Sunday, November 27, 2011

Badai belum berlalu





Pernah dengar soal kunyit putih? Pernah dong, ya? Sudah lama juga aku mendengar bahwa kunyit putih bisa menangkal kanker. Dulu, tahun 2004, waktu baru didiagnosa terkena kanker, aku juga pernah mencobanya, tapi nggak serius.



Belakangan ini aku banyak menerima pesan, baik melalui surel maupun BBM, mengenai resep anti kanker yang mengandung kunyit putih.


Begini bunyinya:



OBAT HERBAL UNTUK PENDERITA KANKER



Ada obat herbal kanker dari 3 orang penderita yg sdh berhasil sembuh (2 orang Kanker payudara yg sdh menyebar, kanker tulang sdh stadium 4 dan tdk bisa bangun sekarang sdh jalan). Jika ada anggota keluarga atau kenalan yg kena kanker dan sdh buntu jalan penyembuhan, tdk punya dana, sebaiknya pakai resep ini. Ibu Carla yg sdh mulai disembuhkan yg menyebarkan resep ini & dia berkata, sering saya lihat orang CA meninggal bukan karena kankernya tapi karena effek samping kemo yg sangat keras membuat kondisi pasien menjadi tambah lemah setiap kali sehabis kemo. Sering yg sdh sembuh tulangnya menjadi osteoporosis atau rapuh (termasuk gigi) karena kerasnya radiasi/penyinaran juga obat2an kemo.
Bahan2 :
1. 150 gr Kunyit Putih
2. 150 gr Kunyit Biasa
3. 250 gr Biang Kunyit
4. 25 gr Jahe Merah
5. 100gr Jahe
6. 125gr Temu Ireng
7. 125gr Temu Putih
8. 2-3bh Pinang Muda (hijau)
9. 15-21lbr daun sirih (jumlah tergantung besar kecil daun sirih)
10. 30 gr Asem Jawa
11 Gula Batu (sesuai selera)
Cara membuatnya:
1) Bersihkan, sikat, cuci, lalu dikeprek bahan2 segarnya
2) Rebus dgn 3.5L air dalam panci khusus utk masak jamu/obat cina/enamel
3) Sampai tinggal 2L air
4) Diminum pagi - siang - malam seperti jamu/air biasa, 2L jatah minum utk 2 hari
simpan d kulkas
5) Kalau pancinya kecil boleh direbus dgn 2 L air sampai 1 L utk 2 x rebus
Selamat Mencoba, tolong disebar bagi para penderita semoga banyak orang bisa disembuhkan...


Kebetulan aku bernasib sama seperti yang digambarkan di atas. Kanker payudara stadium 4 dengan penyebaran ke tulang dan sudah nggak bisa jalan. Karena kemiripan itu, aku jadi tertarik untuk mencobanya.


Kalo kunyit biasa, jahe dan asem Jawa sih gampang, di tukang sayur ada. Gula batu juga bisa dibeli di supermarket. Tapi kemana aku harus mencari bahan2 yang lain?


Kemana…. Kemana… kemana…. Kayak lagu Ayu Ting Ting yang cakep itu .. hehehehee…



“Di sekitar sini nggak ada yang jual. Lu mesti ke Senen atau Jatinegara,” kata teman yang tinggal tak jauh dari rumahku di kawasan Bintaro.


Waduh, repotnya. Eh, tapi ternyata ada saja jalan… Temanku yang lain berbaik hati mencarikan bahan2 itu dan mengantarnya ke rumah.



Siiiip. Hari Rabu minggu lalu si mbak membuat jamu sesuai petunjuk. Lalu aku coba minum segelas.



Hoeeekk.. hoeeekk… Aduuh mak, pahitnya luar biasa… Aku mau muntah. Dengan susah payah aku coba habiskan segelas, tapi nggak berhasil. Masih sisa sedikit. Aku sudah nggak tahan, mataku sampai basah oleh air mata karena menahan sejuta rasa.


Segelas saja nggak sanggup, apalagi 1 liter seperti yang tertulis dalam resep!



Malam hari aku coba minum lagi, tapi malah tambah parah. Baru terkena mulut, sudah mau muntah. Yaaahhh, aku menyerah…



Apalagi aku sedang mengalami kesulitan dalam mengunyah/menelan. Jadi kalau minum harus sedikit2. Kalo kopi sih enak diminum dikit2 sambil dinikmati. Lha kalo jamu, weleh2… mana tahan.



Ngomong2 soal kesulitan dalam mengunyah/menelan, problem ini muncul belum lama. Tepatnya pada 22 November 2011. Sejak hari itu aku harus berhati2 kalau makan/minum. Harus pelan2 dan dikit2. Lidahku tidak dapat bergerak bebas, terutama ke arah kiri. Jadi aku mengunyah dengan gigi/rahang kanan saja.



Ketika aku tanyakan ke bu dokter onkologi, jawabannya mengejutkan. Otot/syaraf melemah karena diduga ada “penjalaran ke kepala” dan aku dianjurkan konsultasi ke ahli syaraf. Hiiiiiii suereeeeem.



Meskipun khawatir, tapi aku mencoba bersikap tenang….



Kebetulan ketika itu aku juga tengah menjalani terapi pijat refleksi. Memang sih, kemungkinannya kecil bahwa pijat refleksi dapat membuatku berjalan kembali. Tapi ya tak ada salahnya dicoba setelah temanku bercerita bahwa saudaranya yang kena stroke dan lumpuh bisa berjalan kembali setelah menjalani terapi itu.


Si mas tukang pijat tidak menjanjikan kesembuhan, tapi akan berusaha.



“Terapi harus dilakukan setiap hari karena kondisi sudah parah. Kalau dalam 2 atau 3 minggu tak ada perubahan, maka terapi akan dihentikan,” katanya.


Tentang syaraf di rahang yang melemah, ia mengatakan bahwa itu dapat dicoba dipulihkan melalui pijat refleksi.



Yang pernah menjalani terapi pijat ini pasti merasakan kesakitan ketika telapak kaki dipijat. Tetapi aku tidak merasa apa2, karena kakiku memang mati rasa. Terapi sudah berjalan sekitar 10 hari ketika hari Sabtu kemarin si mas pemijat berhalangan datang. Seharusnya ia datang jam 4, tapi beberapa menit setelah jam 4 ia mengirim SMS yang mengatakan bahwa ia tak dapat datang karena ada resepsi.


“Resepsi kok mendadak, seharusnya kan dia memberitahu pagi2 supaya nggak ditunggu2,” komentar si mbak yang merawatku.



Bener juga, kok si mas pijit ini nggak serius ya? Aku juga ingat komentar bu dokter yang mengatakan bahwa pijat refleksi tidak bisa memulihkan syaraf yang lemah akibat penekanan tumor. Akhirnya, aku mengambil keputusan yang kejam…, kusudahi saja terapi pijat ini…


Hmm.. ternyata aku ini orangnya nggak tekun ya. Minum jamu baru sekali sudah berhenti. Terapi pijat refleksi belum 2 minggu sudah berhenti… Habis, bagaimana…



Aku ingat, dua atau tiga tahun yang lalu syaraf kakiku melemah sehingga aku pincang selama sekitar setahun. Kondisi itu pulih setelah dokter syaraf memberiku suntikan neurobion dan vitamin2.



Lalu aku telepon pak dokter itu. Siapa tahu, dia bisa membantu dengan cara yang sama.



“Nggak bisa, ini kasusnya lain,” katanya.


Waduh. Gimana nih. Aku jadi tambah pusing. Belakangan ini kepalaku memang suka pusing. Aku menduga, ini karena posisi saat tidur yang kurang nyaman. Tapi bisa juga kepala pusing karena penjalaran tumor.



Kenapa ya, kok aku ini nggak sembuh2, malah tambah memburuk. Untunglah, Tuhan selalu memberiku kekuatan dan penghiburan. Haleluya …!! Selain itu dukungan teman2 dan sodara2 juga banyak membantu mengobarkan semangat ’45. Ayo.. maju terus pantang mundur… jangan kalah sama atlet SEAGames…



Minggu depan aku akan menjalani pemeriksaan. Tadinya aku merencanakan untuk bonescan saja. Tapi dengan adanya perkembangan terakhir ini, dokter menganjurkan PET scan atau paling tidak MRI kepala.



Hasilnya akan digunakan sebagai rujukan untuk melawan si kanker busuk yang nggak tau diri ini. Sudah diusir2…eeeh.. masiiih saja nggak mau pergi..


Doakan ya, supaya hasilnya bagus…

Monday, October 31, 2011

Kanker dalam Kabinet SBY

Dugaan sebagian orang bahwa Menkes Endang Rahayu Sedyaningsih bakal diganti dalam perombakan kabinet SBY ternyata keliru.

Bu Menkes yang kinerjanya dianggap terganggu akibat kanker paru-paru yang dideritanya ternyata tetap aktif bekerja keras dan jabatannya diperpanjang. Memang ada perubahan dalam kementerian itu. SBY memberi hadiah bu Menkes seorang wakil menteri. Bukan ia saja yang kini punya wakil. Ada 19 wakil menteri yang dilantik SBY tgl. 20 Oktober 2011 sehingga kabinet ini didiagnosa menderita obesitas.


Pengangkatan wakil menteri baru belum tentu dapat meningkatkan kinerja kementerian ybs, tapi sudah pasti membebani negara dari sisi keuangan. Jelas dong, negara harus membayar bukan saja gaji para pejabat tinggi itu tapi juga staf mereka. Belum lagi berbagai fasilitas yang harus disediakan untuk mereka. Siapa yang membiayai kalau bukan negara? Dari mana negara mendapatkan uang kalau bukan dari rakyat....?


Terlepas dari itu semua, ada juga yang menarik. Dahlan Iskan, bos group Jawa Pos yang menjadi Dirut PLN sejak akhir 2009 adalah Menteri Badan Usaha Milik Negara yang baru. Menariknya bukan karena ia dulunya wartawan, tetapi karena ia pernah menderita kanker hati stadium lanjut.


Empat tahun yang lalu ia menjalani operasi transplantasi hati di Tianjin First Center Hospital di Cina. Ia harus dibius selama 18 jam dan untunglah, semuanya berjalan lancar. Operasi sukses dan kesehatan Dahlan berangsur membaik.


”Sekarang saya sehari harus rutin minum obat 2 kali, jam 5 pagi dan 5 sore. 2 jam sebelumnya dan 1 jam sebelumnya tidak boleh makan apapun kecuali air putih," jelas Dahlan seperti dikutip detik.com bulan Juli 2011.


Selain minum obat seumur hidup, Dahlan juga rutin melakukan pemeriksaan darah setiap dua minggu. Selain itu setiap 10 hari ia juga harus melakukan imunisasi agar temperatur hati tetap normal.


Salut. Dahlan berhasil mengalahkan kanker dan bahkan mengukir prestasi dalam pekerjaanya.


Bu Menkes juga tampak terus aktif seolah tak terganggu oleh penyakitnya. Ia tampil segar dalam acara memperingati Hari Stroke Sedunia di Bunderan HI, 29 Oktober 2011.


Kanker memang kejam dan mematikan. Tapi pengobatan yang tepat, olah raga teratur, diet yang baik dan doa yang tulus dapat menghambat pertumbuhannya dan bahkan membuat kanker keok.


Tuesday, October 11, 2011

Yang Heboh di Bulan Istimewa

Bulan ini bulan istimewa karena merupakan Bulan Peduli Kanker Payudara atau Breast Cancer Awareness Month yang diperingati di seluruh dunia.




Eh, bener nggak sih seluruh dunia memperingatinya? Jangankan seluruh dunia, coba lihat di sekitar kita. Apa ada acara terkait dengan topik itu?


Memang belum banyak orang yang mengetahuinya, misalnya dibandingkan dengan Hari Aids Sedunia yang diperingati setiap tanggal 1 Desember. Tahun lalu, dalam rangka meningkatkan kepedulian akan kanker payudara ada jalan santai yang meriah di Jakarta. Tahun ini ada apa ya? Biasanya sih paling tidak ada seminar-seminar untuk meningkatkan kesadaran akan kanker payudara. Tapi belum ada info yang tersebar luas mengenai acara yang bakal digelar atau mungkin sudah dilaksanakan di sini.


Kalau di luar negeri sih sudah heboh... Selain jalan santai atau lari gembira, banyak bazaar serta acara asyik yang menyedot perhatian banyak orang. Misalnya, ada pemutaran 5 film pendek yang berkisah tentang kanker payudara melalui komedi dan drama. Film yang disiarkan oleh stasiun televisi Lifetime di Amrik hari Senin kemarin ini ditangani oleh artis terkenal Jennifer Aniston sebagai produser eksekutif sedangkan sutradaranya adalah Jennifer serta Demi Moore, Alicia Keys, Patty Jenkins dan Penelope Sheeris.


Bulan ini petugas pemadam kebakaran di Port Huron dan Marysville, Michigan, mengenakan kaos merah jambu di balik seragam mereka. Kaos itu juga dijual dalam usaha untuk menggalang dana.


Di Inggris, tepatnya di Lexington, ada acara Think Pink Cele-bra-tion yang bakal digelar tgl. 13 Oktober 2011. Paling sedikit 15 kutang unik berseni dipamerkan melalui fashion show dan akan dilelang.


Seorang penyintas kanker (cancer survivor) Linda Maloley menampilkan dua bra yang dibuat dengan inspirasi pengalaman pribadinya.


Ia sendiri sudah didiagnosa menderita kanker tiga kali.


”Nakutin deh, tapi hal terbaik yang dapat kita lakukan adalah mengobatinya dengan cara yang tepat,” katanya.


Ia menciptakan ”Flat Busted”, bra berbentuk dompet dengan cek dan tagihan yang menyembul keluar, sebagai refleksi keprihatinannya atas biaya yang harus ditanggung penderita kanker.


Karyanya yang lain adalah ”Support Bra” yang dibuat sebagai ungkapan rasa terima kasih atas dukungan yang diterimanya ketika berjuang mengatasi kanker payudara untuk kedua kalinya. Bra itu terbuat dari bunga-bungaan dan dedaunan. Setiap helai bunga ditempeli foto atau initial orang yang telah membantunya.


Sementara itu di kota Kingston yang terletak di Pennsylvania, Amrik, hari Sabtu minggu lalu ada iring-iringan unik yang diikuti sekitar 300 orang dan ribuan bra. Mereka berjalan sambil membawa bra yang diikatkan satu sama lain, melewati jembatan di kota itu dalam acara yang disebut Bra Across the Bridge.


Bra juga digunakan sebagai media dalam kampanye peningkatan kesadaran dan kepedulian atas kanker payudara di Savannah, Georgia. Rencananya rangkaian bra akan digantungkan di berbagai perempatan utama di kota itu. Tapi acara itu terancam batal karena pemerintah kota keberatan karena menganggapnya Herselera rendah dan nggak pantas diadakan di tempat umum, seperti yang diberitakan oleh Savannah Morning News.


Memang bra merupakan barang yang mengundang perhatian publik. Di Indonesia sendiri pernah ada pameran bra, tapi tidak ada hubungannya dengan kanker payudara.


Bagaimana kalau dalam rangka Bulan Peduli Kanker Payudara diadakan arak-arakan dengan peserta membawa bambu runcing yang ujungnya diikat dengan bra?


Atau bayangkan betapa hebohnya kalau ada acara pengibaran bra di Monas. Pasti seru sekali... Hanya saja mesti siap2 diprotes MUI, FPI dan Satpol PP....

Friday, September 23, 2011

Ketika Kanker Mengusik Karir

Menteri Kesehatan Endang Sedyaningsih terancam bakal diganti karena kinerjanya terganggu akibat kanker yang dideritanya.

Ia merupakan satu dari 10 menteri bermasalah yang disebut-sebut akan terkena perombakan kabinet bulan Oktober 2011.

Menurut Lingkaran Survei Indonesia, mereka memicu anjloknya tingkat kepercayaan publik terhadap pemerintahan SBY-Boediono. Selain Endang, Menteri BUMN Mustafa Abubakar juga dianggap kurang bagus kinerjanya karena sakit jantung.

Menteri lainnya adalah Menteri Hukum dan HAM Patrialis Akbar yang menuai kontroversi gara2 memberi remisi untuk koruptor.

Tapi yang lebih parah adalah skandal suap wisma atlet yang menyeret Menteri Pemuda Olahraga, Andi Mallarangeng, dan suap Kemenakertrans yang melibatkan Muhaimin Iskandar. Selain itu dugaan krisis moral melekat pada Menteri Perumahan Rakyat Suharso Monoarfa, Menteri Perhubungan Freddy Numberi,dan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Darwin
Zahedy Saleh.


Sedangkan yang dianggap memiliki kinerja terburuk adalah Menteri Pertanian Suswono yang gagal mengendalikan harga beras dan Menteri Agama Suryadharma Ali yang tak becus mengatasi soal aksi kekerasan atas nama agama.

Seberapa buruk sih kesehatan Bu Menkes sehingga kinerjanya merosot? Entahlah, yang jelas ia masih tampak sehat dan sibuk beraktivitas.

Ia terdeteksi terkena kanker paru2 melalui pemeriksaan pada bulan Oktober 2010, setahun setelah dilantik menjadi menkes. Berita itu sendiri tersebar ke masyarakat luas di awal 2011 dan konon kabarnya kankernya sudah mencapai tingkat lanjut.

“Sekarang ini orang memandang kanker seperti vonis (mati). Padahal, kanker itu sama seperti penyakit lainnya. Jadi, tergantung kita bagaimana menyikapi penyakit ini,” kata Endang dalam jumpa pers yang digelar terkait dengan merebaknya kabar buruk itu.

Meskipun demikian, doktor lulusan Harvard School of Public Health yang berobat hingga ke Guangzhou, China, ini masih bersyukur.

“Semua saya syukuri. Tentu saja bukan hanya mensyukuri saat nikmat saja, lalu selesai. Ketika dikasih penyakit, saya juga terima,” kataya.

Dalam kesempatan itu ia juga mengatakan bahwa kegiatannya tak terganggu.

Emang orang yang terkena kanker bisa tetap aktif bekerja?

Ya, tergantung…. Tergantung pada gantungannya. Seberapa parah penyakitnya dan seberapa besar semangat pasien serta dukungan keluarga dan lingkungannya.

Kalau penyakitnya sudah sembuh, tentu tak ada masalah.

Biarpun katanya belum ada obat kanker yang betul2 ampuh, nyatanya ada lho yang bisa sembuh. Contoh klasik adalah Rima Melati, mantan artis penderita kanker payudara yang sekarang menjadi pengusaha bristo bersama suaminya Frans Tumbuan. Contoh lain adalah ibuku yang sukses mengalahkan kanker rahim. Ia sekarang umurnya 83 tahun dan masih kelihatan sehat.

Sayangnya tidak semua pasien berhasil mengusir si kanker busuk. Nenek dari pihak ayah meninggal karena kanker payudara yang kemudian menyebar ke tulang. Adik perempuan ayah meninggal karena kanker usus. Adik lelaki ayah yang sekarang berusia 70-an tahun terkena kanker otak yang mulai menyerangnya sekitar 20 th yll. Secara fisik, ia tampak sehat tetapi sejak lama sudah pikun dan penglihatannya agak terganggu.

Bagaimana denganku sendiri? Jreng jreng jreng …. (mestinya pake musik nih, biar keren seperti sinetron).

Aku terdeteksi menderita kanker payudara beberapa hari setelah lebaran di akhir bulan
November 2004. Setelah menjalani mastektomi alias pengangkatan payudara kanan dan kemoterapi, pemeriksaan menunjukkan bahwa aku sudah “bersih” alias tak tampak adanya sel2 kanker di payudara.

Tapi bukan berarti aku betul2 sembuh. Pada bulan April 2007, diketahui bahwa kanker muncul kembali dan kali ini menyerang tulang. Genderang perang pun kembali ditabuh dan perlawanan sengit berlangsung untuk mengalahkan si kanker busuk.

Meskipun kanker masih banyak bercokol di tulangku, termasuk tulang iga, tulang punggung, tulang punggung, tulang pundak, tulang panggul dll, aku masih dapat beraktivitas seperti biasa. Masih bisa ngantor dan mengerjakan tugas dengan baik, Hanya saja kegiatan fisik memang agak terganggu karena dokter wanti-wanti agar aku tak mengangkat barang yang berat2 dan lari marathon….

Perubahan drastis terjadi pada pertengahan bulan April 2011. Kakiku tiba2 saja tak dapat digerakkan. Hari Kamis pagi masih terasa normal, Sabtu masih bisa berjalan terseok-seok, Minggu sudah lumpuh total!!! Operasi yang dilakukan di RS Dharmais pada hari Selasa tak dapat memulihkan kondisiku. Hiks hiks hiks..

Sebetulnya sebulan sebelumnya sudah ada tanda2 buruk. Dadaku pernah terasa sakit sekali ketika aku berjalan, tetapi sakit itu kemudian hilang. Punggungku juga sakit jika duduk lama tanpa sandaran atau sandaran kursinya keras. Hal itu dapat diatasi dengan bersandar pada sandaran kursi yang empuk.

Tanda-tanda lain adalah rasa sakit di dada ketika aku mengambil nafas pada saat berenang. Aku
sempat rajin berenang lho… seminggu 2-3x.

Duduk di sandaran kursi empuk dan berhenti berenang merupakan solusi instan yang semu. Seandainya waktu itu aku langsung ke dokter, mungkin kondisiku sekarang bisa lebih baik. Tapi ah, tak ada gunanya menyesalinya. Nasi sudah menjadi bubur. Mendingan sekarang buburnya dibumbui, dikasih garam, kecap, ayam, tungcai, bawang goreng,…hmmmmm lezaatttt…

Lho, kok malah jadi ngomongin bubur ayam.. bikin laper aja nih…Ya sudah, ayo kembali ke laptop… eh ke cerita uamanya.
Kendati lumpuh, badan bagian atas, dari dada sampai kepala, masih oke. Jadi sebetulnya aku masih bisa bekerja di rumah.
Ngomong2 soal kerjaan. Dulu…. begitu lulus dari Jurusan Sastra Inggris UGM, aku langsung meniti karir di kantor tempatku bekerja saat ini. Tahun 2003, setelah bekerja selama hampir 19 tahun di tempat yang sama, aku mulai jenuh. Maka aku mengundurkan diri sebagai karyawan tetap dan memilih menjadi freelancer saja. Enak kan, nggak terikat….

Eh, setahun kemudian aku kena kanker… Yaaah… tau begitu, aku nggak jadi keluar supaya ada yang menanggung biayanya… Tapi nggak apalah, Tuhan itu baik. Rejeki ada aja. Selain menulis, aku juga mulai masuk ke dunia penerjemahan yang ternyata asyik juga. Pernah juga aku menerjemahkan tiga novel roman Harlequin, tapi capek sekali menerjemahkan buku. Rasanya kok nggak kelar2 dan honornya ga seberapa.

Eh lagi, tahun 2006 aku ditawari untuk kembali bekerja di kantor lama. Ketika itu aku sudah berpikir bahwa aku perlu penghasilan tetap untuk membeli obat. Jadi dengan senang hati aku terima tawaran itu. Tentu saja statusnya beda. Sekarang aku hanyalah karyawan kontrakan tanpa hak untuk menerima penggantian biaya kesehatan. Memang begitulah aturan mainnya untuk mereka yang bukan karyawan tetap.

Pekerjaan utamaku menuntut aku untuk datang ke kantor setiap hari. Sejak lumpuh, aku tak bisa ngantor. Tapi pihak manajeman baik lho, aku masih digaji. (Tengkiyuuu, bos).

Kontrakku akan segera berakhir. Kapan itu bos sempat mampir menjenguk dan mengatakan bahwa kontrak akan diperpanjang dengan new working arrangement sesuai dengan kapasitasku. Hal itu ada akan dibahas kemudian tapi sampai sekarang belum ada kejelasan mengenai tugas yang bakal.

Sambil menunggu pekerjaan dari kantor, aku membantu teman menerjemahkan artikel atau laporan. Bekerja itu terapi. Dengan bekerja, otak terasah dan kegiatan yang positif dan produktif itu bisa membuatku melupakan rasa pegal.

Bu Menkes pernah mengatakan bahwa ia pasrah kalau terkena perombakan dalam kabinet karena itu merupakan hak presiden. Sama bu, aku juga pasrah kalau misalnya manajemen kantor nggak memperpanjang kontrakku…

Apa pun yang terjadi, kita hadapi saja dengan positif. Jika satu pintu tertutup, masih ada pintu lain yang terbuka. Kalau semuanya tertutup, masih bisa lewat jendela. Kalau jendelanya tertutup? Lewat genteng aja… hahahhaa… atau lewat cerobong asap seperti Santa Klaus.