Showing posts with label Chemotherapy. Show all posts
Showing posts with label Chemotherapy. Show all posts

Thursday, November 4, 2010

Rasa Kanker

“Bagaimana rasanya setelah selesai kemo?” begitu pertanyaan Mas perawat sebelum menusukkan jarum infus ke lenganku.
“Apa suka lemes?” sambungnya.

Sebetulnya sih nggak suka. Kalo boleh milih, tentu aku suka kuat, energik. Tapi apa boleh buat.... suka nggak suka... kenyataannya begitu. Kondisiku sudah tidak seperti dulu lagi. Gampang capek.

Pertanyaan Mas itu diajukan akhir Oktober 2010 ketika aku menjalani infus Zometa untuk menguatkan tulang. Selama kemo (Maret-Agustus 2010), infus dihentikan, tetapi sekarang dilanjutkan kembali.

Selain lemas, hampir tak ada perubahan. Rasanya biasa-biasa saja. Eh, sebetulnya ada rasa sakit juga di bagian dada kiri sejak akhir September, tetapi itu on and off . Kadang muncul, kadang hilang. Ketika aku berkonsultasi dengan dokter di NUH pada awal Oktober, ia mengatakan agar aku jangan terlalu khawatir. Mungkin rasa sakit seperti itu merupakan hal biasa.

Berhubung sakitnya kian menjadi-jadi, aku putuskan untuk ke dokter spesialis kanker. Tidak di Singapura, cukup di Jakarta saja.

Pilihan akhirnya jatuh ke dr. Lugyanti Sukrisman yang masih muda tapi konon kabarnya “bagus”. Lima tahun yll, aku menjalani kemo untuk yang pertama kalinya di MMC dan sempat bertemu dengan dr. Lugy dua kali dalam kapasitasnya sebagai dokter pengganti atau asisten (?) seorang dokter senior.

“Dr. Lugy juga praktik di Klinik Teratai RSCM,” begitu info dari dr. Winarti, yang selalu memberikan dukungan untukku.

Maka pada hari Selasa (2 November 2010) kemarin aku tiba di RSCM menjelang pukul 11 siang. Selama ini aku belum pernah berobat di sana dan yang membuatku stres adalah susahnya mencari tempat parkir. Sudah memutar beberapa kali, tetap tidak berhasil. Tapi... untung... ada petugas yang baik hati dan menolong tanpa pamrih. Aku sudah berusaha mengingat-ingat namanya yang dibordir dengan benang putih pada baju seragam hitamnya. Kalau tidak salah Ardyansyah tapi kayaknya salah deh,... yang jelas terdiri dari tiga suku kata. .

Anyway.... Klinik Teratai cukup ramai. Ruangannya kecil padahal pasiennya banyak. Waktu aku datang, di ruang tunggu hanya ada 2 bangku yang kosong. Untung ya, masih ada.... Di sebelah kiriku sempat duduk seorang ibu yang keringatnya agak bau menyengat (untung ya hanya ‘agak’, coba kalau ‘sangat’, wah bisa2 aku mabok...)

Setelah menunggu selama 2 jam, barulah aku mendapat giliran. Memang menunggu itu paling menjengkelkan. Tapi aku sudah mengantisipasinya, siap dengan Doomsday Conspiracy, novel lama karangan Sidney Sheldon yang kusambar dari rak buku sebelum berangkat. (Tapi hanya sempat dibaca beberapa halaman karena tertidur...)

Kenapa ya, kalau ke dokter harus menunggu berjam-jam. Waktu aku mengantar ayah berobat ke RS Pondok Indah, kita bahkan menunggu 3 jam.

Meskipun lama menunggu, aku nggak nyesel ke sana. Secara umum, pelayanan di Klinik itu baik. Biaya relatif murah: Rp 100.000 untuk konsultasi dan Rp 20.000 untuk admin, sedangkan di RSPI biaya konsultasi Rp 250.000 dan admin Rp 75.000. Dokternya juga baik, ramah.

“Dok, kita pernah ketemu lho, lima tahun yll, di MMC,” kataku, sok akrab.

“Iya, rasanya saya juga pernah melihat, tapi nggak ingat, di mana,” jawabnya.

Jawaban yang membuatku heran. Masak sih dia beneran ingat aku? Apa istimewanya aku ini sehingga ia ingat? Apa kaena ia tahu bahwa aku pernah ditipu suster ketika kemo di MMC waktu itu? (baca Tertipu).
Setelah memeriksa kondisiku, dokter menduga bahwa rasa sakit itu datangnya dari tulang iga yang tampaknya masih dicokoli sel-sel kanker. Ia menganjurkan agar aku menjalani radiasi, yang juga disebut radiotherapy.

Aku ingat, dokter di NUH dulu juga mengatakan bahwa aku mungkin perlu radiasi.

Waktu aku cerita ke seorang teman bahwa aku perlu radioteraphy, dia bertanya, seperti apa terapinya.
“Apa pake musik?”
Ha..ha..ha.... betul, sambil dengerin radio, disinar dengan cahaya mentari pagi yang hangat....


Sunday, September 26, 2010

Setelah kemo selesai, apa lagi?

Penanganan terhadap pasien yang satu berbeda dengan yang lain, tergantung kondisi masing2. Yang jelas, setelah selesai kemo ya..… pulang ke rumah dong… . He..he..he.. Emangnya enak berlama-lama di rumah sakit?)
Untuk mengetahui keberhasilan kemo, biasanya dilakukan berbagai pemeriksaan. Salah satunya adalah tes darah untuk melihat apakah ada dampak negatif kemo terhadap fungsi ginjal, hati dll. Yang tidak kalah pentingnya adalah tes penanda tumor atau tumor marker. Di samping itu ada juga tes lain tergantung kebutuhan.

Terapi kemo, yang sering disingkat kemo saja, merupakan terapi yang ampuh, khususnya untuk mereka yang masih dalam stadium dini. Apabila pasien masih dalam stadium dini, kemo dapat menghajar habis si kanker busuk.

Aku pertama kali didiagnosa menderita kanker beberapa hari setelah lebaran tahun 2004. Setelah menjalani mastektomi pada pada bulan Desember 2004 dan 6x kemo pada bulan Januari – Juni 2005, dokter menyatakan bahwa tak ada sel kanker yang terdeteksi dalam tubuhku.

Apakah aku sudah sembuh?

Tidak. Atau tepatnya, belum…

Setelah kemo, aku harus menjalani mamogram secara berkala. Mula2 setiap 3 bulan, lalu 6 bulan, lalu 1 tahun sekali.

“Kalau selama 5 tahun hasilnya negatif, maka baru boleh dibilang sudah sembuh,” begitu yang aku dengar.

Belakangan, aku mendengar bahwa yang paling aman adalah 10 tahun. Pasien dapat dinyatakan sembuh kalau sudah bebas kanker selama 10 tahun.

Nah, kurun waktu selama 5 atau 10 tahun itu sebetulnya merupakan masa yang sangat menentukan. Usahakan jangan sampai kambuh karena kalau itu terjadi, maka penanganannya akan jauh lebih sulit.

Bagaimana cara mencegah agar tidak kambuh?

Minum obat seperti yang dianjurkan dokter. Banyak makan sayur dan buah. Hindari makanan yang kurang sehat. Lakukan olah raga yang sesuai. Dan jangan lupa berdoa.

Gampang kan?

Memang, teori itu selalu lebih mudah dari praktiknya.

Contohnya, ya aku ini… Baru 3 tahun, eh, kankernya muncul lagi. Kali ini dia menyerang tulang. Dalam istilah kedokteran disebut metastasis ke tulang. Karena itu, maka aku naik kelas. Dulu stadium II B, sekarang sudah stadium IV. Aku lupa, apakah IV A atau B …

Mula2 dokter memberiku aromasin, pil yang harus diminum tiap hari untuk menghambat penyebaran sel-sel kanker. Kemudian tiap bulan aku diinfus zometa untuk menguatkan tulang, lalu disuntik zoladex untuk menghambat produksi hormon estrogen yang dapat memicu penyebaran sel kanker.

Karena kanker makin menyebar, maka akhirnya dokter menyuruhku kemo.

Setelah kemo selesai, aku berkunjung ke tempat praktik bu dokter di NUH hari Jumat kemarin (24 September 2010) dengan membawa hasil tes darah, bone scan dan CT scan, seperti yang diminta.

Untuk bone scan, ga terlalu masalah, meskipun semua proses makan waktu lebih dari 3 jam. Yang bikin stres adalah CT scan. Bukan soal puasanya…. Karena yang akan diperiksa adalah perut, dan perlu “kontras” agar hasilnya dapat dibaca dengan baik, maka suster memberiku obat yang dimasukkan melalui dubur. Rasanya aduuuuuuh.. sangat tidak nyaman.

Untungnya, petugas di ruang CT scan RS PIK sangat cekatan dan baik (nggak judes seperti si mbak berambut panjang yang bertugas di bagian pendaftaran/penerimaan tamu).

Hasil CT scan aku ambil keesokan harinya. Sebelumnya aku sudah minta agar hasil ditulis dalam bahasa Inggris dan hal itu sudah disanggupi oleh petugas. Karena itu aku protes ketika mendapatkan hasil dalam bahasa Indonesia.

“Kalau begitu nanti kita terjemahkan dulu. Tapi hasilnya baru bisa besok siang,” kata petugas. “Apa mau dikirim lewat email?”

“Ya, mas. Tolong kirim lewat email saja,” kataku.

Ketika aku sedang menulis alamat email di secarik kertas yang diberikan oleh mas itu, datanglah atasan si mas. Bapak berbadan tidak tinggi dan perut tidak rata.

“Di fax saja, Bu,” katanya.

“Email saja, Pak. Saya nggak punya fax di rumah.”

“Kalau mau di-email harus bikin surat pernyataan.”

“Ribet amat sih. Pak, boleh saya ketemu dengan dokternya?”

Ketika pak dokter datang, aku bertanya mengenai hasil CT scan. Menurut pak dokter, hasilnya bagus. Mengenai hasil yang seharusnya ditulis dalam bahasa Inggris, karena sifatnya rahasia, dokter menyuruhku membuat surat permohonan agar hasil dikirim melalui email.

“Bapak saja yang menuliskan. Nanti saya tinggal tanda tangan,” kataku dengan nada sangat judes. (nyesel juga judes kayak gitu.. maap ya pak..)

Bukan ke pak dokter lho… tapi ke pak admin yang badannya tidak tinggi dan perutnya tidak rata itu…

Keesokan harinya, pagi2 aku sudah menerima email berisi hasil CT scan yang ditulis dalam bahasa Inggris.

Trims ya pak..

Hasil CT scan memang bagus. Tidak ada penyebaran ke bagian tubuh yang lain seperti paru-paru, hati, ginjal dll.

Hasil tes darah, termasuk tumor marker, juga bagus. Semuanya normal, kecuali Hb yang agak rendah sedikit.

Hasil bone scan juga bagus karena terjadi penurunan aktivitas dibandingkan dengan kondisi sebelum kemo. Tetapi kanker itu masih ada di sana.

“You are doing well,” kata bu dokter.

Tapi gimana ya dok… kenapa kanker itu masih saja bercokol di tulangku?

“Ini kan stadium lanjut. Tapi sudah bagus, ada kemajuan. Dan yang penting adalah tidak ada penyebaran ke organ tubuh yang lain,” kata bu dokter.

“Gimana dok caranya supaya kankernya bisa dibasmi sampai tuntas?”

“Bedoa ya,” katanya.

Iya dok… Memang doa itu penting.

Terus, selain itu apa?

“Mungkin perlu radiasi. Tapi nggak sekarang. Kan ini baru abis kemo,” kata bu dokter.

Masih untung…. Coba kalo harus langsung radiasi… aduuhhh.

Sementara itu, bu dokter menyuruhku melanjutkan suntik bulanan zoladex, infus zometa dan minum obat anastrazole (arimidex).

Konsultasi berikutnya dijadwalkan bulan Januari 2011.

Friday, September 10, 2010

Kemo telah berlalu

Akhirnya… selesai sudah. Proses kemo yang melelahkan telah berakhir dengan aman dan damai tanpa pertumpahan darah.

Memang tak sampai tumpah ruah seperti air bah. Tapi darah sempat menetes-netes ketika jarum infus dicabut seusai kemo yang kesekian sekitar bulan Juli 2010. Seharusnya, begitu jarum ditarik, lubang bekas tusukan jarum di urat nadi ditekan selama beberapa saat supaya darah tidak keluar. Tapi rupanya suster lagi kurang konsentrasi sehingga lupa menekannya..
Ya sudahlah. Biarpun sempat ada sedikit gangguan, secara umum seluruh proses kemo yang dimulai pada tanggal 26 Maret 2010 dan berakhir 28 Agustus 2010 itu boleh dibilang berjalan lancar.

Kemoterapi atau chemotherapy adalah terapi atau pengobatan dengan menggunakan chemicals atau toxic drugs untuk memperlambat atau meniadakan penyebaran kanker. Oabt dimasukkan melalui aliran darah untuk meracuni sel-sel kanker yang tumbuh pesat. Sebagai efek sampingannya, sel-sel dan organ tubuh yang sehat dapat terganggu sehingga pasien bisa mual, kehilangan rambut atau kekurangan darah.

Setelah dicampur dengan cairan infus, obat masuk ke tubuh melalui urat nadi yang ditusuk dengan jarum infus. Selain obat kemo, ada juga obat lain seperti vitamin, obat anti mual dan anti shock serta anti penyok. Salah satu obat mengandung obat tidur sehingga ditengah-tengah proses kemo, aku pasti tertidur, biarpun rata-rata hanya sekitar 30 menit. Proses kemo sendiri berlangsung sekitar 3 jam, tapi biasanya aku menghabiskan waktu minimal 5 jam karena ada persiapan kemo dan proses administrasi, termasuk urusan pembayaran yang biasanya makan waktu agak lama.

Proses kemo yang aku jalani terdiri dari 6 putaran. Setiap putaran lamanya 4 minggu dan terdiri dari 3x kemo yang dilakukan seminggu sekali (kadang2 maju atau mundur sehari, tergantung jadwal dokter). Setelah 3x kemo, minggu ke-4 libur.

Jumlah total kemo mencapai 18. Betul, delapan belas! Kebayang ga sih seperti apa rasanya... Dikemo sekali aja ga enak, apalagi 18x.

Kalau dipikir-pikir dan dibayangin, ngeriiii. Tapi setelah dijalani, ternyata tak sehoror yang dibayangkan... Mula-mula terasa sedikit sakit waktu ditusuk jarum. Setelah itu, rasanya ya seperti diinfus biasa saja, tidak sakit. Bisa sambil ngobrol dan nonton TV.

Yang rada repot, kalau mau ke kamar mandi. Selang infus tidak bisa dicopot, jadi botol berisi cairan infus yang sudah dicampur obat itu harus ikut dibawa berikut tiang infusnya....

Selain itu, tangan kiri yang urat nadinya dimasuki obat juga lumayan pegal karena tak boleh banyak digerakkan. Seringkali aku juga merasa kedinginan, terutama di bagian lengan dan tangan kiri. Kalau beruntung, aku bisa mendapat selimut berbahan flanel atau selimut berisi busa. Tapi biasanya aku hanya kebagian selimut tipis terbuat dari bahan katun putih yang tampaknya juga berfungsi sebagai seprei.

“Nanti jam 2, laundry-nya baru datang,” begitu tanggapan suster pada suatu pagi menjelang siang ketika aku meminta selimut yang agak tebal.

Pada kemo yang terakhir, aku berangkat dari rumah jam 8 lewat dikit. Tak sampai satu jam sudah sampai di RS. Tapi pulangnya makan waktu sekitar 3 jam. Macetnya minta ampun.. . Pasti karena banyak orang berbelanja untuk kebutuhan Lebaran.

Dua minggu telah berlalu.. Secara fisik seringkali badan masih terasa agak lemes. Secara nonfisik, ya jelas lebih baik karena rasa syukur, lega dan gembira yang muncul seiring dengan berakhirnya proses kemo.

Saturday, August 21, 2010

Kemo dan Kurma…. dan Koruptor

Tujuhbelas itu angka keramat, terutama kalau dipadukan dengan angka delapan. Bukan kode buntut, lho. Tapi ya itu.. karena hari kemerdekaan RI. Cuman saja tahun ini tak ada gegap gempita perayaan 17-an. Sepi. Karena bertepatan dengan bulan puasa.

Di mana-mana, keceriaan 17-an hampir tak terasa. Kecuali di LP. Ya, merekalah yang paling ceria karena pada hari itu banyak yang mendapatkan remisi alias pengurangan masa hukuman. Dan yang mengusik rasa keadilan masyarakat, kebijakan itu juga berlaku bagi para koruptor kelas kakap, termasuk mantan anggota DPR, si Amin Nur Nasution, yang juga mantan suami pedangdut Kristina, dan Aulia Pohan, mantan deputi BI dan besan SBY yang terlibat kasus korupsi Rp 100 milyar.

Bahkan pada keesokan harinya Aulia juga langsung bisa menghirup udara bebas lantaran mendapatkan pembebasan bersyarat setelah menjalani 2/3 masa hukumannya. Tahun 2009 Pengadilan Tipikor menjatuhkan vonis 4 tahun 6 bulan, tapi MA memberi korting besar sehingga hukuman menjadi 3 tahun saja. Mungkin MA keseringan membaca iklan diskon besar2an yang ditawarkan department store dan hypermart

Ngomong-ngomong soal angka 17, kemarin (Jumat, 20 Agt. 2010) aku sudah berhasil menyelesaikan kemo ke-17. Horeee… senangnya… Tinggal 1 x lagi, dan selesai sudah proses kemo yang sangat melelahkan ini.

Seperti biasa, sehari sebelum kemo, aku harus menjalani tes darah untuk mengetahui Hb, leukosit dan trombosit. Hb yang dalam kondisi normal seharusnya dapat mencapai angka 12 pernah ngedrop sampai 10. Itu adalah batas terendah. Kurang dari 10, kemo harus ditunda.

Dua minggu terakhir ini aku banyak beristirahat. Dan juga banyak makan kurma. Ini berawal dari datangnya hadiah dari cub reporter yang baru pulang meliput penjualan kurma di Tanah Abang, yang mengalami banyak penurunan dalam beberapa tahun terakhir ini karena persaingan dengan hypermart yang lagi banting2 harga.

“Kurma ini katanya bagus lho untuk tambah darah,” kata dokter hewan yang bercita-cita menjadi wartawan itu.

Kurma memang enak dan sehat, sehingga dianjurkan sebagai pembuka puasa. Oh ya, biarpun aku nggak puasa, tetapi aku suka lemes… bahkan setelah menyantap kurma. Kadang2 nggak ngapa2in, badan terasa capek. Karena itu, sebetulnya aku agak pesimis dengan hasil tes darah.

Tapi tak disangka, ternyata Hb-ku meningkat menjadi 11.6. Itu angka yang bagus sekali mengingat aku masih dalam proses kemo. Apakah ini karena kurma? Bisa jadi…

Dengan hasil tes darah yang membuatku bersemangat itu maka aku menjalani kemo. Beberapa menit lewat jam 12, sebelum kemo dimulai, terlebih dahulu aku diinfus Zometa untuk menguatkan tulang. Ini merupakan ritual yang secara rutin kujalani setiap empat minggu sekali.

Sekitar jam 12:30, makan siang baru datang. Entah kenapa, datangnya telat sekali, padahal biasanya sebelum jam 12 sudah dikirim.

“Mau makan dulu?” tanya bu dokter.

“Ntar aja dok, kalo udah selesai kemo.”

Bu dokter tidak memaksa.

Beberapa saat kemudian, untuk kesekian kalinya ia memeriksa tekanan darahku dan kembali menyuruhku makan.

“Paling enggak, makan saja supnya dulu, dan minum teh manis.”

Aku menuruti nasihat bu dokter. Enak juga supnya. Teh manis buatan bu dokter juga enak.

Setelah aku selesai makan, bu dokter mengukur tekanan darahku lagi.

“Nah sekarang sudah naik, makanya kalo disuruh dokter itu nurut,” katanya sambil tertawa.

"Siap dok... "
Proses kemo pun kembali dilanjutkan. Ditengah-tengah proses itu aku sempat terlelap. Itu adalah akibat salah satu obat yang memang membuat teler. Untung, efeknya nggak lama. Biasanya tak sampai 1 jam aku sudah terbangun. Hari itu kemo selesai sekitar jam 4 sore.

Believe it or not. Percaya nggak percaya. Setelah kemo dan menghabiskan sisa makan siang, badanku terasa lebih segar. Nggak terlalu lemas seperti hari2 sebelumnya. Bahkan dari RS aku bisa nyetir ke kantor dan bekerja sampai jam 9 lewat.

Sungguh karunia besar dari Tuhan yang memberiku kekuatan dan kesanggupan dalam menghadapi semua ini.

Sunday, August 8, 2010

Mengatasi efek samping kemoterapi

“Mbak, tambah gemuk ya?” resepsionis kantor menyapa ketika aku lewat.

“Oh ya?”

“Iya, pipinya makin berisi tuh,” katanya.

Kayaknya bukan cuma pipi, tapi perut rasanya semakin gendut karena celana yang tadinya agak longgar sekarang sudah pas, malahan terasa cukup ketat sehabis makan.

Kok bisa ya? Padahal aku kan lagi dalam proses kemoterapi. Ini adalah proses kemo yang kedua. Lima tahun yang lalu aku juga menjalani kemo selama 6 bulan dan hasilnya, aku jadi super langsing…

Ketika itu aku diet ketat. Takut makan ini dan itu. Akibatnya berat badan turun drastis sampai sekitar 10 kg.

Sekarang aku juga masih diet. Menghindari MSG (vetsin), makanan yang mengandung kolestrol tinggi seperti udang dan cumi, serta mengurangi daging merah, garam dan gula. Di samping itu sedapat mungkin makan banyak sayuran dan buah-buahan. Tapi sekali waktu, misalnya dalam acara di luar rumah, aku juga tidak menolak makan enak, asalkan takaran tidak berlebihan dan tidak sering2.

Di masa kemo, seharusnya kita tidak boleh diet terlalu ketat. Makan daging dan ikan itu perlu, khususnya untuk menambah tenaga. Tapi ya secukupnya saja dan jangan makan lemak dan kulitnya, apalagi tulang dan durinya...

Sebetulnya, banyak juga orang yang kabarnya jadi gemuk setelah kemo. Soalnya mereka stres dan lari ke makanan. Padahal mestinya lari beneran ya, biar sehat. Selain itu berat badan juga bisa meningkat karena jarang bergerak dan pengaruh obat.

Sebaliknya, banyak juga yang jadi kurus karena kehilangan nafsu makan, mual dan muntah2 serta sariawan.

Itu semua adalah efek dari kemo dan radioterapi. Tapi bukan itu saja. Pasien yang menjalani kemo dan/atau radioterapi juga bisa gampang lemas, kehilangan rambut, mengalami menopause dini, kulit kering dan rentan terhadap infeksi.

Bagaimana mengatasinya? Mari kita lihat satu persatu.

1. Jadi gendut

Cara paling efektif adalah dengan mencegah jangan sampai makan berlebihan dan banyak begerak. Jangan melakukan diet ketat tanpa konsultasi dengan dokter.

Usahakan berolah raga ringan sedikitnya tiga kali seminggu selama 40 menit.

Dulu aku rajin ikut senam bersama, tapi sekarang nggak sanggup karena badan mudah sekali cape. Kalau lagi rajin, aku olah raga sendiri sebisanya. Tapi seringkali sangat malas. Mulai akhir bulan lalu, aku berusaha berenang secara rutin. Sayangnya bulan puasa ini teman renangku libur dan kerutinan pun jadi terancam.

2. Tak ada nafsu makan.

Untuk menambah selera makan, santaplah makanan favorit (yang sehat). Makanlah dalam porsi kecil tetapi sering. Kalau sedang makan, jangan disela dengan minum karena itu bisa membuat kenyang dan mengurangi nafsu makan. Lakukan olah raga ringan untuk meningkatkan nafsu makan.

3. Mual dan muntah.

Ada obat anti mual dan muntah yang dapat diberikan bersamaan dengan kemo. Coba tanyakan ke dokter. Tapi ada juga dokter yang memberikan obatnya seusai kemo. Rasa mual bisa menyerang langsung begitu kemo selesai atau beberapa hari kemudian.

Makan dalam porsi kecil tetapi sering. Hindari makanan yang berlemak dan asam, terlalu panas atau terlalu dingin.

Coba makan yang tawar seperti crackers, kentang rebus atau tumbuk, dan nasi. Sayur bening kayaknya enak juga tuh.

Boleh juga minum jus buah atau air dengan es batu, asal jangan terlalu banyak sehingga jadi kenyang duluan... Wedang jahe juga bisa membuat perut jadi enakan.

3. Lemes dan cape

Banyak penyebab rasa lemas dan capai di samping pengobatan itu sendiri. Di antaranya adalah rasa khawatir atau stress, kurang makan, kurang gerak, dan Hb yang turun.

Resep pertama untuk mengatasinya adalah dengan istirahat secukupnya. Idealnya tidur minimal 8 jam.

Jangan minum kopi kalau itu bikin susah tidur.

Batasi gerakan fisik, jangan angkat2 barang yang berat seperti beras dalam karung, semen, tas, koper.. apalagi kalau itu milik tetangga.

Banyak2 menyantap makanan yang mengandung besi seperti bayam, biar kuat kayak Popeye.

Badanku lemes dan cepat cape karena kemarin2 mesti lembur buat ngejar setoran sehingga kurang istirahat. Hb juga turun. Untuk meningkatkannya, aku minum Seongobion atau Hemaglobin 2x1 ditambah dengan folid acid 1x1. Untuk folid acid, aku minum yg generik, murah meriah, hanya Rp 100/tablet.

Semakin banyak kerjaan, semakin rendah Hb, turun dari >12 menjadi 10.0. Gawat. Soalnya kalau dibawah 10, kemo harus ditunda. Terpaksa aku harus disuntik obat agar Hb naik. Ada 3 merek obat, yaitu Hemapo, Eprex dan Recormon. Yang paling ekonomis adalah Hemapo.

4. Sariawan.

Pernah kepikir nggak, kenapa disebut sariawan? Perpaduan dua kata, sari dan awan. Mungkin karena penyakit ini bentuknya seperti awan menempel di gusi.. Hiiii…

Dulu aku pernah kena sariawan. Mula2 aku minum Adem Sari. Manjur, sebentar hilang. Tapi kemudian muncul lagi. Meskipun sudah minum pereda panas dalam lainnya seperti Lo Han Kuo dan Chrysanthemum selain obat kumur dari dokter yang mahal harganya, tapi lama nggak sembuh2…

Jadi mendingan kita coba mencegah timbulnya sariawan dengan berkumur setiap habis makan, kalau perlu gunakan obat kumur. Jangan sampai ada sisa makanan yang tertinggal karena itu dapat memicu timbulknya sariawan.

5. Kulit kering.

Gara-gara kemo, kulitku yang mulus jadi kering, terutama di bagian tangan. Setelah pakai pelembab, mendingan.

6. Rambut rontok

Sebagian besar orang yang dikemo akan kehilangan rambut. Rambut bisa berguguran begitu kemo dimulai, atau setelah kemo beberapa kali. Ada yang rambut habis semua, ada juga yang rambutnya masih tinggal sedikit. Kemo dapat juga merontokkan rambut pada bagian tubuh yang lain seperti alis dan bulu mata. Tapi bulu kuduk dan bulu lain yang tersembunyi dalam lubang.. maksudnya bulu hidung… tampaknya aman2 saja.

Sebelum kemo, bagi yang berambut panjang, lebih baik mengguntingnya hingga pendek agar tidak terlalu kaget nantinya.

Selama rambut menghilang, pakailah wig atau penutup kepala seperti topi, bandana, atau jilbab.

Setelah kemo, rambut akan tumbuh kembali. Kadang2 warna dan teksturnya bisa berubah, bahkan ada yang tadinya lurus menjadi agak keriting. Entah ya, kalau yang keriting, apakah bisa jadi lurus. Soal perubahan warna rambut, ada rambut pirang yang menjadi agak merah atau kecoklatan. Tapi jangan harap ya rambut hitam bisa menjadi pirang…

7. Menurunnya daya tahan terhadap infeksi.

Kemo atau radiasi dapat mengakibatkan berkurangnya sel darah putih, yang sangat penting sebagai benteng terhadap infeksi. Jauhi orang dewasa atau anak2 yang sedang sakit, Hindari kerumunan banyak orang, jangan berdesak-desakan nonton topeng monyet, lagian kasihan dong monyetnya….

8. Menopause dini.

Dosis tinggi kemoterapi atau radiasi dapat memberikan dampak buruk pada ovarium sehingga haid berhenti. Cepat atau lambat, menopause akan datang. Jadi, tidak perlu terlalu dirisaukan. Malah enak, tak perlu pakai pembalut...

Tips di atas juga dapat dibaca di http://www.webmd.com/breast-cancer/guide/treatment-side-effects

Tuesday, May 25, 2010

Ketiadaan Rambut

Lagi-lagi ini soal rambut. Bukan rambut yang indah berkilau seperti iklan di TV, tapi jsutru sebaliknya. Soal ketiadaan rambut.

Inspirasi muncul dari foto di koran hari ini yang menampilkan beberapa pendeta Budha berjalan beriringan dengan khusuk sambil membawa kendi berisi air suci untuk upacara Waisak yang jatuh pada hari Kamis lusa (28 Mei 2010).

Bikhu (pendeta Budha lelaki) maupun Bikhuni (perempuan) sama-sama tak berambut. Mengapa ya, mereka harus mencukur habis rambutnya?

Rambut dianggap sebagai keindahan fisik yang merupakan hal duniawi sehingga sengaja ditiadakan agar tidak mengganggu kegiatan spiritual, begitu kira2 jawaban yang diperoleh dari hasil meng-google.

Pasien kanker yang sedang menjalani kemoterapi juga kebanyakan tak berambut. Itu jelas bukan karena kemauan mereka. Kalau memungkinkan, tentu mereka ingin sekali agar selama kemo rambut justru tumbuh indah dan subur sehingga bisa ikut kontes ratu atau raja rambut. Namun apa daya, obat kemo yang dahsyat itu menghancurkan bukan hanya sel2 kanker, tapi juga sel2 lain yang sebetulnya masih kita butuhkan. Akibatnya, rambutpun rontok, di samping kemungkinan timbulnya dampak negatif lain seperti sariawan, mual atau pusing.

Untunglah, dampak itu hanya sementara.

“Rambut saya sekarang lebih halus dan agak ikal,” kata Trisna, temanku yang akhir tahun lalu menjalani kemo.

Biasanya rambut mulai tumbuh kembali empat sampai enam minggu setelah kemo selesai. Rambut yang baru bisa jadi berbeda tekstur dan warnanya. Misalnya rambut lurus jadi keriting. Ada juga yang rambutnya menjadi keabu-abuan, tetapi beberapa bulan kemudian kembali ke warna aslinya.

Karena sedang menjalani kemo, rambutku juga berguguran dan kini hanya tinggal beberapa helai saja. Moga2 nanti setelah kemo, rambutku jadi lebat dan indah tak kalah dengan Anggun yang hebat itu…

Aku sudah merelakan kepergian sang rambut. Kalau cowok sih enak, ya, nggak usah repot-repot pakai penutup kepala. Malahan ada cowok yang sengaja tampil gundul karena merasa bahwa botak itu seksi. Ada juga sih cewe yang menghabisi rambutnya, misalnya Sinead O’Connor yang kontroversial itu. Tapi itu kasus yang tak biasa.

Karena tak mau menarik perhatian, aku selalu memakai tutup kepala. Tidak memakai wig karena takut panas, cukup bandana, scarf, topi rajut atau yang lainnya.

Seorang teman yang tinggal di benua lain dan tengah berkunjung ke Jakarta memasang di Facebook foto kami yang diambil ketika makan kuetiauw di PS.

“Sima pakai kerudung kelihatan soleha sekali,” komentar teman lain (padahal aku pakai bandana lho, bukan kerudung…. )

Meskipun mengenakan penutup kepala yang terbuat dari bahan katun. seringkali aduh.. nggak tahan… panasnya itu lho.. Tapi aku tahan2 saja karena tak sanggup bertelanjang kepala seperti para Bhiku dan Bhikuni yang telah tertempa menghadapi segala cobaan dan penderitaan.

Seandainya aku artis terkenal mungkin aku nggak perlu pakai tutup kepala. Biar jadi tambah ngetop. Tiap hari dikejar-kejar wartawan infotainment dan masuk TV.

Aku salut sekali dengan teman2 yang sehari-harinya mengenakan kerudung atau penutup kepala lainnya. Mereka sama sekali nggak kelihatan kepanasan, bahkan tampak nyaman. Pastilah itu karena mereka melakukannya dengan penghayatan sepenuh hati.

Friday, April 16, 2010

Rambut

Pagi-pagi bangun tidur, kulihat banyak rambut di bantal. Emang bantal berambut? Sebetulnya sih ya enggak. Bukan bantal yang mengeluarkan rambut, itu adalah rambutku yang berguguran.

Ya, betul.. aku keguguran. Bukan janin yang gugur, tapi ya itu tadi…rambut. Gugurnya juga nggak tanggung-tanggung. Buanyaaakkk sekali.

Itu adalah akibat kemoterapi. Obat yang keras menghantam bukan hanya sel kanker, tetapi juga sel-sel yang sehat. Dampak kemo ke pasien berbeda-beda. Separo dari pasien yang menjalani kemo akan merasa mual atau pusing dan sebagian besar mengalami kerontokan rambut. Daya tahan tubuhku termasuk kuat sehingga bisa bebas dari rasa mual dan pusing, apalagi karena selama kemo, aku juga diinfus dengan cairan anti mual, selain obat anti nyeri dan anti shock, juga anti gores dan anti penyok… :)

Dulu, lima tahun yll, aku juga pernah dikemo. Ketika itu kemo dilakukan setiap 4 minggu sekali, selama 6 putaran. Satu putaran terdiri dari 1x kemo. Setelah kemo yang ketiga, rambut rontok dan aku mulai sariawan.

Sekarang ini aku juga harus menjalani kemo selama 6 putaran. Bedanya, sekarang 1 putaran = 3x kemo, yang dilakukan seminggu sekali, dengan bonus libur pada minggu yang ke-4. Putaran ke-2 dilakukan pada minggu ke-5, begitu seterusnya sampai putaran terakhir.
Aku menyelesaikan putaran yang pertama pada hari Sabtu, 10 April 2010. Nah, pada keesokan harinya, rambut mulai berguguran.

Kalau dulu rambut langsung habis seketika, sekarang ini nggak sekaligus. Jadi sampai hari ini masih ada sedikit rambut yang bertengger di kepalaku.
Tapi sejak hari Senin aku sudah memakai tutup kepala. Untung aku masih punya scarf, bandana dan beberapa topi yang aku pakai setelah kehilangan rambut 5 th yll. Nggak pakai wig karena takut panas.

Beberapa bandana aku beli di pinggir jalan, di tempat penjual asesoris sepeda motor. Murah meriah. Nggak heran kalau tukang sayur yang lewat depan rumah juga memakai bandana yang sama… Tapi ya biarin aja.

Cuek. Itu salah satu jurus yang aku gunakan dalam menghadapi tatapan mata yang mengandung berbagai rasa. Mereka yang tahu kalau aku sedang menjalani kemo, mungkin tahu persis mengapa aku memakai penutup kepala dan menatap dengan pandangan prihatin. Ada juga yang heran. Mungkin mereka mengira aku mau bergaya … Tapi kok gayanya nggak pas ya… Memang aku orangnya nggak modis dan lebih mementingkan kenyamanan daripada bergaya.

Singkat cerita, dengan jurus cuek aku berhasil menjalani hari-hariku tanpa beban.

Waktu aku SMS bu dokter, mengabarkan bahwa rambut mulai berguguran, dia membesarkan hari, “nanti juga tumbuh lagi, siapa tahu bisa jadi lebih tebal.” Memang bu dokter ini baik sekali dan selalu membesarkan hati.

Seorang teman menunjukkan rasa simpati setelah mengetahui kalau aku keguguran (rambut) akibat kemoterapi. Lalu ia berkomentar: “But you look happy.”

Mungkin ia heran melihat aku masih bisa tertawa dan nggak stres. BUSYET ... Yang bener aja. Emangnya orang yang kena kanker dan menjalani kemo emang nggak boleh happy? Mesti sedih, stres, frustrasi, nangis2 gitu...?????

Oh ya, aku sedih, sedih dengan persepsi orang tentang penyintas kanker (cancer survivor). Memang ada penderita kanker yang kondisinya memprihatinkan. Tetapi banyak yang masih bisa menjalani hidup yang berkualitas. Bisa aktif dan produktif. Bisa ke sana ke mari dan ketawa-ketiwi...

Aku sih sama sekali nggak happy karena kena kanker. Aku juga nggak happy mesti kemo setiap minggu dan mengalami keguguran. Tapi ya gimana dong. Namanya juga sudah kena penyakit, ya kita terima saja kenyataan itu dan menjalani pengobatan sebisanya.

Ngapain mesti mikirin yang enggak2, itu kan mengundang stres. Mendingan mikir yang positif aja. Jadi ingat judul buku karangan mbak Yuni, pendiri CISC (Cancer Information and Support Center), I have cancer, it doesn’t have me.

Kita memang kena kanker, tapi jangan biarkan kanker menguasai kita. Badan kita mungkin sakit karena digerogoti oleh sel-sel kanker, tatapi pikiran kita kan masih sehat. Pikiran yang sehat adalah modal untuk menjalani hidup ini dengan sebaik-baiknya.

Dengan pikiran sehat, kita bisa berpikir positif. Rambut yang hilang bisa tumbuh lagi. Sedih? Ya, itu wajar. Marah? Itu juga wajar. Tapi kesedihan dan kemarahan yang berlarut-larut nggak ada gunanya.

Banyak kok hal yang menyenangkan yang patut disyukuri. Contohnya nih, ada teman yang dengan spontan menyerahkan 2 lembar scarfnya.
“Gw ada 2 scarf yg belum pernah dipakai. Ntar gw kasih lu,” katanya.
Seneng dong, dapat hadiah. Seneng dong, punya temen yg baik hati.
Ya, banyak hal yang bisa membuat kita happy.

Thursday, April 8, 2010

Belum kemo sudah stress

Jauh-jauh hari sebelum kemo ke-2 yang dijadwalkan pada hari Sabtu, 3 April 2010, bu dokter sudah wanti-wanti perlunya botol cairan infus dan selang infus khusus.

“Selang infusnya pake filter, sedangkan botol infus terbuat dari plastik khusus, warnanya agak butek,” katanya. “Kalo pake yg biasa, plastiknya bisa kemakan.”

Jadi, ketika memesan obat ke distributor, aku meminta agar jangan lupa sekalian dengan selang infus dan botol infusnya yang khusus. Pinginnya sih obat diantar hari Rabu, tapi pak Sales baru bisa mengantar hari Kamis siang menjelang sore. Ya sudah, yang penting beres.

Sekitar jam 2:30, pak Sales muncul di lobi kantor dengan membawa obat kemo Paclitaxel bermerek dagang Paxus yang diproduksi oleh Kalbe, beserta selang infusnya.

“Lho, mas, mana botol infusnya?”
“Pakai yang biasa saja, nggak apa.”
“Nggak bisa, mas, mesti yang khusus.”
“Dulu memang pada awalnya memakai botol khusus, tetapi sekarang sudah memakai yang biasa.”

Tentu saja aku nggak terima. Segera aku ke ruang kerjaku untuk mengambil buku agenda yang memuat nomor telepon Kalbe (kenapa ya, ga aku simpan di hape?). Benar saja. Pihak Kalbe menjelaskan bahwa setiap pembelian obat itu pasti disertai dengan botol infus dan selang infus khusus. “Kalau memakai yang biasa, nanti efektivitasnya bisa berkurang,” katanya.

Minggu sebelumnya, aku membeli obat di RS Dharmais. Pihak farmasi juga tidak memberikan selang dan infus khusus. Akibatnya, kemo yg dilaksanakan di RS lain itu tertunda selama hampir 2 jam karena harus menunggu datangnya selang infus yang diusahakan oleh bu dokter.

Aku lalu menghubungi Dharmais. Siapa tahu, mereka memiliki persediaan selang dan botol infus khusus untuk kemo.

“Mas, minggu lalu saya membeli Paxus di situ. Seharusnya kan ada botol dan selang infus yang khusus, tetapi kemarin saya diberi yang biasa.”
“Di sini adanya yang biasa.”
“Bukannya harus memakai selang dan botol infus yang khusus?”
“Tidak ada yang khusus. Kalau tidak percaya, tanya saja bagian pengoplosan obat di ekstension *&%@,” katanya.
“Oh, ya makasih mas, nanti saya telepon bagian pengoplosan,” kataku sambil menuju ke lobi. Eh, begitu sampai lobi, nomornya lupa.

Kepada pak Sales, aku jelaskan bahwa menurut Kalbe, harus ada selang dan botol infus khusus.
“Tidak. Dulu memang begitu, sekarang sudah tidak lagi,” ia bersikeras.
Maka aku telepon kembali Kalbe dan membiarkan hape-ku ke pak Sales agar ia berbicara langsung dengan mereka. Setelah itu baru ia percaya. Tapi karena hari sudah sore, ia tidak sanggup mencari botol infus itu.

Akhirnya aku mengalah. Aku bertekad akan berusaha mencarinya sendiri.

Malam hari selepas pukul 19:30, setelah pekerjaan selesai, aku coba menghubungi RS PIK, RS Gading Pluit, RS Fatmawati, RSCM dan RS Pertamina melalui telepon. Apotik di RSCM dan RS Pertamina tidak menjawab sedangkan di tempat lain, tidak ada.

Stres rasanya. Rasa capai akibat bekerja ditambah capai mental. Kepala langsung pusing. Nyut.. nyut.. nyut… Akhirnya aku menyerah. Aku SMS bu dokter.

“Saya masih ada persediaan satu,” balasnya.

Oh, leganya… Tapi kepala sudah terlanjur nyut-nyutan… dan perlu waktu untuk menenangkan pikiran.

Yang jelas, pada hari Sabtu, kemo berjalan lancar. Infusnya hampir 3 jam, sedangkan pesiapannya hampir 1 jam.

Syukurlah, tak ada efek samping yang berarti. Pulang kemo masih bisa nyetir. Hanya saja kemarin dan kemarin lusa sempat agak pusing, tapi kelihatannya ini lebih karena pekerjaan, bukan kemo…

Sunday, March 28, 2010

Akhirnya kemo juga …

Pas hari raya Nyepi tgl. 16 Maret 2010, ketika umat Hindu Bali mengurung diri di rumah, aku malah jalan2 dan menikmati keramaian sepanjang hari. Lha emang aku kan nggak ngerayain Nyepi.

Meskipun di sini libur, tapi di Singapur hari itu adalah hari kerja. Hari itu aku dijadwalkan untuk berkonsultasi dengan Dr. Tan Sing Huang di NUH pada jam 10 pagi. Bersama teman lamaku, Retno, aku tiba pada hari Senin dan menginap di apartemen teman kita, Lewa, yang memiliki koleksi segudang batik dan kain2 tua.

Jam 9 pagi, kita sampai di NUH. Di sana sudah ada beberapa pasien juga. Ketika sedang menunggu, tiba2 datang seorang petugas membagi-bagikan sebungkus kecil biskuit, crackers. Oh, baru tau lho ada servis seperti itu. Biasanya sih aku selalu datang untuk berkonsultasi sekitar jam 14 dan nggak pernah dikasih biskuit..

Kalau minuman hangat dari dulu memang disediakan. Kita bisa mengambil sendiri melalui mesin pembuat minuman. Ada capucino, milo, mocca, teh tarik dll. Selimut juga tersedia bagi mereka yang memerlukan. Maklum AC-nya dingin sekali.

Pada kedatanganku kali ini aku membawa hasil CT scan lengkap, termasuk pemeriksaan kepala, untuk melihat apakah ada penyebaran ke otak atau organ tubuh lain. Juga hasil bone scan. Semua pemeriksaan dilakukan di Jakarta untuk menghemat biaya Sebelumnya, hasil MRI sudah aku kirim terlebih dahulu ke sana melalui DHL, karena bu dokter ingin sekali segera melihat hasilnya. Mahal banget lho ongkosnya, Rp 320 ribu. Hampir sama dengan tiket promo Jkt-Sgp…

Seperti biasa, bu dokter selalu membahas hasil pemeriksaan dari Jakarta dengan rekannya yang dokter ahli radiologi. Hasil analisa dokter radiologi di Jakara dan di Singapur tidak selalu sama. Misalnya, dulu dokter di Jakarta mencurigai adanya penyebaran kanker di dinding luar paru-paru. Tetapi menurut dokter di Singapura, tidak ada penyebaran itu. Lalu pada hasil MRI yang terakhir ini, dokter di Jakarta menyebutkan adanya kompresi ringan pada tulang belakang yang mengenai selubung sumsum tulang dural dan akar syaraf. Tapi kata dokter di NUH, tidak ada “cord compression atau significant nerve root impringement.”

Setelah menunggu sekitar satu setengah jam, baru dokter memanggilku. Kali ini konsultasinya lamaaaaa sekali. Hampir 1 jam.

Ada dua kesimpulan. Yang pertama, kaki kananku yg lemah, yg sakit kalo dipakai berjalan, nggak ada hubungannya dengan kanker. Tadinya diduga ini karena kanker sudah menyerang tulang panggul, terutama bagian kanan. Tapi karena jalanku semakin terpincang-pincang timbul kekhawatiran kalau sumsum tulang belakang terkena kanker. Ini gawat sekali karena jika tidak ditangani segera, bisa lumpuh. Kekhawatiran lain adalah penyebaran kanker di otak. Ada kemungkinan kaki melemah karena perintah dari otak ke kaki kanan nggak nyampe…. gara2 otaknya sudah nggak beres. Untunglah otakku masih normal.

“Untuk kaki yang melemah ini, perlu ke dokter syaraf,” kata bu dokter. “Sudah didaftarin nanti hari Senin di sini.”

“Aduh, saya nggak sanggup dok, kalau harus bolak-balik terus ke Singapur. Selain repot ninggalkin kerjaan, juga berat di ongkos. Nanti saya periksa di Jakarta saja,” kataku sambil mengeluh dalam hati: “Kena kanker saja sudah susah setengah mati, ini kok masih dapet bonus sakit saraf- eh maksudnya sakit saraf ini bukan gila, lho, tapi ya itu, syaraf yg bermasalah sehingga aku jalannya pincang.”

Tapi di lain sisi, aku bersyukur juga karena ternyata sumsum tulang belakang dan otakku masih bebas dari kanker.

Kesimpulan kedua. Setelah melihat hasil bone scan, dokter menganjurkan agar aku menjalani kemoterapi. Dari hasil bone scan, tampak ada penyebaran baru di tulang belakang dan aktivitas yang semakin meningkat, khususnya di tulang panggul kanan.

Untuk kemo ini ada dua alternatif.

Alternatif pertama: kemo dilakukan setiap minggu selama enam sampai delapan putaran. Satu putaran terdiri dari 3x kemo. Jadi selama tiga minggu berturut-turut, aku harus kemo. Minggu ke-4 libur. Asyik juga ya, dapat libur. Lalu pada minggu berikutnya putaran ke-2 dimulai. Begitu seterusnya sampai minimal 6 putaran atau 18x kemo.

Alternatif kedua: kemo dilakukan setiap tiga minggu selama enam sampai delapan putaran.

Tapi doker menyarankan dengan amat sangat agar aku mengambil alternatif pertama karena lebih efektif. Selain itu secara keseluruhan biaya untuk alternatif kedua bisa 2x lipat dari alternatif pertama.

“Kemonya mulai minggu depan ya,” kata bu dokter.

Untuk menekan biaya, aku akan menjalani kemo di Jakarta, dan bu dokter tidak keberatan dan berjanji akan mengirimkan rincian prosedur kemo serta obat2 yang diperlukan melalui email.

Beberapa hari kemudian, datanglah email dari bu dokter disertai medical report dan rincian kemo yang ditujukan untuk dokter yang akan menangani kemo di Jakarta. Medical reportnya sendiri satu halaman penuh, berisi riwayat kankerku dari pertama kali serta perkembangannya sampai saat ini, sedangkan rincian untuk kemo satu setengah lembar. Yang ditulis adalah kemo dengan alternatif pertama, yaitu yang mingguan. Sedangkan alternatif kedua sama sekali tidak disinggung.

Aku percaya kalau memang alternatif pertama yang terbaik, jadi ya.. aku menurut saja.

Sebelum berkonsultasi dengan dokter ahli di Jakarta. Aku terlebih dahulu mencari informasi di internet mengenai obat kemo yang akan dipakai, yaitu Paclitaxel. Dari sana aku mengetahui bahwa Kalbe memproduksinya dengan merek dagang Paxus. Belakangan aku baru tahu ada beberapa perusahaan obat yang memproduksinya dengan merek dagan lain.

Mula-mula aku telepon Kalbe untuk menanyakan harganya, tapi ia tidak melayani perorangan dan aku diminta menghubungi apotik rekanannya. Ketika aku tanya apakah ada program bonus, ternyata ada, yaitu beli 5 gratis 1. Lumayan juga ya, mengingat harganya yang mahal.

Lalu aku cek harga di apotik rekanan Kalbe, ternyata Rp 2.860.000 untuk dosis 100 ml dan Rp 998.000 untuk yang 30 ml. Harga di YKI Rp 2.530.000 dan Rp 907.000 sedangkan Dharmais Rp 243.000 dan Rp 870.000. Tumben YKI lebih mahal dari Dharmais ya?

Sekali kemo diperlukan 116 ml. Tapi karena obat yang ada dosisnya 100 ml dan 30 ml, maka dikurangi 1 ml, supaya sekali membeli obat dalam botol berdosis 30 ml dapat dipakai selama 2x kemo.

Di YKI dan Dharmais, menurut petugas, tidak ada program bonus. Sedangkan di Kalbe, melalui apotik rekanannya, setelah aku cek ulang, ternyata program 5 bonus satu artinya, setelah 5 putaran, maka putaran ke-6 gratis. Jadi bukan setelah 5x pembelian lalu gratis 1.

Dalam konsultasi dengan seorang dokter, aku menanyakan tentang harga obat. Segera dokter menghubungi apotik di RS tsb dan memberitahukan bahwa harga obat dengan merek dagang anu untuk dosis 100 ml sebesar Rp 4 juta sekian. Aku lupa apa merek dagang obat itu.

“Dok, katanya ada Paxus. Harganya bukannya lebih murah ya?”

“Paling beda tipis,” kata dokter.

Aku hanya mengangguk-angguk saja.

Sebetulnya di Jakarta ini aku juga sudah punya langganan dokter, yaitu dr. Winarti. Dia bukan dokter spesialis ahli kanker. Tetapi punya banyak pengalaman dalam menangani pasien kanker. Dr. Win juga menjadi semacam “asisten” untuk seorang dokter yang berpraktik di RS Mt Elizabeth yang mengajarinya bagaimana menangani kemo dan merawat pasien penderita kanker. Dengan demikian pasien dari dokter itu tidak perlu bolak balik ke Singapura untuk kemo..

Setiap 4 minggu sekali aku menemui dr. Winarti untuk suntik hormon Zoladex dan infus Zometa untuk menguatkan tulang. Khusus untuk kemo yang frekuensinya tinggi ini, dr. Winarti juga menganjurkan aku agar menghubungi dokter lain karena mungkin saja suatu saat ia berhalangan.

Singkat cerita, akhirnya aku jadi menjalani kemo yang pertama bersama dr. Win pada hari Jumat, 26 Maret 2010 di sebuah RS swasta.

Pada hari Kamis, aku harus menjalani pemeriksaan darah dan urin. Aku agak khawatir kalau hasilnya jelek karena malam sebelumnya aku hanya tidur kurang dari 3 jam. Lembur gara2 ada kerjaan. Sebetulnya salahku juga karena … pikun., lupa hari. Tapi untunglah tes yg dilakukan di RSIB dekat rumah ini hasilnya cukup bagus. Mungkin karena sebelum berangkat aku makan banyaaakkk…

Siangnya aku ke Dharmais untuk membeli obat.

“Yang 100 mg habis. Beli saja yang dosis 30 ml sebanyak 4 dos,” kata petugas.

“Lho? Habis? Kemarin saya telepon, katanya ada. Lagipula kalau beli yang 30 milian kan jatuhnya jadi mahal.”

“Emang kemonya kapan?”
“Besok pagi.”

Lalu petugas berkonsultasi dengan rekannya.

“Ada tapi di lantai 3. Tunggu ya,” kata rekannya. Di lantai 3 ada apotik juga, yang khusus melayani pasien rawat inap.

Ah, lega sekali. Akhirnya aku berhasil mendapatkan obat itu beserta alat2nya.

Eh, pas mau kemo pada keesokan harinya, ternyata ada masalah teknis. botol infus dan selangnya salah. Seharusnya digunakan yang terbuat dari bahan khusus, kalau tidak, plastiknya bisa termakan obatnya.

“Jangankan di Dharmais, di Singapur saja bisa saja terjadi kesalahan seperti itu,” kata dr. Win dengan bijaksana.

Bu dokter punya persediaan botol infus yang ditaruh di mobilnya, tetapi selangnya ga ada. Selang infus ini harganya tidak mahal, tapi sulit dicari, hanya ada di RS dan apotik tertentu.

Bu dokter segera menelpon apotik langganannya yang banyak menjual obat2 kanker. Jawabannya nihil.

Aduh, gimana dong…

“Coba saya telepon bosnya,” kata dr. Win.

Dihubunginya pemilik apotik, yang memberikan jawaban lain. Bisa diusahakan, katanya.

Syukurlah.....

Setelah menunggu hampir 2 jam akhirnya selang infus datang. Lama sekali karena ternyata apotik itu memang tak punya persediaan dan harus mangambilnya di RSCM.

Akhirnya kemo dimulai setelah jam 3 sore... Proses kemo, kalo menurut resep dokter dari NUH, hanya 2 jam. Tapi kemarin hampir 3 jam, berhubung ini baru yg pertama dan dokter nggak mau cepat2 mengerjakannya, ia ingin melihat efeknya dahulu. Selain itu ia menambahkan satu botol cairan untuk mengingkatkan stamina tubuh ... Syukurlah... semuanya berjalan lancar...

Dulu... 5 tahun yll aku juga pernah kemo. Aku juga ga merasa mual atau pusing atau mabok. Tapi setelah kemo ke-3, rambut rontok dan pada kemo selanjutnya mulai sariawan....

Kali ini aku juga baik2 aja. Tidak mual atau pusing. Selama kemo sempat ngantuk sekali karena pengaruh obat. Tapi hanya sementara.

Aku ke RS diantar temanku Dewi, yang juga telah siap untuk nyetirin mobil pulang, untuk jaga2 kalau aku teler setelah kemo. Berhubung aku merasa baik2 saja, ya ga masalah. Aku bisa bawa mobil pulang ... :)

Sunday, December 9, 2007

Less Hair, Hair Loss, Hairless



“Thank you bu Haji,” pak Ogah* said as I gave him some money before turning my car to a narrow alley in Pondok Pinang, South Jakarta.

Bu Haji?

Lho. I am not Muslim. It is mentioned in my ID card that I am Christian even though I don’t go to church on Sunday (while in many countries ID cards do not say anything about your religion, something very personal which has nothing to do with the state).

Why did pak Ogah called me bu Haji? It’s not because I was generous, giving him lots of money for regulating the traffic in front of the narrow alley. (Hajs, priests and other religious leaders are supposed to be generous, aren’t they?). Sometimes I am even annoyed with pak Ogah who pretends to be busy while the road is empty.

Anyway, he called me bu Haji because I was wearing a Muslim-look blue hat that covered not only my head but also my ears, which any baseball cap could not do.

Sinead O’Connors shaved her head bald, making public appearances with confidence. And she looked beautiful.

Even though I am also beautiful (hehehe..), I am not Sinead O’Connors. I did not want to become the center of people’s attention. People in my neighborhood and everyone who saw my beautiful head would all talk about me, and reporters from Pos Kota, Check and Recheck, Seputar Indonesia, RRI and BBC would swarm my house and queue for an exclusive interview. Oh no… I was not ready for that.

Before my first chemo in January 2004, I had heard about the side effects. In this treatment you get some a combination of several kinds of liquid drugs infused into your blood. This formula (I’d rather call it poison—it’s true, all chemicals are basically poison), which is expected to combat cancer, is so powerful that it also affects the healthy cells.

Hair loss and nausea are the two common symptoms. I was lucky because I did not suffer from the nausea, but I had incredibly painful mouth ulcers. I hated it, but it was not the worst part.

After my first chemo, I pulled my hair, expecting the worst to come. But the hair was still there…It was not until the third chemo that the hair started to fall (like the snow in winter time…) I had prepared myself for this, still I trembled with a chilled feeling in my viscera… and was motionless for a moment… before I took a broom and swept the hairy floor… (lantai berambut)

I looked at the mirror. I used to have thin hair, but it was still better than no hair at all. I wished I was a man. It’s ok for men to have bald head, but when it happens to women, all eyes will be on them.

So I just wore a Muslim hat or a scarf but not a wig because it makes me uncomfortable (panasss).

A friend commented, joking: “Aku aja yang Muslim nggak pakai jilbab, koq kamu malahan pakai… “

Padahal aku nggak pakai jilbab beneran seperti Santi Soekanto (temen ex JP yang sudah lama nggak ketemu.. ) atau Ratih Sang (ex peragawati, adik Dewi Savitri yg juga ex JP) atau Soleha (tokoh sinetron RCTI yg setia ditonton nyokap setiap sore). Yang aku pakai adalah kain penutup kepala berwarna biru tua yang ujungnya aku ikatkan pada bagian belakang. Terus terang, aku sama sekali nggak merasa memakai jilbab, malah rasanya mirip ninja… (tapi ninja yang kelihatan hidung, pipi dan mulutnya) …

One day when I interviewed Martha Tilaar (owner of Sari Ayu cosmetics), the friendly woman said that she was Hitachi – Hitam Tapi China. And then she asked me (who was wearing a black, stylish Muslim woven hat): “Anda Cina Muslim ya?”

I smiled and told her the truth. She responded by offering free hair treatment in her beauty saloon and said that she would give me a comb made of buffalo horn. But I didn’t take the offer because her saloon was located quite far from my house and I was too shy to meet her secretary to collect the comb. And who needed a comb if there was no hair in the head?

Despite the painful mouth ulcers and the hair loss, I felt lucky because during the six-round chemotherapy I did not suffer any nausea or other serious side effects (tapi mual ketika mencium bau seonggok daging sapi menu makan siang di RS). I could work as usual, just like other people.

During my first chemo, I had to spend a night in the hospital (Metropolitan Medical Center in South Jakarta) because the doctor was afraid that something bad might happen to me. But for the five other chemo sessions , I only spent a few hours for the treatment. I drove my car to the hospital and after the treatment I drove again... And I was home, safe and sound.

Two years have passed since the chemoteraphy was over and no one calls me bu Haji anymore. As I have my thin hair back, my hats and scarfs now rest in the wardrobe. (If anyone needs it, I would gladly donate any of them)
.
*Pak Ogah (literaly means Mr. No) is the character of Si Unyil TV children's program who refuses to help people unless he receives some money. Jakarta has many young people who act as amateur traffic regulators at U-turn spots, junctions and intersections, asking for money from motorists, sometimes in a threatening manner.