Showing posts with label Books on Breast Cancer. Show all posts
Showing posts with label Books on Breast Cancer. Show all posts

Tuesday, August 2, 2011

Menjelang Kematian?


Beberapa waktu yll seorang teman bertanya: “Kalau baca SMS pusing nggak?”


“Oh, sama sekali enggak,” jawabku.


Pertanyaan serupa datang lagi kemarin dari teman lain.


”Kamu bisa baca (buku)?”


”Bisa dong....”


Rupanya mereka sangat prihatin dengan kondisiku dan mengkhawatirkan bahwa keadaanku sudah sedemikian parahnya sehingga kepala bisa puyeng hanya karena membaca SMS, apalagi buku.


Mereka pasti menganggap bahwa sebagai penderita kanker stadium 4 yang sudah lebih dari tiga bulan tergeletak di tempat tidur, pasti kondisiku sangat mengenaskan. Apalagi ditambah dengan bagian badan bawah tubuh dan kaki yang tak dapat digerakkan. Hiiiihh serem....


Memang betul aku kena kanker. Memang betul penyakit itu sudah memasuki stadium 4 karena sel2 kanker yang tadinya bercokol di payudara sudah menyebar ke berbagai bagian tulang, termasuk tulang belakang. Memang betul sumsum tulang belakang juga tak luput dari serangan panyakit ini sehingga syaraf terganggu sehingga kaki terkulai layu, lumpuh.


Tapi itu bukan berarti bahwa sepanjang hari aku hanya terkapar tanpa daya, memandang langit2 kamar dengan pandangan kosong sambil meratapi nasib.


Tuhan Maha Baik. Aku masih dapat membaca, menulis dan berhitung… Sebagai penulis, sekali-kali tulisanku masih muncul di media tempatku bekerja (dan tentu saja di blog). Sebagai penerjemah independen, aku masih dapat mengerjakan tugas dengan baik jika ada order pekerjaan.


Syukurlah aku masih dapat menjalani hidup yang berkualitas, walau penuh perjuangan. Perjuangan ini masih berlanjut terus dan sekarang ini berbentuk kemoterapi. Dulu aku sudah pernah menjalani kemoterapi sebanyak dua kali. Berbeda dengan kemo sebelumnya yang dilakukan dengan infus, kali ini aku menjalani kemo oral. Obat cukup diminum saja.


Nama obat kemo ini capecitabine dengan merek Xeloda. Di RS Dharmais harganya tak kurang dari Rp 43 ribu per kapsul sedangkan di Apotek Grogol Rp 38 rbu dan di salesman langgananku Rp 37 ribu. Obat diminum pagi dan malam, masing2 sebanyak tiga kapsul. Obat ini diminum selama dua minggu berturut2, lalu setelah ada jeda selama seminggu, obat kembali diminum dalam jangka waktu yang sama. Proses ini diulang sampai delapan kali atau 24 minggu alias enam bulan. Karena aku mulai minum obat tgl. 2 Juli 2011, maka kemo kali ini kira2 baru akan selesai Januari tahun depan. Lama ya?


Berbeda dengan kemo melalui infus, kemo oral lebih sedikit efek sampingnya dan tidak mengakibatkan kerontokan rambut. Pengaruhnya pada setiap orang berbeda. Ada yang mual dan kehilangan nafsu makan. Aku sendiri waktu pertama kali minum obat itu merasa sangat tidak nyaman selama dua hari. Bukan rambut, tapi badan yang serasa mau rontok... Untunglah itu tak berlangsung lama.


Beberapa hari kemudian, badan terasa jauh lebih baik. Tadinya, sebelum kemo, aku sering merasa nyeri di dada kiri. Tapi rasa nyeri itu telah berkurang, bahkan sekarang sama sekali sudah reda.


Dulu aku selalu terbangun setiap malam... eh, pagi, sekitar jam 1... dan tidak dapat tidur sampai subuh karena kepanasan meskipun ruangan ber-AC. Kapan itu pernah aku bertanya ke dokter soal rasa panas yang sering menggangguku dan memperoleh jawaban: ”Itu karena penyakitnya.” Sekarang aku masih suka terbangun, tapi relatif lebih mudah tidur kembali.


Oh ya, aku juga minum air rebusan daun sirsak. Dulu daun sirsak kuperoleh dari teman yang mendapatkannya dari saudara yang memiliki pohon sirsak. Tapi kini daun sirsak banyak dijual setelah dikeringkan dan dipotong2 kecil serta dimasukkan ke dalam plastik. Sangat praktis. Seorang teman pernah memberiku satu dos daun sirsak kering tsb.


Konon kabarnya daun sirsak sangat bagus, lebih hebat dari kemo. Efek sampingnya adalah tubuh merasa panas. Jadi, apakah aku seringkali kepanasan karena minum rebusan air daun sirsak? Belum tentu. Karena suatu ketika aku berhenti meminumnya, tetapi badan tetap saja merasa panas.


Kembali ke awal cerita.... Teman yang menanyakan apakah aku pusing kalau membaca SMS ternyata punya niat tertentu. Sebelumnya ia menanyakan nomor PIN Blackberry, padahal aku nggak punya BB.


”Teman-teman sepakat untuk membelikan BB untukmu supaya kita bisa ramai2 ngobrol....,” katanya.


Aduh, baik banget teman2 SMA-ku itu.


Sedangkan teman yang menanyakan apakah aku bisa membaca (buku), datang ke rumah sambil membawa buah2an dan sebuah buku.


Sebelum pulang, ia menyerahkan buku yg masih terbungkus dalam kantong plastik.


”Banyak yang terbantu dengan buku ini,” katanya. “Jangan lihat judulnya,” ia menambahkan,


Setelah ia berlalu, aku ambil buku itu dari kantong plastik. Judulnya 10 Jam Menjelang Kematian.


Buku itu mengisahkan tentang pasien kanker yang oleh dokter divonis tinggal hidup 10 jam, tetapi ternyata ia bisa bertahan hidup bertahun2 kemudian, sampai sekarang. Resepnya: keteguhan iman pada Tuhan.

Tuesday, September 29, 2009

Alvita: Kebahagiaan adalah Pilihan

Mati lampu yang menyebalkan itu ternyata bisa disyukuri juga, lho. Gara-gara mati lampu, si kecil Alvita jadi ketahuan menderita kanker.
Alvita sedang merayakan ulang tahunnya yang pertama pada tahun 1984 ketika listrik tiba-tiba padam. Dalam kegelapan, mata kirinya bersinar seperti mata kucing.
Bagaimana bisa? Orang tua Alvita adalah manusia biasa, bukan manusia harimau...
Ayah Alvita yang kebetulan seorang dokter di Jawa Tengah tahu kalau itu adalah suatu kelainan yang perlu diwaspadai.
Ia segera membawanya ke dokter spesialis mata yang memberikan diagnosa bahwa Alvita menderita retinoblastoma, yaitu tumor ganas di mata kiri. Dokter menganjurkan agar segera dilakukan operasi pengangkatan mata untuk mengantisipasi penyebaran kanker ke bagian tubuh lainnya.
Alvita pun segera dibawa ke RS Mata Aini di Jakarta. Operasi.berjalan lancar meskipun suasana sempat diliputi rasa khawatir dan hujan air mata.
Kehilangan satu mata sempat membuat Alvita minder karena ejekan teman di SD tapi rasa rendah diri segera sirna berkat dukungan kedua orangtua yang sangat menyayanginya. Alvita pun bertekad untuk mewujudkan cita-citanya menjadi seorang dokter dan juga penulis.
”Jika seseorang sukses dengan segala kelebihan, kepintaran dan kekayaan itu biasa tetapi bila seseorang sukses dengan segala kekurangan , kelemahan bahkan kesederhanaan itu baru dinamakan luar biasa,” begitu mereka berkata untuk menguatkan Alvita.
Semuanya kelihatan baik-baik saja sampai ia menginjak usia 16 tahun. Ia merasakan nyeri pada kaki kiri akibat jatuh dan terkilir. Rasa sakit tak kunjung hilang hingga hampir setahun lamanya. Bahkan nyeri itu kian menghebat, kaki membengkak, kulit kemerahan dan terasa panas.
Ternyata Alvita didiagnosa menderita kanker yang disebut Limfoma non Hodgkins stadium 3.
“Kanker pertama merupakan misteri tapi kanker kedua merupakan bencana buat saya,” kata Alvita dengan berurai air mata.
Orangtua Alvita lalu membawanya ke Singapura untuk mencari second opinion. Berbagai pemeriksaan menghasilkan berbagai diagnosa yang berbeda. Melalui operasi tulang, muncul dugaan bahwa ia menderita primitive neuroectodermal tumour (PNET) stadium 3 meskipun dokter tak yakin sepenuhnya.
Di tengah pergulatan emosi yang sempat membuat ia marah pada Tuhan, Alvita menjalani kemoterapi sebanyak 6 kali di Singapura. Efek sampingan dari kemoterapi segera tampak. Timbul rasa nyeri, mual, lemah dan rambut berguguran.
Dalam penderitaan itu Alvita mendapatkan semangat hidupnya kembali melalui sapaan dengan seorang ibu yang sangat tegar meskipun anak perempuannya yang berusia 3 tahun terkena kanker otak. “Gadis kecil, jangan bersedih, Tuhan selalu bersamamu,” katanya. “Jangan kuatir... berjuanglah!”
Saat ia tengah didera rasa sakit yang membuatnya berguling-guling sambil berteriak kesakitan: “Mama.. panas.. mama... sakit...”, tiba-tiba seorang perempuan datang, memeluk dan mendoakannya. Ia juga membawa biji-bijian (barley) yang kemudian direbus dan airnya diminum Alvita.
“Entah kenapa tiba-tiba saya menjadi tenang. Kemudian saya meminum obat rebusan dan menjadi tertidur,” kata Alvita.
Sampai sekarang ia tak pernah melihat kedua perempuan yang baik hati itu. Pasti mereka adalah malaikat, ya?
Setelah kemoterapi, Alvita juga harus menjalani radioterapi sebanyak 30 kali di Jakarta dan 40 kali di Semarang.
Bagaiman keadaannya sekarang?
Alvita yang nama lengkapnya adalah Alvita Dewi Siswoyo sudah berhasil menjadi dokter dan kini sedang mengambil program pendidikan dokter spesialis.
Ia juga tengah menyelesaikan bukunya yang pertama. Judulnya Aku Mau Sembuh.
Berikut cuplikan buku Alvita yang menolak disebut sebagai korban kanker.
”Saya adalah seorang pejuang kanker! Ada banyak hikmah kehidupan yang saya dapatkan ketika saya berjuang melawan kanker. Pada saat saya mendekati kematianlah, saya baru dapat lebih mengerti dan mensyukuri tentang arti kehidupan. Hidup bukanlah untuk menjalani hari tapi hidup untuk memberi arti. Belajarlah menghargai dan mensyukuri hal-hal kecil (termasuk orang-orang disekeliling) dalam hidup Anda karena disitulah terpendam harta karun kebahagiaan Anda,” katanya.
”Kebahagiaan bukanlah ditentukan oleh keadaan, tetapi merupakan suatu pilihan. Pilihan kita untuk menjadi seorang ’korban’ dari keadaan dengan selalu mengasihani diri kita atau kita memilih menjadi seorang ‘pejuang’ melawan keadaan.
”Jangan hanya melihat suatu peristiwa dari baik- buruknya keadaannya namun petiklah hikmah dan makna yang terkandung didalamnya. Tetaplah semangat dan bergembira, nikmatilah hidup Anda seakan-akan hari ini hari terakhirmu didunia ! Dalam nasib yang paling buruk terdapat peluang terbaik bagi perubahan yang membahagiakan.”

Saturday, August 9, 2008

Nobody Happy With Cancer, Be Brave and Smart.

Satu buku bagus telah terbit. Judulnya Nobody Happy With Cancer, Be Brave and Smart.
Buku ini ditulis oleh Siti Aniroh, 31, seorang penyintas kanker yang tahun lalu menjalani kemoterapi dan mastektomi.
Meskipun judulnya berbahasa Inggris, tapi isinya ditulis dalam bahasa Indonesia dengan gaya bertutur yang santai dan mudah dicerna.
Dalam buku ini kita dapat mengikuti kisah Ani melawan kanker, mulai dari saat ia mencari dokter yang pas, saat kemoterapi dan saat pemulihan. Semuanya diungkapkan dengan jujur dan lugas. Menyentuh dan memberdayakan.
. Kita dapat merasakan betapa marah dan frustrasinya Ani saat ia menghadapi dokter yang memperlakukannya dengan kasar dan dingin tanpa rasa empati sedikitpun.
. “Saya bukan hanya merasakan sakit kepala, tapi perut saya juga mules, wajah saya terasa sangat panas karena menahan marah, dan ini yang teramat tidak masuk akal saya dengar dari mulut seorang dokter ahli kanker,” tutur Ani.
. Tujuh dokter telah dijumpainya, tapi Ani masih belum mendapatkan titik terang akan penyakit yang dideritanya. Ia baru memperoleh informasi yang jelas dan layanan medis yang tepat dari dokter ke delapan. Sayangnya, dokter ini praktiknya di Singapura.
. Pengalaman Ani merupakan cambuk bagi tenaga medis di Indonesia. Jelas bahwa Indonesia mempunyai banyak dokter yang baik, tapi di sisi lain masih perlu adanya peningkatan layanan, baik dari sisi personal maupun professional.
. Membaca buku ini, kita juga dapat merasakan keharuan ketika Ani berkisah tentang rambutnya yang gugur karena kemoterapi dalam bab berjudul “Botak tapi Keren”.
. “Banyak hal yang membuat saya menangis dan tertawa karenanya,” tulisnya.
Ia tersenyum saat anaknya yang berusia 6 tahun, Awan, berkata: “Wah… keren Bunda.”
. Tapi suatu saat Awan marah sekali setelah Ani menyambutnya tanpa penutup kepala ketika ia pulang sekolah dengan mobil jemputan.
. “Awan tidak suka Bunda botak, teman-teman di mobil mengejek dan aku malu…”
. Dengan sedih, Ani mencoba memberikan pengertian bahwa tak perlu ia risau karena teman-teman itu mengatakan demkian tanpa mengerti apa yang terjadi pada kita.
. Kesedihan Ani tak menyurutkan semangatnya dalam menghadapi semua ini. Ia tabah, berpikir positif dan memiliki rasa humor yang tinggi.
. Hal lain yang digarisbawahi oleh Ani adalah hak-hak pasien. Ia menekankan bahwa pasien kanker harus memperjuangkan hak-hak mereka, yaitu:
1. Hak atas informasi.
2. Hak memberikan persetujuan
3. Hak memilih dokter
4. Hak memilih Rumah Sakit
5. Hak atas rahasia kedokteran
6. Hak menolak pengobatan
7. Hak menolak tindakan medis tertentu
8. Hak untuk menghentikan pengobatan
9. Hak atas second opinion
10. Hak melihat rekam medis (medical report).
. Buku ini perlu dimiliki oleh pasien dan keluarganya, dokter dan semua orang yang peduli akan kanker.

Pada hari Sabtu, 16 Agustus 2008 bertempat di The Peak, Sudirman Apartment, Jl. Setiabudi Raya 9, Jakarta, akan diadakan acara Bedah Buku dengan menampilkan penulis, dr. Walta Gautama, SpB.Onk, dan Yuniko Deviana.
Yuniko adalah penyintas kanker, pendiri Cancer Information Support Center dan penulis buku I Have Cancer, It Doesn’t Have Me.
Untuk informasi harap hubungi 021 98672298, 08129926719 atau 0816822868.



English Version:

Breast cancer survivors write inspiring books

T. Sima Gunawan, The Jakarta Post, Jakarta

Nobody Happy With Cancer, Be Brave and Smart
Siti Aniroh
PT Awan Tisani
2008

I Have Cancer It Doesn't Have Me
Inspirasi yang membangkitkan Daya Hidup
R. Yuniko Deviana
Penerbit Obor
2007

Books on breast cancer written by local authors are hard to find despite the fact breast cancer is a real problem facing millions of women all over the world, including many in Indonesia.

One of these rare books, Nobody Happy with Cancer, Be Brave and Smart, has just been launched and is available in bookstores. The 32-year-old author, Siti Aniroh, underwent chemotherapy and a mastectomy in 2007.

Ani, as she is fondly called, writes about her experiences with courage, right from the first moment when she found a lump in her left breast. She tells her touching and empowering story with clarity and honesty.

We feel how frustrated and distressed Ani became when she met a cold-blooded oncologist who treated her rudely.

Instead of responding to her questions about her disease, the doctor denigrated her, saying a housewife like her was not supposed to ask critical questions

"Not only did I have a headache, I also had butterflies in my stomach. My face became hot because I was holding back my anger; it was unthinkable such words could come out of an oncologist's mouth," said Ani.

Ani is a housewife. She also used to work as a lawyer before she resigned and becomes active as a cancer volunteer.

After seeing seven doctors, she still did not really know what the matter was. With her eighth doctor's visit, she finally got clear information and the right treatment.

Unfortunately, the doctor practices in Singapore.

Reading Ani's account, we empathize when she relates how her hair falls out from the chemotherapy in the chapter "Bald but Cool".

"So many things made me cry and laugh," said the author, who has never lost her great sense of humor.

She laughed when her six-year-old son commented on her bald head, "Wow, that's cool, Mom".

But one day her son got mad at her after some of his friends saw her without any head covering.

"I don't like your bald head. My friends made fun of me and I was embarrassed."

Ani tried to make him understand he should not have been upset because his friends did not know what happened to her.

The difficulties did not discourage her fighting spirit. She remains strong and persists with her efforts to lead a healthy and positive life.

Losing hair is one of the negative side effects of chemotherapy because the drugs kill not only cancer cells but also healthy cells. Other side effects include nausea, mouth ulcers, fatigue, diarrhea, and increased perspiration.

In Ani's case, she felt extreme pain in her bones, especially her molars, and general body aches which made her groan and cry. Somehow she managed to cope with the torturing pain.

Ani does not mention in her book that different people may react differently to chemotherapy. This writer is also a cancer survivor who dealt with hair loss and mouth ulcers but continued to work and even drove to the hospital for the regular chemotherapy treatments.

This account gives no scientific explanation about cancer. It is purely about a cancer survivor's experiences. In telling how she struggled against the disease, Ani underlines the importance of patients knowing their rights. Those rights include the right to clear information, the right to choose the best doctor, the right to ask for a second opinion and the right to reject medical treatment.

Ani is the second cancer survivor in Indonesia to have written a book about it. Yuniko Deviana is the author of I Have Cancer, It Doesn't Have Me and the founder of the Cancer Information and Support Center. Aniroh has followed in her step, taking an active part in the organization as well.

Even though both books have titles in English, they were written in plain Indonesian, in the first person to be easy to understand.

Like Ani's story, Yuniko's is also informative and inspiring. Diagnosed with breast cancer in 2002, Yuniko offers many useful, practical tips every cancer patient needs to know.

The book gives answer to many questions like "Why me?" and "Can I be cured?"

She opens her book with: "'How happy are those people who are healthy. Not like us.' I often hear my cancer survivor friends saying this to themselves."

Her experiences as a cancer survivor who is constantly helping others with the disease makes her understand how they feel and what they need.

"Learn to accept cancer as something ordinary, not to reduce the seriousness of the treatment but to prevent ourselves from overreacting," she said.

Both of these books can help cancer patients, their families and friends as well as doctors and others who care about cancer.

http://old.thejakartapost.com/detailfeatures.asp?fileid=20080831.H14&irec=14



Monday, May 19, 2008

I Have Cancer It doesn’t Have Me…

Itu adalah judul buku karangan R. Yuniko Deviana yang ditulis dalam bahasa Indonesia. Bukunya kecil, berukuran 11x17,5 cm, setebal 120 halaman (termasuk sampul). Tapi kecil-kecil cabe rawit… Baguuuuus banget.
Beneran, isinya bagus semua, dari halaman pertama sampai halaman terakhir.
Banyak informasi serta tips yang sangat berguna. Semuanya ditulis dengan bahasa yang sederhana dan tidak bertele-tele.
“Enak ya, orang-orang yang sehat itu. Tidak seperti kita.” Saya beberapa kali mendengar gumaman dan ucapan dari teman sesama penderita dan mantan penderita kanker yang diucapkan dengan lirih dan sangat menyentuh perasaan seperti itu.
Bagaimana kita tidak tertarik untuk membaca lebih lanjut kalau Yuniko mengawali bukunya seperti itu.
Pengalaman Yuniko sebagai seorang penyintas kanker (cancer survivor) yang banyak berinteraksi dengan orang lain yang hidup dengan kanker adalah kekuatan buku ini. Yuniko tak berteori muluk-muluk, ia berkisah apa adanya.
Buku ini memberikan jawaban atas banyak keluhan dan pertanyaan yang berkecamuk dalam pikiran pasien penderita kanker seperti “Kenapa saya yang kena?” hingga “Mungkinkah aku sembuh?”
Inti buku ini tertulis dalam sampulnya: Kisah, Refleksi, dan Harapan Penderita Kanker. Inspirasi yang Membangkitkan Daya Hidup.
Berikut adalah petikan dari salah satu tips bagi yang sudah terkena kanker:
Belajarlah menerima penyakit kanker sebagai sesuatu yang biasa saja. Tidak untuk mengurangi kadar keseriusan mengobatinya, tetapi lebih pada upaya untuk membuat kita tidak bereaksi berlebihan.
Yuniko, 45, mengetahui bahwa ia terkena kanker payudara tahun 2002. Ia menjalani operasi mastektomi, dan kemoterapi. Optimisme membuat ia dapat menjalani hidup dengan produktif dan kembali aktif dalam pelatihan manajemen, mengajar dari satu kota ke kota lain. Ia adalah salah seorang pendiri CISC (Cancer Information & Support Center).
Jarang sekali ada buku asli terbitan dalam negeri yang mengupas tentang kanker, apalagi dalam bahasa yang membumi. Ini adalah buku langka yang berharga.
Buku kecil yang dahsyat ini pertama kali diterbitkan bulan April 2007 dengan harga jual Rp 18.500 dan dicetak ulang November 2007 oleh penerbit Obor.
Tersedia di Toko Buku Obor, Jl. Gunung Sahari 91 – Jakarta 10610. Telp. (021) 422 2369, Fax. (021) 421 9054, email: penerbit@obormedia.com.
Alamat CSIS adalah: Komp. Permata Kebon Jeruk D-2, Jl. Kebon Jeruk Raya 9, Jakarta 11530, Telp. 532 8149, Fax. 021-532 8150.

Tuesday, April 29, 2008

Langka, buku tentang kanker payudara

Jalan-jalan ke shopping mall memang enak. Di sana kita bisa bersantai. Tak harus belanja barang-barang bermerek yang harganya kurang terjangkau, tapi boleh sekedar duduk-duduk di café menyantap makanan lezat (tapi kebanyakan kurang sehat) dan minum kopi atau jus (kalau mau sehat). Atau cuci mata melirik gaya anak-anak muda berparas menawan dengan dandanan yang trendy.
Orang lebih suka ke mal daripada ke taman. Kayaknya sih nggak ada taman yang menarik, nyaman dan aman untuk dikunjungi. Taman Monas? Hmm.. Rasanya kok nggak kepingin ke sana biarpun sudah ada kiriman rusa tutul yang diimpor dari Istana Bogor. Taman Suropati? Tempatnya memang teduh, aman, karena dekat rumah dinas Gubernur DKI, Wapres dan Dubes AS, tapi nggak bisa cuci mata ya? Taman Lawang? Hehehe.. Itu sih lain lagi... tempat para waria beroperasi di malam hari.
Intronya kepanjangan nih. Singkat cerita, beberapa waktu yang lalu ke Pondok Indah Mall di Jakarta Selatan. Tujuan utamanya: ke Toko Buku Gramedia. Ternyata nggak mudah mencari buku tentang kanker payudara, khususnya karya penulis lokal. Hanya ada satu buku, itupun jurnal ilmiah terbitan universitas. Selain itu ada juga buku yang membahas kanker secara umum, ditulis oleh seorang dokter.
Untung ada buku terjemahan, judulnya Kanker Payudara, Diagnosis dan Solusinya, terbitan Prestasi Pustaka, Jakarta. Buku dengan jumlah halaman persis sama seperti merek rokok 234 ini ditulis oleh Jackie Lincoln-Wilensky, ahli bedah plastik dan internis dari Ohio General Hospital. (Tapi aku tidak berhasil mencari informasi melalui Internet tentang buku ini maupun tentang penulisnya).
Aku beli buku seharga Rp 35.000 itu dan mendapatkan diskon 10 persen dengan menunjukkan kartu karyawan (biar cuma karyawan kontrakan) karena salah satu pemegang saham perusaaan tempatku bekerja kebetulan adalah pemilik toko buku Gramedia.
Sampul buku yang didominasi warna merah muda ini dihiasi foto perempuan berambut pirang yang tengah memeriksa payudaranya dan sekuntum bunga raksasa. Terus terang saja aku kurang suka dengan gambar itu yang kesannya terlalu “memaksa”, tapi isi buku ini bagus, informatif dan dapat dibaca oleh orang awam.
Aku pernah punya buku terjemahan Living with Cancer, dengan kata pengantar dari Olivia Newton-John, penyanyi dan penyintas kanker payudara. Buku ini bagus sekali, tapi sayang, hilang.

Selain itu ada foto-kopian buku Food & Cancer terbitan Cancer Care, Penang, pemberian temanku Amorita, serta buku terjemahan berjudul Kiat Mencegah Kanker Payudara Dengan Menyeleksi Jenis-jenis Makanan dan Mengatur Pola Makan yang Aman, karya Elaine Magee.

Kemarin baru saja aku menerima kiriman buku dari Lenah, teman yang tinggal di London. Buku yang menarik ini berjudul Take Off Your Party Dress, When Life’s Too Busy for Breast Cancer, karya Dina Rabinovitch, kolumnis Guardian yang juga penyintas kanker payudara.
Oh ya, ada juga buku yang direkomendasikan oleh Titah dari Rumah Kanker di Surabaya dan Rini, Cancer Survivor from Lumpia City. Melawan Kanker karya Anne E. Frahm & David J. Frahm, yang dapat dibaca di http://www.geocities.com/melawankanker/melawankanker/index.html. Anne ini vegetarian, tapi masih minum kopi lho. J
Kalau di luar negeri sih memang banyak sekali buku tentang kanker payudara. Tapi kenapa ya sulit mendapatkannya di sini.
Penasaran, aku klik www.gramedia.com untuk mencari buku tentang kanker. Muncul dua buku: Hidangan Sehat Untuk Mencegah Kanker yang ditulis oleh ahli gizi Tuti Soenardi, dan Dokter, Tolong.. Saya Kena Kanker, karya Dr. Ang Peng Tiam, dokter dari Mt. Elizabeth Hospital di Singapura, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.
Karena gramedia.com hanya menyediakan buku terbitan Gramedia, aku coba klik inibuku.com. Hanya muncul tiga buku: Zikir Menyembuhkan Kankerku, oleh Prof. Dr. Amin Syukur MA., Dokter, Tolong…Saya Kena Kanker dan Mengenal Seluk-beluk Kanker, karya dr Rama Dianandra (sama seperti yang tersedia di TB Gramedia PIM).
Sebetulnya aku punya niatan ingin menulis buku. Belum kesampaian, tapi paling tidak sudah mulai dirintis melalui blog ini. Intinya sih aku mau bilang kalau kena kanker bukan berarti akhir dari segalanya. Eh, tapi kalo bikin buku, nggak bisa dong pakai gambar lucu-lucu yang selama ini dicomot dari Internet. (Aduh, ampun, ngaku salah... hiks hiks... Eh kayak beneran aja mau bikin buku. Emangnya gampang...? Belum lagi risetnya..!)