama.

Perkenalkan satpamku, nama kerennya dalam terminologi medis adalah myom, fibroid, tumor, yang ngendon di rahimku. Ukurannya 8 cm. Sering bikin ulah. Kalau aku sedang terburu-buru, dia ngambek, terus perutku menjadi kram. Jika aku khawatir tentang sesuatu, dia membengkak dan mendesak rahimku mencuat hingga seperti ibu hamil 4 bulan.

Aku sempat pendarahan hebat di rumah, pingsan di kamar dan Hb menjadi 6,3. Para dokter dan teman-teman menyarankan aku operasi. Aku menolak. Bukan karena aku keras kepala, tetapi lebih karena informasi yang kuperoleh tidak memuaskan logika berpikirku: bahwa operasi adalah solusi yang tepat untuk kondisiku. Teman-temanku yang mengalami hal yang sama, hampir semuanya memilih operasi. Jadi, aku memilih ‘the road less travelled’.

Saat aku terbaring di klinik mengalami pendarahan, dan dikerubungi para dokter dan perawat yang panik terkesima melihat perutku tiba-tiba membengkak seperti tudung saji, aku sempat merasakan kesedihan luar biasa. Tapi hanya sekejab, kemudian aku ingat, “Yang kualami ini tidak ada apa-apanya dibandingkan sakit yang dialami Sima. I will be all right. This is not about a life and death situation. Jadi, tak perlu sedih berlebihan. Pikirkan saja solusinya, itu lebih urgent.”

Aku sangat yakin, penyakitku merupakan sebuah akibat dari cara hidupku yang serba cepat dan stressful. Aku berkonsultasi dengan beberapa dokter – umumnya tidak memberikan gambaran yang utuh dan bahkan cenderung menakut-nakutiku bahwa myom-ku bisa menjadi kanker dan agar segera melakukan operasi. Aku pun lantas membaca beberapa penelitian dan medical journal, dan menemukan bahwa informasi yang diberikan para dokter tidak sepenuhnya benar.

Kuputuskan berusaha mengelola sendiri sakitku. Setahap demi setahap aku membuat berbagai perencanaan. Mulai dari merawat tubuh, pikiran hingga memutuskan untuk semi-retired.

Aku mulai memperlakukan myom-ku sebagai the new member of the family in my body. Kalau sedang kram, kuletakkan tanganku, sambil merasakan aliran hangatnya tanganku, aku bilang, “Maaf ya, aku kurang hati-hati sehingga membuatmu kram. Aku akan slow down.” Lantas aku merebahkan tubuhku, menarik napas panjang, dan fokus untuk merasakan aliran oksigen ke rahimku. Kata seorang dokter yang mendalami pengobatan tradisional cina, oksigen adalah salah satu musuh utama myom-ku.

Selama beberapa bulan, sepertinya myom-ku tak mereaksi, tetapi pada bulan kesekian, aku mulai merasakan sebuah proses yang sangat subtle, myom-ku melentur dengan amat sangat perlahan. Dalam waktu dua hari kemudian, kramku akan menghilang. Sebelumnya, selama bertahun-tahun, jika kram, maka tak akan mampu melentur tanpa bantuan accupunturist-ku. Sehingga, jika aku tidak sempat ditusuk jarum, selama berbulan-bulan kemudian, perutku akan tetap dalam posisi kram. Nah, kini aku mampu merasakan proses melenturnya myom-ku, kemampuan merasakan proses yang halus ini bisa kumiliki karena pikiranku juga makin kurawat sehingga aku makin mampu melihat hal-hal yang awalnya tak mampu kulihat ataupun kurasa sebelumnya. So, I’m on the right path!

Dari waktu ke waktu teman-teman sering mempertanyakan tentang myom-ku. Sembari guyon aku bilang, “Aiyah, biar saja, kupelihara myom-ku. Kayak satpam yang galak. Agar aku disiplin merubah cara hidupku.” Saat berjalan kaki menuju kantor, saat menyeberang jalan dan terburu-buru, perutku akan langsung kram, “Ah, aku harus slow down.” Peringatannya seketika dan tidak ada negosiasi. Pilihannya, aku tetap berjalan terburu-buru dan mengalami kram perut atau memperlambat jalanku dan myom-ku dengan sangat perlahan akan melentur.

Tanpa myom-ku mungkin aku tak akan pernah benar-benar menata ulang hidupku. Jika myom-ku kuoperasi, siapa yang akan mengingatkanku saat aku lupa merawat pikiran dan tubuhku lagi? Satpam setiaku ini berperan seperti alarm dalam tubuhku yang akan secara otomatis mengingatkan saat tubuh dan pikiranku not on the right track. Jadi, in a way, aku juga berterima kasih dengan memiliki myom. Aku harap aku tak akan membutuhkan operasi hingga tiba saat menopause nanti, saat myom-ku akan mulai mengecil karena estrogen level-ku yang akan turun tajam sehingga myom-ku juga akan mengempis dengan sendirinya.

Friday, July 17, 2009

Jamu kunir putih, mau?

Teng teng teng teng teng ting tong ting tong…
Bel berbunyi pagi2. Pasti ini pak Satpam yang kemarin aku mintai tolong bayar PBB ke BRI.
Eh, bukan. Ternyata si mbak Jamu.
Mulai akhir bulan kemarin aku langganan jamu kunir putih sama si mbak yang tiap pagi bersepeda keliling kompleks. Tapi sudah hampir seminggu dia tak muncul.
“Baru kembali dari kampung. Anak saya butuh uang buat bayar sekolah. Kasihan mbahnya kalau saya nggak kasih,” kata si mbak yang menitipkan 2 orang anaknya ke mbah mereka.
Si mbak orang Sragen, Jateng, bersuamikan orang Purwokerto, Banyumas. Mereka tinggal di Ciputat sedangkan kedua anaknya ikut si mbah di Banyumas. Yang masih ditanggung biaya sekolahnya adalah si bungsu sedangkan si sulung sudah selesai SMA dan tidak melanjutkan sekolah.
“Saya kemarin baru memberi uang Rp 450.000 untuk biaya sekolah,” cerita si mbak yang bercaping bambu dengan sumringah. (Suaminya ngapain ya… ? hmm nanti deh aku tanya)
Dulu sekali memang aku pernah membeli jamu kunir asam sekali dua kali. Belakangan timbul ide untuk minum jamu kunir putih yang kabarnya bagus sekali untuk melawan kanker karena ada teman sesama pesenam, eh, maksudnya ada ibu-ibu anggota kelompok senam pagi yang berjualan berbagai barang organik, termasuk jamu.
Kapan itu ada yang beli 1 botol sari jamu seharga Rp 78 ribu. Katanya bagus untuk suaminya yang kena diabetes.
Tak lama setelah pulang dari senam, kebetulan mbak Jamu lewat. Ada beras kencur, air sirih, kunir asam dll. Tapi ia tak menjual kunir putih. Aku pilih kunir asam. Harganya Rp 2.000 se mug lumayan besar (ini mug gratisan bertulisan Anlene yg dulu kudapat waktu beli susu… lumayan...). Kalo pake gelas kecil sih paling cuma Rp 1.000. Lalu si mbak merayu, menawarkan cemilannya. Dia juga menjual kacang goreng yang dibungkus plastik kecil-kecil, peyek dan opak.
“Murah lho. Ini cuma Rp 2.000. Enak,” katanya dalam bahasa Jawa, menawarkan satu plastik berisi empat opak berdiameter sekitar 12.5 cm.
Akhirnya aku beli. Antara kepingin dan tidak tega.
Dengan berbahasa Jawa ala kadarnya, aku utarakan maksud untuk memesan jamu kunir putih, yang dengan segera disanggupinya. Jamu yang dimasukkan ke botol bekas sirup Marjan untuk dikonsumsi selama dua hari dihargai Rp 8.000.
“Saya ini kalau memberi harga melihat orangnya dulu. Itu ibu yang di sana saya kasih harga Rp 10.000 karena dia itu Cina,” katanya.
Gedubrak… x)>?!!##%@!!!!
Aku cuma tersenyum kecut.
“Aku juga Cina lho mbak,” kataku, tapi cuma dalam hati. Biar aja nanti dia tau sendiri.
Oh oh oh …Kasihan deh elu… Cina.

Sunday, April 12, 2009

Masih Perlukah Batu Ajaib Itu?

Mau sembuh? Minumlah air rendaman batu ajaib Ponari. Becanda? Tidak. Ini serius. Buktinya ribuan orang setiap hari berjubel-jubel antre untuk berobat dan beberapa pasien yang diwawancara media mengaku sembuh setelah minum air itu.
Ah, berita basi. Iya sih, kehebohan Ponari, si dukun cilik asal Jombang, Jawa Timur, sudah sejak beberapa bulan yang lalu menjadi berita di media cetak maupun elektronik. Bagaimana tak heboh, kalau sampai setidaknya lima orang tewas dalam antrean. Polisi bahkan sempat turun tangan dan menutup praktek itu untuk sementara waktu.
Ada media yang mengabarkan kalau Ponari yang masih duduk di bangku SD itu adalah titisan dewa petir. Ini gara2 suatu ketika Ponari tersambar petir tetapi tidak tewas dan malahan menemukan batu yang diyakini bertuah. Pokoknya kalah deh batu2 di seri Harry Potter seperti the Sorcerer’s Stone dan the Philospher’s Stone.
Kalau semua itu hanya isapan jempol, mengapa banyak pasien Ponari yang mengaku sembuh?
Sebetulnya pengobatan alternatif sama sekali bukan barang baru. Di mana2 di negeri ini (dan juga di berbagai belahan dunia) dikenal aneka macam pengobatan alternatif, mulai dari yang biasa-biasa saja seperti kerokan dan pijitan, percikan air putih dan doa, sampai yang aneh-aneh seperti penggunaan lintah untuk menyedot darah kotor dan sengatan lebah untuk membuka simpul syaraf. Bahkan sengatan ular (baca Digigit Ular di Hotel http://ayomari.blogspot.com/2008/02/digigit-ular.html).
Biayanya juga beragam, dari yang gratis sampai jutaan rupiah.
Biasanya mereka mengaku dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit, termasuk kanker.
Hebatnya, banyak juga pasien yang mengaku sembuh.
Kok bisa?
Ya memang bisa, meskipun tidak 100%.
Salah satu hal yang membuat pengobatan alternatif manjur adalah keyakinan pasien bahwa ia akan sembuh. Misalnya orang2 yg rela antre berjam-jam, bahkan berhari-hari, untuk berobat ke Ponari. Karena yakin akan manfaat air celupan batu ajaib itu, mereka jadi bersemangat. Ibarat aki yg sudah lemah lalu disetrum, mereka serasa bertenaga bagu.
Semangat dan tenaga baru itu otomatis mendorong pasien yang tadinya sudah putus asa untuk bangkit. Mereka menghadapi penyakit tanpa rasa takut dan jauh dari stres.
Apalagi kalau mereka menghindari makanan yg kita semua tahu dapat menjadi sumber malapetaka jika dikonsumsi secara berlebihan dan mulai bergaya hidup sehat.
Sebetulnya kita sendiri juga bisa melakukannya hal yang sama, asalkan mau. Naaa..h kemauan ini yg seringkali menjadi hambatan karena kita sering malas... termasuk aku sendiri, yang suka belum rajin olah raga dengan teratur dan masih suka tergiur ingin jajan bakso......
Kita juga dapat mengolah energi positif dalam diri kita sendiri melalui doa, meditasi, prana, reiki atau yang lain. Masalahnya, ya itu tadi, apakah kita mau atau tidak? Dukungan dari orang-orang di sekeliling pasien juga diperlukan. Sama seperti Obama atau SBY yang tidak dapat bertahan tanpa dukungan ....
Tapi sekali lagi, yang terpenting adalah diri kita sendiri. Semangat hidup, pikiran dan sikap positif akan sangat membantu dalam menghadapi semua ini.
Tak perlu batu ajaib.

Saturday, June 7, 2008

"Keajaiban" buah merah

Merah itu berani. Begitu kata bu guru ketika menjelaskan tentang arti warna merah dan putih bendera kebangsaan Indonesia. Merah yang satu ini juga berani. Berani melawan kanker, begitu kata orang.
Apa lagi kalau bukan buah merah asal Papua yang sempat membuat heboh karena dikabarkan memiliki khasiat luar biasa untuk menyembuhkan berbagai penyakit, termasuk kanker.
Akhir pekan lalu dalam perjalanan ke Bintan via Batam, aku mendapatkan cerita tentang "keajaiban" buah merah dari Tika. Saat Garuda terbang tinggi Tika menuturkan kisah nyata yang mencengangkan.
Ibu Tika yang tinggal di Klaten, Jawa Tengah, mempunyai keluhan pada matanya. Terjadi pembengkakan di sekitar mata yang kian lama kian membesar. Secara fisik, keadaan itu tampak menakutkan.
“Kalau ibu bicara, matanya kayak keluar masuk,” kata Tika.
Sekitar bulan Oktober tahun 2004, Ibu Tika diperiksa di RS Kanker Dharmais. "Dokter mengatakan bahwa ibu harus dioperasi saat itu juga.” Karena takut, ibu Tika tidak bersedia dioperasi dan memilih pengobatan alternatif.
Mula-mula ibu Tika pernah berobat di Jogja dan mencoba mengkonsumsi obat ramuan daun mahkota dewa yang juga diyakini manjur untuk melawan tumor atau kanker. Tapi ternyata tidak cocok karena penyakit ibu Tika menyerang mata.
Pilihan berikutnya jatuh pada buah merah. "Waktu itu banyak cerita tentang buah merah yang berkhasiat untukmenyembuhkan kanker,” kata Tika.
Sari buah merah ternyata sulit didapat. Mungkin karena permintaan pasar yang sangat tinggi menyusul gencarnya pemberitaan tentang buah merah sementara pasokan terbatas.
Tapi Tika tak kurang akal. Sebagai wartawan yang pandai bergaul, Tika banyak mengenal para petinggi. Salah satunya adalah Doddy yang ketika itu menjabat sebagai kapolda Papua. Dari Doddy, Tika berhasil mendapatkannya.
Ibu Tika minum empat botol sari buah merah dan hasilnya luar biasa. Dalam waktu setahun, kondisinya pulih..
Selain obat merah, ibu Tika juga pernah minum jamu dari “orang pintar” di Bandung atas saran kenalan Tika yg mantan orang kuat di Riau, Hoezrin Hoed.
“Di samping itu ibu juga menjalani pengobatan tusuk jari alias acupressure supaya tenang,” ia menambahkan. Bagaimana keadaan ibu Tika sekarang ini?
“Baik-baik saja,” kata Tika.
Ketika ditanya apakah sudah diperiksakan kembali ke RS Dharmais atau ke dokter lain, Tika segera menggelengkan kepala.
“Nggak ah, takut….”

Sunday, April 6, 2008

Practicing Reiki while Driving (not recommended!)



I meant to write earlier, but last week I was sooooo busy with a tight deadline to catch. (alasan ya..)
By the way, have I told you that my office had just moved? We moved to a nearby building, a brand new one. Actually the construction is not 100% completed but we must move (maybe it had something to do with hari baik… ?). In the first few days, I could see some people, including the receptionists wearing masks (which reminds me about the time when the city was attacked by SARS) to protect them from the dust that entered the building every time the door opened.
Anyway… everybody complained that it's very cold inside the new office . (“Seperti di kutub”, “perlu beli sarung tangan” and things like that). Last Monday (March 31), it was sooooo cold that I had a terrible headache. On the way home, when I was driving, it got worse and the pain was almost unbearable. Then .. ahhh… I remember reiki. I started to concentrate and pray. When the traffic light turned red, I raised my both hands and opened the cakra above my head, like what my reiki teacher told me. And then as I felt the energy on my hands, I put them on my head. I used one hand to drive and the other hand to exercise reiki, alternatively. (Driving with one hand is dangerous… luckily, the traffic was not that bad that night).
It worked! Hurrray. It really worked. I arrived home safe and sound. But later the headache returned. I again practiced reiki, but this time the headache did not want to go. As I still had lots of work to do, I did not want to be bothered by the headache, and concentrated on my job. And miraculously I did not feel any pain in the head… I was not even sleepy… I worked very late and went to bed at 2 a.m.
On Tuesday night, when I drove home I felt something wrong with my left knee. Actually I have problems with my both knees. I think I have mild arthritis because whenever I go downstairs or upstairs, I often feel a bit painful. This time, however, I felt the pain whenever I stepped the pedal. So, I exercised reiki, sending the energy to the knee. Thank God, it worked again…
You might wonder whether it is true that reiki heals.
This afternoon when I had lunch with my friend, Retno, I told her about my experience.
Percaya. Memang reiki hebat. Aku dulu pernah ‘sakti’,” katanya.
Lalu ia bercerita. Several years ago, when her father was in hospital for a serious disease, Retno learned about reiki.
Setiap kali bokap aku reiki, dia bisa tidur enak sekali,” katanya.
It was too bad her father could not make it.
Reiki could not save his life, but it was proven to bring him peace.
At the end it’s God who decides the time we breathe our last breath.

Tuesday, March 11, 2008

Reiki, the energy healing system, that heals.

Pernah baca buku cerita silat Kho Ping Ho yang terkenal itu? Atau Kisah Pemanah Burung Rajawali yang pernah ditayangkan di TV? Hmm.. itu jadul (jaman dulu)… anak-anak sekarang pasti nggak tau. Bagaimana kalau Crouching Tiger Hidden Dragon? Atau.. paling tidak, tau dong film kartun Avatar yang tiap pagi masih muncul di layar kaca?
Intinya, aku mau bilang kalau dalam cerita-cerita itu digambarkan adanya tenaga dalam yang luar biasa. Dari jarak jauh orang bisa menumbangkan pohon hanya dengan menggerakkan tangan. Ada juga namanya ilmu meringankan tubuh alias ginkang yang membuat orang dengan mudah bisa melompat ke genteng dan berlari-larian di sana dengan lincah. Nggak ada tuh genteng yang pecah atau orang yang jatuh karena gagal meloncat lalu patah tulang.
Percaya nggak? Aku sih cuma mikir, kalau memang benar ada ilmu meringankan tubuh dan tenaga dalam yang hebat itu, pasti dong mereka yang menguasainya bisa jadi juara Olimpiade, mulai dari lomba lari, angkat besi sampai senam dan tinju.
Tapi beneran loh. Yang namanya tenaga dalam itu memang ada seperti yang pernah disiarkan di TV yang meliput demonstrasi perkumpulan seperti Merpati Putih, bukan Merpati Kuning atau Ungu..
Tenaga dalam ini juga bisa dipraktekkan dalam penyembuhan, seperti yang kita kenal dengan prana, reiki atau chi…
Akhir tahun lalu, ketika teman lamaku Harry mengetahui kalau aku kena kanker, ia mengusulkan agar aku ikut reiki. Lalu teman lain Jo yang di Melbourne pernah cerita kalau saudara temannya yang bernama Diana dan berdomisili di Bandung kena kanker dan belajar reiki.
Bulan lalu, 10 bulan setelah usaha melawan kanker melalui pengobatan modern belum membuahkan hasil yang diharapkan, aku mulai memikirkan reiki. Aku kontak Diana, yang bersaksi kalau temannya yang kena kanker keadaannya membaik setelah reiki dan saat ini dia sendiri juga sedang menjalani terapi reiki.
Nah, kalau begitu, kenapa nggak dicoba? Aku lalu mencari informasi dan di internet aku menemukan beberapa situs, salah satunya adalah Yayasan Cakram Reiki pimpinan pak Wahidin yang merupakan dosen fakultas eksakta di UI. Selain menyelenggarakan lokakarya, ada juga klinik yang memberikan layanan cuma-cuma. Boleh juga nih…
Hari Sabtu siang, tgl. 1 Meret 2008, aku telepon yayasan itu. 421 9245, atau 7086 1292.
“Datang saja ke sini. Kebetulan setiap Sabtu ada pengobatan sampai jam 5 sore,” kata ibu Wahidin.
Aku lihat jam, sudah pukul 15:30. Ok. Kalau ngebut, masih keburu. Klinik itu lokasinya di Kramat, tapi bukan Kramat Tunggak . .. bekas pasar daging alias red light district yg sekarang jadi Islamic Center. Tepatnya kinik itu di Jalan Listrik 5 No.4, Gang Kramat IV, Jakarta Pusat.
Dari arah RSCM atau Salemba, lewat RS Kramat 128 (ini rumah sakit kecil tapi kabarnya bagus) lalu belok kiri, masuk Jl. Kramat IV. Dari situ ada gardu FBR, lalu belok ke .. eh, kiri atau kanan ya, aku lupa. Yang jelas aku nyasar, keterusan sampai jauh, mana jalannya sempit, susah berputar balik.
Akhirnya sampai juga di klinik yang sederhana itu. Waktu itu sudah beberapa menit lewat dari pukul 5 sore. Setelah menjawab beberapa pertanyaan standar, aku disuruh duduk di suatu ruangan. Lalu seorang master reiki mulai melakukan ritual penyembuhan yang diawali dan diakhiri dengan doa menurut keyakinan masing-masing. Beberapa anggota lain juga turut membantu. Mereka semua mengerahkan tenaga dalam memasukkan energi positif untuk menghalau energi negatif dalam tubuhku.
Prosesnya sekitar 20 menit. Tak berasa apa-apa. Malah ketiduran sebentar.
Setelah itu aku mendapat informasi kalau mereka akan mengadakan lokakarya di Hotel Ibis hari Minggu itu dengan biaya Rp 450 ribu dan aku langsung mendaftar dengan memberi DP Rp 100 ribu.
Belakangan Upiet ternyata berminat dan kami berdua mengikuti loka karya yang berlangsung dari pukul 9 pagi hingga 4 sore. Pesertanya tidak banyak, sekitar 15 orang, termasuk peserta untuk tingkat 2.
Reiki berasal dari bahasa Jepang. Rei=alam semesta, Ki=energi kehidupan. Atau disebut juga Ling Chi.
Pada intinya kita belajar menyelaraskan energi positif dari alam semesta. Dalam keadaan pasrah, energi reiki bekerja melakukan penyembuhan dan mencari sendiri sumber penyakit.
Kita belajar melakukan penyembuhan diri sendiri (self-healing) dan menyembuhkan orang lain. Setelah loka karya, kita harus berlatih self-healing selama 21 hari.
Tapi tentu saja semua itu juga tergantung pada keyakinan kita serta kehendak YME.
Kita juga diajari untuk melihat aura orang, yang bisa dilakukan dengan sering berlatih.
Ahli reiki tingkat lanjut dapat mengobati orang dari jarak jauh. Setiap malam, pukul 10, mereka menyalurkan tenaga dalam bagi pasien. Sebetulnya aku juga ingin ikut direiki. Tapi jam 10 malam belum tentu aku sudah sampai di rumah padahal kalau mau efektif, pasien harus siap menerima dalam keadaan pasrah dan kedua telapak tangan terbuka ke atas.
Dengan reiki, kita juga bisa loh menghilangkan energi negatif pada makanan.
“Coba ambil 2 buah tomat. Yang satu direiki, yang satu tidak. Setelah beberapa hari, tomat yang tidak direiki akan busuk, tetapi tomat yang direiki bisa awet sampai lama,” kata pak guru saat loka karya.
Lalu katanya lagi: “Pak Wahidin paling suka makanan Padang yang banyak santannya itu. Tetapi ia tetap sehat karena setelah makan, ia reiki perutnya.”
“Tetapi kalau makanan itu direiki sebelumnya, pada saat dimakan, akan terasa nggak enak. Coba kalau ada teman yang suka merokok, reiki rokoknya, maka saat ia merokok, akan berasa nggak enak.”
Malam harinya aku coba mereiki buah. Bukan tomat, tapi mengkudu yang baru dipetik. Setelah beberapa hari, hasilnya: sama saja, tetap busuk.
Waktu temanku Dewi datang pada hari Selasa, aku bercerita tentang reiki dan mencoba mereiki rokoknya karena dia memang ingin sekali berhenti merokok.
Keesokan harinya waktu aku tanya, dia menjawab: “Agak nggak enak sedikit.” Nggak tau ya, apakah memang beneran dia merasa rokoknya nggak enak, atau dianya merasa nggak enak sama diriku…. (Yach..namanya juga baru belajar, jangan ngeledek ya, awas nanti kalau sudah jago aku akan reiki itu mi instan di supermarket biar rasanya jadi hambar dan anak2 ga ketagihan .. hehehe... ga kok... just kiding... reiki kan ga boleh buat main2...)

Bagi yang tertarik mengikuti pengobatan dengan reiki secara cuma-cuma, dapat datang ke klinik Wahidin setiap hari Sabtu pukul 14:00 sampai 17:00. Nomor telpon 421 9245, atau 7086 1292 seperti yang disebutkan di atas. Atau boleh juga lihat di website
cakram-reiki.com. Kalau ingin tahu lebih lanjut, banyak sekali informasi di Internet, bisa dicari lewat Google.

Mysterious Red Spots

Kalau ada judul film Mendadak Dangdut, maka yang aku alami adalah Mendadak Berbintik-bintik Merah.
Kaget. Itu reaksi pertama waktu aku menemukan ada bintik-bintik merah di bagian dada dan punggung sekitar pukul 15:00 pada hari Sabtu lalu (15 Maret 2008). Padahal aku nggak merasa makan sesuatu yang “aneh-aneh” yang bisa menyebabkan alergi. Tapi itu jelas bukan demam berdarah yang tahun lalu menelan korban 1.380 orang di seantero nusantara karena suhu badanku normal.
Pukul 7 malam, bintik-bintik bukannya berkurang tapi malah menjalar ke paha dan lipatan tangan. Lha gimana mau berkurang, wong nggak aku apa-apain. Mulai agak panik. Yach, kalau besok tambah parah, mau nggak mau mesti ke dokter.
“Minum air putih banyak-banyak,” saran temanku Lia lewat SMS. "Juga susu," ia menambahkan.
Betul, memang air putih dan susu bagus, bisa menghilangkan racun. Maka aku segera minum air putih 3 gelas, sampai perut rasanya begah. Lalu aku ingat ada segepok sereh yang tergantung di dapur. Rencananya tiap hari mau rajin minum air sereh seperti anjuran sebuah artikel pemberian Linda, copy editor di kantor, yang menyebutkan bahwa minum air sereh setiap hari bisa melawan kanker. Dulu sempat rajin, tapi setelah beberapa waktu, lalu malas. Sereh yang sudah berumur seminggu itu segera aku rebus dengan dicampur sedikit jahe dan gula merah. Enak loh, segar…
Setelah itu badan aku gosok dengan minyak kayu putih yang labelnya berbunyi: Minyak Kayu Putih Keluaran Pulau Buru Ambon Cap Kasuari. Sebotol minyak kayu putih ukuran lumayan besar itu aku beli seharga Rp 20 ribu dari abang-abang yang menawarkannya door-to-door beberapa tahun silam. Selain itu aku juga memakai bedak (bukan bedak BB loh…..).
Malamnya sebelum tidur, aku minum susu dan melakukan ritual penyembuhan diri sendiri (self-healing) dengan reiki yang baru aku pelajari.
Waktu bangun, bintik-bintik merah sudah jauh berkurang, hanya tampak samar-samar, sehingga ketika siang itu aku bisa latihan di gymn dengan tenang. Kemarin bintik-bintik itu sudah hilang sama sekali.
Mungkin binti-bintik itu adalah biang keringat karena pada hari Jumat aku banyak mengeluarkan keringat saat berolah raga di gymn. Ketika itu aku ikut latihan semacam yoga yang nama kerennya “hot flow” karena diadakan dalam ruangan tertutup dengan suhu 37 derajad Celcius.
Menurut informasi, penyakit ini biasanya menyerang anak-anak, disebabkan oleh tersumbatnya kelenjar keringat. Keringat yang keluar saat cuaca panas berkumpul di bawah kulit sehingga mengakibatkan munculnya bintil-bintil merah yang terasa gatal.
Kalau hanya biang keringat, memang tak perlu kuatir.Bedak saja juga cukup untuk mengatasinya. Apalagi kalau ditambah dengan yang lain-lain, termasuk reiki. Apakah reiki turut turut andil dalam penyembuhannya yang sangat singkat itu? I hope so.

Wednesday, February 27, 2008

Digigit Ular di Hotel


Pernah digigit ular? Aku pernah lho. Kejadiannya pas Valentine’s Day, tgl 14 Februari 2008 di sebuah hotel berbintang kecil di Jakarta Selatan. Ular beneran! Asli!
Kejadiannya begini. Pagi itu tiba-tiba telepon berbunyi.
“Saya dengar Anda berobat ke Singapur,” kata teman di ujung telepon.
Ia adalah teman lama yang sudah lama nggak ketemu. Ia bercerita kalau ada "orang tua" yang tinggal di luar kota, tetapi sekarang sedang di Jakarta. Orang tua ini bisa mengobati dan kabarnya sering “dipakai” oleh pejabat tinggi negara, termasuk mantan presiden dengan inisial M (tebak sendiri siapa dia).
“Saya sudah bikinin janji dengan dia, nanti malam,” kata teman yang istrinya juga terkena kanker.
“Percayalah, saya tak akan mencelakakan Anda,” katanya, sambil menjelaskan sedikit bahwa Pak Tua itu menggunakan ular dalam prakteknya.
Tentu saja aku percaya, nggak mungkin teman itu berniat mencelakakan aku.
Maka malam itu aku meninggalkan pekerjaan yang sebetulnya belum tuntas untuk menemui Pak Tua di hotel tempat dia menginap. Agak deg-degan juga.
Pak Tua mengaku berusia 88 tahun, tapi memang masih segar bugar. Ia dibantu asistennya yang masih muda. Mula2 ia menaruh batang korek api yang dipatahkan ke telapak tanganku. Batang itu bergoyang2, pertanda kalau sesuatu yg gawat di tubuhku, demikian katanya. Lalu ia menyuruh aku minum air putih yang sudah didoain. (Pak Tua ini orang Katolik).
Lalu ia mendemonstrasikan keahliannya. Diletakkan tangannya di dada temanku dan menyuruhnya batuk. Lalu ia membuka tangannya dan tampak ada lendir encer di telapak tangan, yang berarti tidak ada yang serius.
Kemudian giliranku. Telapak tangan diletakkan dada kanan (dekat tempat bekas operasi) dan aku disuruh batuk. Hanya ada cairan lendir tipis. Lalu ketika tangan diletakkan di dada sebelah kiri, dan aku batuk, terdapat noda merah kehitaman di telapak tangannya. Ritual itu diulang dengan meletakkan tangannya di punggung, dan bagian lain yang dicurigai mengandung penyakit. Hasilnya menunjukkan kalau keadaanku cukup baik, menurut Pak Tua.
Setelah itu, ia menawarkan untuk mengobati dengan ular berbisa. Teorinya, bisa ular dapat melawan virus penyakit. Sebelumnya aku akan diberi penawar bisa untuk mencegah hal-hal yang tak diinginkan.
Buat aku sih ya.. nothing to lose. Kalau memang bisa, yach syukur… kenapa nggak dicoba? Paling enggak, itu pengalaman luar biasa .!
Asistennya membaca doa dan memasukkan “penangkal bisa” melalui telapak tanganku dan menyuruhku menggenggamnya selama 5 menit. Maka aku pun mengepalkan telapak tangan sementara asistennya mengeluarkan karung putih berisi 2 ekor ular.
Satu ular diambil dan diinjak ekornya, membuatnya beringas dan menggigit tangan kiriku. Nggak sakit tuh, lebih sakit rasanya kalau digigit kucing.
Ular jenis “koros” itu segera dimasukkan kembali ke karung dan atas dorongan Pak Tua, aku menyentuhnya. Tak terjadi apa2, ular diam saja. Mungkin ularnya sudah mengantuk meskipun waktu itu baru sekitar pukul 21.00.
Setelah pengobatan dengan ular selesai, Pak Tua menunjukkan kepiawaiannya memainkan kartu, seperti Deddy Corbuzier. Dia bilang kartuku Jack kotak merah alias wajik (diamond). Lalu aku disuruh mengocok kartu itu berkali-kali, waktu kartu dihitung dan dibuka, ternyata betul hasilnya Jack merah wajik. Artinya “kerja keras”. Yang lebih baik adalah Queen, King dan terutama As.
“Kerja keras tapi hasilnya pas-pasan ya, pak?” aku bertanya. Ia tidak menanggapi.
“Gimana pak supaya dinaikkan menjadi Queen atau King atau As?” ia juga tidak menjawab.
Padahal aku serius, lho, aku akan senang sekali kalo kartuku naik, supaya aku bisa ongkang2 kaki sambil ngeblog setiap saat.
Belakangan, aku cek Internet, ular koros itu adalah ular yang berbisa lemah, sahabat petani, digunakan untuk membasmi tikus di sawah.
Manfaatnya untuk mengobati kanker atau penyakit lain masih perlu dikaji. Tapi yang jelas sudah terbukti adalah bahwa aku punya teman yang peduli. Ia dan teman-teman lain, termasuk Anda, pemirsa.... (emangnya TV...!)
Thank you my friends..… for your supports…

Sunday, January 20, 2008

Alternatif Pengobatan


Kemarin ada email dari pengunjung blog, bertanya tentang pengobatan alternatif.

Pengetahuanku tentang pengobatan alternatif ya sebatas dari apa yang kualami, kudengar dan kubaca.

Banyaaaaaakkk sekali informasi mengenai pengobatan alternatif yang katanya bisa menyembuhkan kanker.

Itu kan katanya.... Kenyataannya bagaimana? Yang bisa mengatakan manjur atau tidak adalah pasien itu sendiri, bukan penjual jasanya. Iya nggak?

Bulan Oktober 2007 aku ikut acara temu pasien kanker payudara yang diadakan oleh Roche dan YKI dan mendengar pengalaman seorang ibu mengenai pengobatan tradisional. Ibu Anu (aku ga tau namanya) bercerita tentang saudaranya yang mencari pengobatan alternatif untuk mengobati kanker yang dideritanya.

Tidak dijelaskan secara rinci bagaimana sistem pengobatannya. Setelah datang beberapa kali dengan menghabiskan biaya yang cukup banyak, kondisinya melemah. Dan alangkah kagetnya si Ibu Anu melihat ada gambar saudaranya ditempel di tempat praktek pengobatan tersebut dengan tulisan SEMBUH TOTAL. Tak lama setelah itu, saudaranya meninggal.

Ada seorang rekan di kantor yang istrinya menderita kanker payudara dan sembuh setelah menjalani pengobatan alternatif di Jateng. Rekan yang lain bernasib buruk. Istrinya tak kunjung sembuh meskipun ia berobat di tempat yang sama. Ia kemudian ke dokter, tapi tak tertolong.
Salah satu dokterku cerita, tantenya meninggal karena kanker. Tantenya itu nggak mau ke dokter beneran, dia memilih pengobatan alternatif dengan lintah.

Tahun 2006 aku pernah ke sinshe untuk tusuk jarum karena dengkul kanan bermasalah, agak bengkak dan sakit kalau jongkok atau naik turun tangga. Hasilnya cukup bagus. Setelah tusuk jarum 10 kali ditambah minum 4 botol obat tradisional Cina, aku ga merasa sakit lagi.

Sekitar minggu ke tiga bulan September 2007 tangan kananku kesemutan dan sakit, bahkan susah mengangkat tempat air minum berkapasitas 2 liter-an. Dokter khawatir, jangan2 ini diakibatkan oleh kanker yang menyerang tulang belakang bagian atas (dekat leher). Untunglah pemeriksaan MRI menunjukkan tak ada penyebaran baru di bagian itu.

Aku sempat ke dokter yang juga ahli tusuk jarum untuk berobat. Setelah ditusuk sekali, rasanya membaik. Hebat ya. Tapi kemudian agak sakit lagi. Dokter itu bilang, proses penyembuhan agak lama karena dia hanya bisa mengobati melalui tusukan di tangan kiri serta kaki kanan dan kiri. Tangan kanan tidak boleh ditusuk karena kanker menyerang payudara bagian kanan. Aku sempat datang beberapa kali, lalu berhenti karena tidak telaten.

Aku percaya dengan obat tradisional dan pengobatan alternatif yang baik. Tapi aku nggak mau ambil resiko. Aku masih banyak bergantung pada obat modern, disamping mengkonsumsi "obat tradisional" berupa jus buah2an (termasuk mengkudu yang katanya anti-kanker) dan tumis jamur (namanya cantik, jamur portabella /lihat gambar, banyak dijual di super market, katanya juga anti-kanker). Selain itu aku juga minum kapsul jamur maitake yang katanya juga anti-kanker (tapi aku sebetulnya rada malas minumnya..). Oh ya, kalau nggak lupa, sebelum berangkat ke kantor, aku memetik satu helai daun tanaman (namanya Penyambung Nyawa, pemberian dari temanku, Ninik, yang setelah membaca tulisan ini menganjurkan agar aku makan 10 helai) dan mengunyahnya (kayak kambing makan dedaunan ….)

Sebelumnya aku pernah minum obat merah dan bubuk sarang semut dari Papua yang katanya juga anti-kanker, tapi aku hentikan karena nggak telaten.

Tiap hari menelan 1 tablet Aromasin, minum susu non-fat dengan kandungan kalsium tinggi dan 1 tablet CDR Fortos. (Dulu pernah minum susu kedelai juga, sempat berhenti karena penjualnya mudik dan sekarang mau mulai minum lagi).

Aku jelas nggak anti pengobatan alternatif. Tapi kalau memang ada yang ingin mencoba pengobatan alternatif, haruslah hati-hati. Cari rekomendasi dari orang yang memang pernah sembuh setelah berobat, bukan rekomendasi dari pemberi jasa atau berdasarkan "katanya..". Dan harus yakin serta telaten.