Beberapa waktu yll seorang teman bertanya: “Kalau baca SMS pusing nggak?”
“Oh, sama sekali enggak,” jawabku.
Pertanyaan serupa datang lagi kemarin dari teman lain.
”Kamu bisa baca (buku)?”
”Bisa dong....”
Rupanya mereka sangat prihatin dengan kondisiku dan mengkhawatirkan bahwa keadaanku sudah sedemikian parahnya sehingga kepala bisa puyeng hanya karena membaca SMS, apalagi buku.
Mereka pasti menganggap bahwa sebagai penderita kanker stadium 4 yang sudah lebih dari tiga bulan tergeletak di tempat tidur, pasti kondisiku sangat mengenaskan. Apalagi ditambah dengan bagian badan bawah tubuh dan kaki yang tak dapat digerakkan. Hiiiihh serem....
Memang betul aku kena kanker. Memang betul penyakit itu sudah memasuki stadium 4 karena sel2 kanker yang tadinya bercokol di payudara sudah menyebar ke berbagai bagian tulang, termasuk tulang belakang. Memang betul sumsum tulang belakang juga tak luput dari serangan panyakit ini sehingga syaraf terganggu sehingga kaki terkulai layu, lumpuh.
Tapi itu bukan berarti bahwa sepanjang hari aku hanya terkapar tanpa daya, memandang langit2 kamar dengan pandangan kosong sambil meratapi nasib.
Tuhan Maha Baik. Aku masih dapat membaca, menulis dan berhitung… Sebagai penulis, sekali-kali tulisanku masih muncul di media tempatku bekerja (dan tentu saja di blog). Sebagai penerjemah independen, aku masih dapat mengerjakan tugas dengan baik jika ada order pekerjaan.
Syukurlah aku masih dapat menjalani hidup yang berkualitas, walau penuh perjuangan. Perjuangan ini masih berlanjut terus dan sekarang ini berbentuk kemoterapi. Dulu aku sudah pernah menjalani kemoterapi sebanyak dua kali. Berbeda dengan kemo sebelumnya yang dilakukan dengan infus, kali ini aku menjalani kemo oral. Obat cukup diminum saja.
Nama obat kemo ini capecitabine dengan merek Xeloda. Di RS Dharmais harganya tak kurang dari Rp 43 ribu per kapsul sedangkan di Apotek Grogol Rp 38 rbu dan di salesman langgananku Rp 37 ribu. Obat diminum pagi dan malam, masing2 sebanyak tiga kapsul. Obat ini diminum selama dua minggu berturut2, lalu setelah ada jeda selama seminggu, obat kembali diminum dalam jangka waktu yang sama. Proses ini diulang sampai delapan kali atau 24 minggu alias enam bulan. Karena aku mulai minum obat tgl. 2 Juli 2011, maka kemo kali ini kira2 baru akan selesai Januari tahun depan. Lama ya?
Berbeda dengan kemo melalui infus, kemo oral lebih sedikit efek sampingnya dan tidak mengakibatkan kerontokan rambut. Pengaruhnya pada setiap orang berbeda. Ada yang mual dan kehilangan nafsu makan. Aku sendiri waktu pertama kali minum obat itu merasa sangat tidak nyaman selama dua hari. Bukan rambut, tapi badan yang serasa mau rontok... Untunglah itu tak berlangsung lama.
Beberapa hari kemudian, badan terasa jauh lebih baik. Tadinya, sebelum kemo, aku sering merasa nyeri di dada kiri. Tapi rasa nyeri itu telah berkurang, bahkan sekarang sama sekali sudah reda.
Dulu aku selalu terbangun setiap malam... eh, pagi, sekitar jam 1... dan tidak dapat tidur sampai subuh karena kepanasan meskipun ruangan ber-AC. Kapan itu pernah aku bertanya ke dokter soal rasa panas yang sering menggangguku dan memperoleh jawaban: ”Itu karena penyakitnya.” Sekarang aku masih suka terbangun, tapi relatif lebih mudah tidur kembali.
Oh ya, aku juga minum air rebusan daun sirsak. Dulu daun sirsak kuperoleh dari teman yang mendapatkannya dari saudara yang memiliki pohon sirsak. Tapi kini daun sirsak banyak dijual setelah dikeringkan dan dipotong2 kecil serta dimasukkan ke dalam plastik. Sangat praktis. Seorang teman pernah memberiku satu dos daun sirsak kering tsb.
Konon kabarnya daun sirsak sangat bagus, lebih hebat dari kemo. Efek sampingnya adalah tubuh merasa panas. Jadi, apakah aku seringkali kepanasan karena minum rebusan air daun sirsak? Belum tentu. Karena suatu ketika aku berhenti meminumnya, tetapi badan tetap saja merasa panas.
Kembali ke awal cerita.... Teman yang menanyakan apakah aku pusing kalau membaca SMS ternyata punya niat tertentu. Sebelumnya ia menanyakan nomor PIN Blackberry, padahal aku nggak punya BB.
”Teman-teman sepakat untuk membelikan BB untukmu supaya kita bisa ramai2 ngobrol....,” katanya.
Aduh, baik banget teman2 SMA-ku itu.
Sedangkan teman yang menanyakan apakah aku bisa membaca (buku), datang ke rumah sambil membawa buah2an dan sebuah buku.
Sebelum pulang, ia menyerahkan buku yg masih terbungkus dalam kantong plastik.
”Banyak yang terbantu dengan buku ini,” katanya. “Jangan lihat judulnya,” ia menambahkan,
Setelah ia berlalu, aku ambil buku itu dari kantong plastik. Judulnya 10 Jam Menjelang Kematian.
Buku itu mengisahkan tentang pasien kanker yang oleh dokter divonis tinggal hidup 10 jam, tetapi ternyata ia bisa bertahan hidup bertahun2 kemudian, sampai sekarang. Resepnya: keteguhan iman pada Tuhan.








